Mengenang 1434 H-ku ~

Hanya tersisa hitungan jari Ramadhan segera pergi. Sedikit mengenangnya, sebab aku tak pernah tahu apakah kan kujumpai ia untuk 1435 H nanti.

  1. Di satu waktu aku termangu di toko depan rumah, di 10 hari terakhir Ramadhan. Pernah kutulis sebuah catatan tentang ayah. Dan saat ku terduduk siang itu, aku tersadar betapa senja telah menemani usianya. Rambutnya tak lagi hitam dan tebal, telah memutih penuh uban dan semakin jarang. Jalannya memang masih gagah, namun saat melangkah tak bisa  lagi lincah. Usiaku masuk kepala dua tahun ini. Kurenungi, apa yang telah kuberi untuknya? Seberapa banyak tlah kubahagiakan dirinya? Orang bilang aku harusnya beranjak dewasa, namun faktanya aku tetaplah anaknya yang manja. Semanja saat usiaku masih bisa dihitung jari. Tak bisa lepas dari sebentar saja terkena kasih sayangnya.. Saat motorku tak ada seenaknya minta diantar, tak peduli lelah atau mengantukkah dirinya, tak peduli pada seberapa banyak pekerjaan yang harus ditanganinya. Pedulikah aku saat ia berpanas-panasan di sawah untuk menanam padi? Pedulikah aku saat melihatnya menggendong daun pintu dari depan ke belakang rumah dan sebaliknya? Tidak, aku tidak peduli. Dan kapan aku mau peduli?
  2. Masuk Ramadhan, toko depan rumah buka (lagi) ^,^ karena itulah, bertepatan sama libur disambi belajar buat melayani pembeli. Walau sempat ada kejadian yang kurang mengenakkan, semoga kedepannya semakin barokah 🙂 Hm, dari sini juga beberapa inspirasi menulis muncul, mulai dari lihat orang yang lalu lalang dengan sepedanya, antrean panjang di depan pom bensin, dan banyaaaaaaks lagi deh.
  3. Akhirnya ada cekelan buat (agak) rutin menulis, meski loncat-loncat di note FB, tumblr, blog ini, kadang mencelat ke twitter juga. Semaunya dan semoodnya.
  4. Kehilangan momen 10 hari terakhir Ramadhan karena *itu*. Semoga ada kesempatan barang sehari aja untuk menuntaskan juz-juz terakhir di penghujung Ramadhan nanti, aamiin.

Catatannya ngga cuma seputar ini sih, banyak. Ada di catatan-catatanku sebelumnya, ekplisit ada implisit juga ada. 1435 H, semoga masih ada kesempatan berjumpa denganmu lagi. Semoga menginjak Syawal dan bulan-bulan setelahnya, aroma wangi Ramadhan tetap terjaga, disertai amalan-amalan dan iman yang tak lagi melorot. InsyaAllah, aamiin

 

Advertisements

Seharum dan Sepahit Kopi Pagi Hari

c3Biarlah awan yang bergulung-gulung siang ini.. Biar saja pepohonan berbisik ditengah terpaan panas. Asal semangatku tetap menderu bagai angin, tetap mendesis bagai udara. Mengisi setiap sisi ruang nostalgi dan ruang masa kini.

Aroma kopi hitam, pendaran cahaya api unggun, dan gesekan dingin rerumputan. Pagi yang berisi pahit yang hangat dengan sedikit campuran dingin udara.. Malam yang dingin menusuk kulit sejenak usai, terganti elusan hangat cahaya mentari, yang mengintip malu dan tersipu di tengah dingin yang masih menggigil.
Di kota tempat kita merenda kisah ini, kutemukan harap padamu lagi. Aku seolah sengaja terduduk pagi ini, di tepian lapangan berbukit tempat kita bertukar tawa beberapa tahun lalu. Aku terkenang masa itu. Masa dimana aku selalu mengambil waktu untuk menatapmu, mencuri kesempatan untuk memulai tanya yang akhirnya mengalir, membawa kesan bagi hati yang terambil.

Sepahit, semanis, dan sehangat kopi yang  kusesap pagi ini. Begitu pula rinduku pada mata seteduh matamu. Pahit, manis, dan hangat. Seperti kopi. Siapa yang peduli pada pahitnya? Begitulah kopi. Panas maupun dingin, selalu menari untuk dinikmati. Sepahit dan semanis apapun cinta, ia selalu saja dicari.

Di bukit berkabut, dengan mentari di celah jemari, dan dingin yang menjalari, kutinggalkan rindu ini padanya. Aku beranjak, bangkit, dan berkemas. Biarlah rindu itu perlahan-lahan mengabur. Laksana kabut yang kan memudar saat hangatnya mentari datang. Dan saat siang menjelang, aku sudah lupa bagaimana rasanya dingin itu menggigit.