Reklamasi

As referenceb :3

Ajang Ngawur

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang

Tanpa kita sadari, planet bumi yang kita tempati sekarang ini terasa semakin sempit. Hal ini diakibatkan oleh semakin bertambahnya kebutuhan – kebutuhan manusia yang membutuhkan lahan, seperti membangun rumah, industri atau yang lainnya. Penambahan bangunan- bangunan tersebut berdampak pada berkurangnya lahan pertanian, karena masyarakat lebih memilih mendirikan bangunan – bangunan mereka di atas sawah. Hal ini jelas berdampak pada berkurangnya produksi pertanian di Indonesia.

Dewasa ini, permasalahan tersebut menjadi pusat perhatian para pemikir bangsa di bidang pertanian. Namun selanjutnya, para insinyur di bidang keairan pun ikut turun tangan untuk mengimplementasikan ilmu – ilmu dan teori yang dikuasai untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Keinginan Indonesia untuk memiliki lahan padi sudah dicanangkan sejak tahun 1990-an, yaitu dengan adanya proyek Pengembangan Lahan Gambut Sejuta Hektar (PLG) di daerah Kalimantan Tengah. PLG merupakan salah satu contoh nyata kegiatan pemanfaatan ruang dalam hubungannya dengan kelestarian lingkungan alami di Indonesia yang…

View original post 2,903 more words

Advertisements

Menunggu Aroma Baru Selanjutnya

Kemana kemana kemana?Rasanya gatal untuk menjelajah sebuah ruang sederhana dengan aroma-aromanya. Setiap tempat punya aroma yang berbeda. Seperti ketika kau hirup uap kopi panas di pagi hari. Kau bisa tarik napasmu dalam-dalam dan merasakan bagaimana aroma itu masuk ke cuping hidungmu, lalu ia masuk perlahan dengan hangat yang menjalar, aroma kopi yang menyatu dengan udara, dan sip minum aja sampai tandas. Sedaaap.

Aku menunggu bagaimana khasnya aroma Wonogiri yang tak cuma sekadar lewat dua minggu lagi insyaAllah, aroma khas kampus kuning UI serta kampus dengan LDK Al-Huriyahnya (IPB) tiga pekan lagi insyaAllah. Baiklah, aku tidak menolak untuk menghirup dalam-dalam aroma UNDIP 😀 mungkin libur semester 2 lebih memungkinkah, bismillah.

Perhatikan, Kuno atau Jadul Itu Menarik

Aku suka hal-hal kuno, aku suka hal-hal jadul. Aku suka vespa, aku suka VW, aku suka ukiran kayu. Aku suka iseng-iseng sendiri mengeluarkan isi lemari ibuku, mengutak-utik isinya dan akhirnya menemukan baju-baju masa muda ibuku yang lucu kalau kupakai lagi. Aku suka melihat ibu-ibu dengan daster berkerahnya mengayun sepeda onthelnya tadi pagi sewaktu aku sarapan, aku suka melihat delman berkeliling area Manahan. Aku suka bagaimana aroma legenda datang menyeruak ketika mengamati orang-orang berlalu-lalang dengan sepedanya. Aku suka berjalan di bawah rindangnya pepohonan yang menyatu, teduh. Ada aroma harum sejarah masa lalu menguar, seperti melihat foto-foto di buku pegangan sejarahku bergerak nyata. Apalagi siang ini kulihat barisan prajurit keraton di Alun-Alun Utara  di teriknya matahari. Nostalgia. Buku sejarahku bergerak.

Kenapa kota Solo tidak tumbuh saja dengan segala hal jadul dan kunonya? Aneh bukan melihat si Kluthuk Jaladara mencicit dan mendebum keras di tengah lalu-lintas kendaraan yang sesak dan berdebu? Tumbuh dengan khas makanannya, khas keramah-tamahan orang-orangnya. Tumbuh dengan sejarah, tumbuh dengan masa lalu yang melahirkannya sekarang. Matahari tak pernah tenggelam, ia tetapm bersinar terang benderang. Bumilah yang senantiasa berubah. Begitupula kita, kitalah yang senantiasa berubah mengikuti arus waktu. Dari muda menuju tua.