Mendengar Tak Harus dengan Telinga

Bismillah. Bisa kusebut hari ini adalah hari bahasa. FIP membahas tentang logika, isi, dan luas pengertian yang mengingatkanku pada pelajaran Bahasa Indonesia bab penarikan kesimpulan. Kemudian saat mengikuti pengenalan TOEFL di bagian kebahasaan universitas, tentorku membahas tentang kalimat. Dan benar sekali pernyataannya mengapa belajar bahasa asing itu susah adalah karena bahasa Indonesia pun belum kita kuasai dengan baik dan benar.

Jadilah pendengar yang baik sebelum kau menjadi pembicara atau penulis yang baik.

Proses belajar sejatinya bukan terletak pada seberapa banyak materi yang kita pahami atau seberapa sering intensitas kita menghadiri kelas. Bagian penting dari sebuah proses belajar adalah seberapa dalam kepahaman kita tentang apa yang kita pelajari, bagaimana penerapan ilmu-ilmu yang kita miliki serta bagaimana cara kita membagi ilmu kepada orang lain agar bisa saling memberi informasi.

Mendengarkan tak harus selalu dengan alat dengar (telinga)

Pikiranku melayang menuju sebalik gorden ruang kelas dikala tentorku berkata,”Jadilah pendengar yang baik sebelum kau menjadi pembicara yang baik.” Bukankah sebuah ketidakadilan bagi mereka yang oleh Allah dibatasi dalam hal pendengaran? Kita dapat dengan nyaman duduk mendengarkan materi perkuliahan atau mendengarkan siaran berita di televisi atau radio, sementara kondisi yang berbeda dimiliki oleh para tunarungu. Lalu, apakah mereka tidak bisa mendengar seperti layaknya kita? Tidak tentu saja. Namun mereka masih bisa tetap mendengar. Mereka mendengar dengan mata hatinya. Pernahkah  kau mendengar percakapan-percakapan antara dirimu dengan sesosok lain didalamnya? Kau berdebat dengannya tentang hal baik atau buruk yang mesti kau pilih untuk kau lakukan atau kau  tinggalkan, bercengkarama dengannya untuk hal-hal yang belum berani kau utarakan pada yang lain, berdiskusi dengannya tentang cita-citamu di masa depan. Dialah sosok yang mendiami hatimu, dialah dirimu. Sosok yang menjadi teman tanpa peduli kau mau mendebatnya kapan saja, tempatmu melontarkan tanya yang tak masuk akal, tempatmu membagi keinginan yang kau sendiri malu mengatakannya. Itulah pendengaran yang mereka miliki. Mendengar dengan mata hati dan jernihnya pikiran yang terbuka.