Mom

Whenever I felt mad to my mom, I force myself to think about ’em who had been left by their mom. That enough made me suffered, then felt guilty of being that mad to her

Advertisements

Memoar Murakami tentang Lari

Kalau ada yang mau menulis novel atau cerita dengan pemain utama seorang pelari atau perenang, buku ini aku rekomendasikan untuk dibaca. Juga, sangat cocok dibaca bagi kamu yang ingin serius menggeluti menulis –ataupun sesuatu- secara profesional. Secara non-teknis dan non-teoritis, Murakami menggambarkan derajat beda seseorang yang sekadar ingin, entah karena latah atau motivasi lain, dengan seseorang yang benar-benar serius. Berlari, baik di maraton atau triatlon, dan menulis, bagi Murakami adalah hal yang berhubungan. Tujuan utama Murakami berlari dan mempertahankan kecepatan larinya adalah untuk membangun dan mempertahankan stamina menulisnya. Baginya, berlari dan menulis adalah kembar identik yang tidak bisa dipisahkan dalam praktik kesehariannya. Keduanya berjalan beriringan dan seimbang.

The beginning is always the hardest. Seorang ahli yang dikenal dunia saat ini, pada awalnya ia tetaplah seorang pemula. Ia juga mengalami kesulitan, kesulitan, dan banyak kesulitan. Yang membedakannya dari yang sekadar ingin menjadi ahli adalah usahanya dan daya tahannya. Tekadnya benar-benar diwujudkan dengan menentukan target yang jelas (hlm. 176), membuat jadwal latihan, melakukan evaluasi secara teratur dan memperbaiki teknik (hlm. 174), hingga mencari guru agar dapat membuat peningkatan yang memuaskan (hlm. 175). Sebab Murakami sadar, baik berlari maupun menulis bukanlah sebuah keterampilan yang disandarkan pada bakat semata. Pisau akan tumpul jika tidak rutin diasah, pun dengan bakat. Atau, “Otot sulit dibentuk dan mudah hilang. Lemak mudah dibentuk dan sulit hilang,” canda Murakami (hlm. 59).

Pekerjaan Mental

Kalau kamu juga seorang penonton drama Korea sepertiku, aku mulai nonton drama awal 2016, cobalah untuk beranjak dari cerita romansanya dan memperhatikan detil nilai yang berusaha si penulis sampaikan –meski kadang tanpa sengaja. School 2015 dan Weighlifting Fairy Kim Book Joo adalah dua dari sekian drama berlatar sekolah dan olahraga yang menampilkan atlet renang sebagai tokoh utama, yang dua-duanya dibintangi Nam Joo Hyuk. Ada karakter kuat yang terbentuk, secara refleks dalam waktu yang tidak singkat, saat seseorang belajar berenang –mungkin karena itu juga Rasulullah menganjurkan renang sebagai olahraga yang diutamakan. Seseorang harus bisa mengalahkan rasa takutnya menghadapi air, takut tenggelam, takut paru-parunya kemasukan air, takut matanya pedih saking lamanya berada di dalam air, takut telinganya kebas, dan –dalam kompetisi- takut kalah dari perenang lainnya. Rasa takut jika kram tiba-tiba datang saat berenang, yang bisa membahayakan nyawanya, juga harus dilawan. Seorang perenang akan terbiasa bertindak dengan perhitungan, kapan ia akan menambah kecepatan renangnya, kapan harus mengerem kecepatan untuk menyimpan cadangan tenaga. Pada akhirnya, seorang perenang, pelari, bahkan seorang penulis, akan terlahir sebagai pribadi berkarakter kuat.

Mereka juga akan menyadari bahwa berlari, berenang, bahkan menulis bukan sekadar pekerjaan fisik dan otak, tapi juga pekerjaan mental. Bagaimana mereka akan mengatasi rasa takut, atau bosan, atau buntu dengan tulisannya. Semuanya akan terlihat dari kebiasaan latihannya. Apakah ia pelari atau perenang jarak pendek, menengah, atau jauh, hal itu akan menggambarkan daya tahan fisik, mental, dan karakternya. Sama halnya dengan penulis, apakah ia seorang penulis novel tebal atau penulis ketika sedang ingin saja. Mereka yang terbiasa melakukan sesuatu dalam durasi yang panjang cenderung berkarakter tenang dan lebih mudah menerima kekalahan (hlm. 105). “…semacam tantangan agresif yang memancar dari diri mereka. Kelihatannya mereka terbiasa menyalip dan tidak biasa disalip orang lain.”

Kehebatan dari orang-orang hebat di antara mereka yang ingin menjadi hebat adalah pengaturan waktunya. Pengaturan waktu membuat Murakami tetap fokus dengan target lari dan menulisnya. Dalam seminggu ia bisa menempuh jarak 70-100 km, baik saat berada di Jepang, Cambridge, Yunani, maupun Hawai. “Aku tidak akan berhenti hanya karena sibuk.” (hlm. 83)

Aku berterima kasih pada Murakami telah menulis memoir tentang perjalanan lari yang berkaitan erat dengan kehidupannya sebagai penulis. Dan sangat berterima kasih karena bab dalam buku ini tidak ditulisnya secara urut sehingga bisa kubaca secara acak dari belakang. Sebelumnya aku membaca dari depan dan malah menghabiskan banyak waktu karena bosan –bagian depan panjang-panjang. Qodarullah, buku ini aku selesaikan selang beberapa hari ketika ada beberapa mimpi yang kurevisi. Memperbaiki teknik dan mencari guru, juga jadi kepengin lari keliling Massachusetts.

Utusan Maut

“Aku adalah sesuatu yang tak bisa dihalangi (datangnya), tidak takut pada raja-raja manapun, tidak bisa ditahan dengan benteng setinggi apapun, dan tidak bisa disuap dengan harta seberapapun.”

Pada saat itu Nabi Daud a.s. mengerti bahwa yang mendatanginya adalah Izrail, sang malaikat maut.

Ada sebuah syair Arab mengatakan bahwa orang yang jelek atau rendah adalah orang yang tidak mau menerima peringatan (naadhir) yang datang kepadanya. Lalu, ia berpura-pura tidak tahu atas peringatan itu.

Aku ingat betul sekitar dua bulan lalu, setelah Mbah Dah –ibu dari budhe- meninggal, aku dan ibu mendaftar ulang besan dari keluarga bapak yang masih utuh. Ada satu dan memang sudah sepuh yang terkadang sakit karena usia. Pada saat itu, nyaris kami sekeluarga terkena flu yang cukup parah apalagi didukung cuaca ekstrem Indonesia belakangan. Seminggu berselang, berita duka kembali datang dari sanak keluarga. Besan dari pihak bapak yang –sebelumnya- utuh itu telah berpulang pula. Besan di Solo juga tiada tak lama kemudian. Laa haula walaa quwwata illa billah.

Masih dalam jarak dua bulan ini ayah seorang kawan juga berpulang tanpa tanda-tanda sakit atau usia renta. Disusul tetangga samping rumah karena kanker yang diderita, lalu anak teman masa kecil karena pneumonia. Hatiku mencelos, setengah tak percaya, teringat keponakan yang berusia selisih satu bulan. Berita bertubi ini mau tak mau menggetarkan hati. Saudara-saudara yang kukenal, pedagang masa kecil yang sering bertegur sapa, anak kecil yang kemarin masih terlihat tawanya telah tiada. Kapankah giliranku tiba?

Kesibukan dunia rupanya telah membuatku lalai terhadap utusan malaikat maut. Datangnya sakit, memutihnya rambut, merabunnya penglihatan, dan berkurangnya pendengaran. Dan yang belakangan sangat sering kudengar, yaitu berita kematian keluarga, sanak-saudara, hingga tetangga dan teman. Padahal berita-berita tersebut tak lain adalah pengingat bahwa giliranku tak lama lagi akan tiba. Aku diminta bersiap atas maut yang datang tiba-tiba, setiap saat setiap waktu. Dan betapa akhir-akhir ini aku mengabaikan akhiratku.

Imam Malik pernah bercerita tentang para ulama’ di negerinya, dimana mereka ikut terlibat dengan urusan dunia, berdagang, dan membaur dengan manusia. Sampai pada usia 40 tahun, mereka berpisah dari manusia dan memperbanyak tinggal di rumah, menyiapkan bekal menuju kematian dan kehidupan abadi setelahnya.

Pada saat-saat seperti ini perlu dipertanyakan lagi seberapa besar iman tersimpan dalam hati. Iman tentang hari akhir seharusnya menyadarkan diri bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban, yang jika disadari benar-benar akan membuat seseorang akan senantiasa beramal untuk akhiratnya. Pikirannya akan jernih, sebab baik dan buruk bisa ia bedakan. Pikirannya sadar bahwa sewaktu-waktu maut akan datang. Saat ia berbuat baik, ia berharap mati dalam kebaikan. Saat hendak bertindak buruk, ia takut –sangat takut- mati dalam maksiat dan seburuk-buruk keadaan. Begitulah mawas diri seorang yang mematri iman tentang hari akhir. Sehingga memperhatikan benar adab dirinya, memperhitungkan betul amalan yang tidak mendatangkan manfaat bagi akhiratnya.

Repost: Shalat Jumat Termegah — Jumal Ahmad

Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu أَنَّهُمْ كَتَبُوْا إِلَى عُمَرَ يَسْأَلُوْنَهُ عَنِ الْجُمُعَةِ فَكَتَبَ: جَمِّعُوْا حَيْثُمَا كُنْتُمْ.“ Kaum muslimin pernah menulis surat kepada ‘Umar menanyakan tentang shalat Jum’at? Lalu beliau menulis surat kepada mereka (yang isinya): ‘Lakukanlah shalat Jum’at di mana saja kalian berada.’” Sanad hadits ini shahih, diriwayatkan pula dari […]

via Shalat Jumat Termegah — Jumal Ahmad

Ilmu yang Tidak Dipegang Ahlinya

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar”. [Qs. Al-Qoshosh: 79-80]

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau pernah ditanya,”Kapan hari kiamat?”
Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata,”

«إِذَا وُسِدَ الأَمْرُ إلى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ»

“Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya”. (HR. Bukhori)

Aku belumlah siapa-siapa di matamu. Hanya seorang gadis lulusan SMA, yang di matamu, bisa jadi tidak tahu apa-apa. Tetapi bagiku, detik-detik sekarang adalah karya, sekaligus penentu apakah akhirnya surga ataukah neraka.

Ingin kukatakan kepadamu, duhai para pereguk manisnya madu-madu ilmu…. Bahwa setiap kata yang tertuang, setiap garis yang tergores, dan segala yang direncanakan bukan hanya formalitas di atas kertas.

Setiap garis yang salah, kata yang multitafsir bahkan salah arah dapat menghunus nyawa-nyawa tak bersalah, yang bahkan tak paham dan peduli apa itu rencana. 

Bagiku, melibatkan diri dalam ini adalah memilih akhir surga ataukah neraka.

Aku, sedang memilih kehancuranku?

Referensi klik di sini.