Sajak Kita Sama – Untuk Seorang yang Bernama Sahabat (Dulunya)

Kita sama.
Saling berhadapan
Saling menegur dalam diam
Saling bersitatap
Berharap maaf dalam keheningan

Kita sama.
Sama-sama rikuh dengan keadaan
Sama-sama malu untuk memulai mendahului
Sama-sama terjerat masa lalu penuh kikuk
Sama-sama merasa “Aku yang bersalah. Aku minta maaf”
Namun sama-sama melontar kata lewat pandangan mata ke mata

Kita sama.
Dalam keterasingan yang tak diperlukan

Kita sama.
Membuat yang mudah menjadi susah
Padahal yang perlu sama-sama kita lakukan adalah
Saling mulai bicara dan memaafkan masa lalu kita

Advertisements

Sajak Hiragana

Kau masih berhutang padaku bahasa Jepang
Mengajariku perlahan menghafal hiragana
Simpelnya, katana dulu katamu
“Tulislah berulang”
Lalu aku mulai belajar
Mengeja satu per satu hiragana
Mulai hafal tanpa meliriknya
Mulai berani pamer pada guru usia sebaya
Dan kau koreksi tulisanku
“Bukan begitu caranya. Begini”
Kau goreskan pena begitu terampilnya

Masa kita masih sama, meski di ruang yang berbeda
Berjauhan ..
Kau tinggalkan aku
Hanya hiraganamu yang tersisa
Hiraganaku mengabur, lebur
Hilang dari pikirku, juga ingin kecilku
Yang pasti satu, guru sebayaku masih ada disini
Kataku sambil menahan desir di hati

Ketika Indonesia Kuumpakan sebagai Megapolitan

Mengaitkan penjelasan salah satu dosen saya yang menempati urutan Yang-Terajaib-Nomor-Satu dengan salah satu pertanyaan begitu sederhana dari teman baik saya.

“Indonesia itu sebenarnya yang seperti apa?”

Pertama kali mendengar pertanyaan ini, sontak saja saya dan teman saya menjawab,”Kalau di luar negeri sih tentunya yang kangen nasi, sambel, kerupuk.” atau yang,”Punya ikatan kekeluargaan yang tinggi, jadi kalau merantau pasti pengennya pulaang terus.” Atau ada lagi yang,”Identik dengan batik!”

Temen baik saya, sebut saja si A, langsung menjawab bukanlah, tentu saja. Dia jelaskan alasannya. Kalau orang Jawa kan pasti terkenal dengan unggah-ungguh dan sopan santunnya, atau ciri khas batik dan blangkon, atau gaya bicara dalam bahasa Indonesia atau Inggris dengan medhoknya. Orang Batak terkenal dengan gaya bicara ceplas ceplos dan bernada tinggi, juga dapat dikenali dari nama mereka yang biasanya ditempeli marga keluarga.

toleransi4

Lalu, sekali lagi si A bertanya,”Indonesia itu termasuk yang mana?” Lantas, saya dan teman saya terdiam. Mencari sebuah jawaban dari tanya yang teramat sederhana.

Di kuliah Sosiologi Perkotaan, dibahas secara dasar apa kota itu, bagaimana ia tumbuh, bagaimana ia dianggap sebagai organisme yang tumbuh, membesar, membengkak, bahkan mneghancurkan. Bagaimanakah kehidupan kota terbentuk?

  • Dari jumlah penduduknya yang cenderung lebih padat dibanding wilayah sekitarnya.
  • Jumlah penduduk banyak ~> kehidupan lantas semakin beragam. Istilah yang paling pas dengan hal ini adalah heterogenitas. Bermacam latar belakang, mulai dari suku, agama, prinsip, pikiran, gaya hidup, profesi, kemampuan ekonomi, adaptasi sosial, juga cara bertutur kata menjadi pengisi kehidupan kota sehari-hari.

Nah, dengan adanya berbagai hal yang harus dipenuhi, yang pada akhirnya juga menuntut masing-masing individu saling berinteraksi, terjadilah proses saling menempatkan diri. Misal saja orang Jawa yang dikenal dengan rasa pekiwuhnya ketika hidup di kota besar mau tidak mau ia harus berani bicara, meninggalkan rasa ewuhnya itu. Lain lagi dengan orang Madura yang biasa berbicara dengan nada tinggi juga menempatkan diri bahwa tidak semua orang yang berhadapan dengan mereka terbiasa dengan nada seperti itu. Dari sanalah muncul akumulasi budaya, dari berbagai latar belakang yang beraneka ragam.

Hubungannya dengan negeri khatulistiwa ini?

Semua tahu betapa banyaknya latar budaya di negara kita. Dari Aceh di ujung barat yang dikenal dengan teh tarik atau Tari Saman hingga Merauke yang terletak diujung timur negeri ini. Banyak. Ditambah dengan itu keberagaman bahasa daerah yang negeri kita punya. Bahasa Jawa, Banjar, Sunda, Minang, Batak, dan buanyak lagi yang pasti bikin melongo ketika kita diperdengarkan secara bersamaan. Apa lagi? Budaya. Mulai dari cara makan, salam masuk rumah, menegur tetangga, sapaan kepada yang tua-muda-atau-sebaya, cara menhadapi masa remaja atau dewasa, dan lain-lain lagi.

Dari keberagaman muncul lagi kebutuhan yang beraneka ragam. Manusia melakukan mobilisasi, berinteraksi dengan sesama. Membentuk budaya baru setelah bertatap muka. Pun dengan Indonesia. Negeri ini adalah megapolitan, kota besar. Raksasa. Ratusan juta penduduknya, beraneka macam budayanya. Berjuta-juta pula pola pikir dan gaya hidupnya. Dan itu semua terakumulasi saat terjadinya interaksi. Sama halnya dengan ibu kota. Puluhan budaya terakumulasi disana. Yang dikenal adalah orang ibu kota, orang kota. Orang Jakarta itu yang seperti apa? Ya mereka yang telah bersinggungan dengan campur aduk budaya dari belahan daerah di Indonesia.

Itu sih analogi saya mengapa Indonesia ini laksana sebuah megapolitan. Terbentuk disana budaya-budaya baru dari akumulasi yang menyatu. Namun, selalu kita harap akhirnya tak tersesat dalam identitas yang memburam. Sekian.

#

#

pernah ada masa-masa dalam cinta kita
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu

pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghiasi langit, menyuburkan bumi, dan melukis pelangi
namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

Melihat Lagi Bagaimana Kita Berproses

Ingatkah betapa sederhananya saat kita belajar untuk saling mengenal? Aku tak mengenalmu dari apa yang kau kenakan, tak juga dari apa yang kau dapatkan. Aku mengenalmu dari sebuah sekolah berhalaman luas, yang kadang ditumbuhi rerumputan hijau atau hanya diselimuti tanah cokelat berhiaskan kubang.

Hanya mengenalmu satu per satu dari sana. Tiada pernah kusangka proses itu kujumpai lagi, beralih dari halaman rumput satu ke halaman berumput lainnya. Tak jarang, dari halaman berpasir satu menuju barisan bukit dan areal sawah menghijau. Perjalanan untuk menjumpai masing-masing diri kita menuju sesuatu yang baru, menuju sesuatu yang lebih mantap dari sekarang ini.

Image

Disini aku berdiri, sambil tetap berkutat pada proses yang terus kujalani, menatap kalian dengan periode yang sama. Berproses. Dulu yang kutahu, aku hanya akan berkutat pada kalian saat lelahku datang. Tiada lagi obrolan mengenai apa yang akan kita lakukan. Takutnya, hanya mencari kalian hanya disaat aku dilanda kesibukan yang menjemukan. Namun untungnya, aku selalu mencari kalian. Selalu. Untuk membicarakan apa yang akan kita lakukan esok hari. Untuk merencakan sebuah hal baru yang selalu kita harap penuh dengan manfaat. Dan nyatanya, menjadi hiburan tersendiri atas aktivitas menjemukan yang kita temui sekarang.

Dan bangganya aku melihat kita semua berproses dari yang sebelumnya belum menjadi apa-apa, kini berlomba untuk menyebar manfaat disekeliling kita, dalam bentuk terkecil dan tersederhana. Semangat selalu, teman ^^

Dengan segala aktivitasmu yang kadang mengganggu waktu kita bertemu, dengan jauhnya jarak yang membentang diantara kita, ingatlah kisah kita terdahulu. Walau jasadmu tak benar-benar ada disini, bayangan akan manisnya pertemuan menguatkanku 🙂