Sosial, Peradaban dan Pembangunan Berkelanjutan

Bismillah..
Dalam bahasan teknis, ada tiga tipe perencana atau pengambil kebijakan, berdasarkan cara pikirnya, ada yang beraliran ekologis yang dasarnya adalah lingkungan. Rekayasa apapun yang nantinya akan dilakukan seharusnya tidak merubah lingkungan dan tidak serta-merta dilakukan secara ekspansif. Tidak eksplotatif.
Yang kedua, sosiologis. Dasarnya adalah lingkungan sosial; dimana yang diperhatikan adalah fokus manusia sebagai subjek sekaligus objek pembangunan, dan hal tersebut tidak melulu pembangunan secara fisik. Yang ketiga, sekaligus yang menurut akal saya memuakkan adalah pola pikir teknokratis. Dalam pandangan orang teknokratis, pembangunan fisik adalah utama. Tolok ukurnya adalah banyaknya pembangunan secara fisik. Masing-masing punya kelebihan, masing-masing punya kelemahan. Dan tak ada ketiganya yang benar-benar murni dijalankan secara utuh, ia hanya mendominasi.

SOSIOLOGIS, ASPEK MAGIS MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Di semester ini ada beberapa hal, yang sebenarnya tak benar-benar seluruhnya baru, kecuali apa yang datang dari dosen kerenku satu itu, yang kupelajari. Mata kuliah Sosiologi Perkotaan, Analisis Sumber Daya dan Lingkungan, Prasarana Wilayah dan Kota, Ekonomi Kota dan Wilayah, juga mata kuliah Perencanaan Transportasi di semester kemarin. Sekali lagi, masalah utama kota jika ditilik dari jumlahnya adalah pertumbuhannya yang masih susah dikendalikan; yang disisi lain justru kualitas penghuninyalah yang perlu ditingkatkan.
Dari aspek spasial, jelas saja semakin banyak manusia maka makin banyak pula ruang yang terpangkas dengan berbagai rupa kepentingan. Dalam salah satu seminar yang saya ikuti, walau akhirnya berujung ke persoalan parenting, bukan soal jumlah yang membuat repot, akan tetapi kualitas sumberdaya manusianya. Bisa dilihat negara China. Ya, daerahnya memang luas, teramat luas. Namun, penduduknya juga dikenal yang paling banyak di dunia. Dan bisa dilihat sekarang ini, bahwa dengan jumlah yang sebegitu banyak mereka mampu menguasai ekonomi dunia. Lihat saja berbagai produk, mulai dari elektronik, alat tulis, pakaian, alat makan, obat, makanan siap saji; tersebar di toko-toko di pelosok negeri di bumi. Apa ada yang di masing-masing negara dunia yang memiliki kota, China Town, kecuali negeri China. Jadi jumlah tak selalu jadi masalah, jika kualitasnya pun tak abal-abal.
Lalu? Ada satu kata yang membuat saya tertarik. Sebuah kata yang mengawali berdirinya suatu kota, juga kata yang menjadi tolok ukur majunya suatu bangsa dan negara. Peradaban. Dan peradaban selalu dimulai oleh manusia, sebagai subjek sekaligus pembangunan. Dan membangun peradaban, sekali lagi yang membuat saya begitu tertarik, tak dialami dengan proses instan. Peradaban membutuhkan manusia dan dilakukan mutlak oleh manusia. Membangun peradaban juga menjadi visi misi penting, menurut saya, dalam pembangunan berkelanjutan, disamping pembangunan ekonomi dan fisik.tumblr_mbi5rvD3yR1qhwveto1_r1_500 Pembangunan berkelanjutan, yang cenderung menentang penganut paham teknokrat dan mendukung si ekolog, meliputi pembangunan aktivitasnya juga : ekonomi, pariwisata, budaya, keilmuan, kepedulian pada kelestarian lingkungan. Budaya pula menjadi produk dari peradaban.
Sharing saja mengenai buku yang pernah saya baca tentang perjalanan berkeliling dunia. Pertama, Titik Nol karya Agustinus Wibowo dan kedua yang baru saja saya tamatkan, Aleph, karya Paulo Coelho. Dalam perjalanannya menaiki kereta api Trans Siberia dengan jaraj 9.288 kilometer sembari berhenti di beberapa kota di Rusia, Paulo melihat beberapa pertunjukkan musik. Dan ada nada kecewa dalam tulisannya bahwa musik-musik, di tempat terpencil sekalipun, sudah teracuni genre internasional. Hal yang sama kadang juga saya alami. Mengunjungi tempat-tempat baru, dengan segala hal yang berbeda dengan daerah asal saya, selalu menarik minat saya untuk mencicipi hal-hal baru. Adat setempat, makanan tradisionalnya, budaya masyarakatnya, tempat-tempat penuh sejarah yang tak dijumpai di tempat lain, dsb.
Yang sedang terlintas dalam pikiran saya sekarang ini adalah pasar tradisional. Tadi pagi saya baca sebuah berita di koran tentang revitalisasi Pasar Gemblegan yang kedepannya akan menerima kucuran dana dari pusat sekitar Rp 4,5 Milyar. Jujur saja, saya masih awam bahkan buta mengenai revitalisasi pasar. Umumnya orang akan senang jika pasar yang sebelumnya selalu tergenang saat hujan, berdempet-dempetan hanya untuk menawar harga, jalanan becek selepas hujan, bau menyengat dari sampah hasil dagangan; dibuatkan rencana untuk ditata. Hal positif yang saya baca : pasar itu jadi lebih layak secara fisik, nyaman untuk ditinggali, drainasenya tertata. Negatifnya? Entahlah, barangkali pedagang akan sedikit kehilangan pembeli. Kalau dalam bayangan saya, seharusnya pasar tak lebih dari dua lantai, kecuali untuk pasar skala besar, semacam Pasar Legi atau Pasar Gede, karena barang yang dijual berasal dari berbagai tempat, dijual dengan berbagai keperluan, dan memang memuat banyak keperluan orang-orang. Tapi saya kira, untuk pasar lokal, yang nyaman dan mudah dijangkau oleh pembeli dan penjual, tak perlu lebih dari dua lantai atau terlalu luas. Ini cuma pendapat lho, kondisi di lapangan kan berbeda tentunya.
Kembali pada sesuatu yang baru, saya suka kalau diajak ke pasar tradisional oleh keluarga saya, walau agak males juga karena keriuhannya. Yang menurut saya perlu diperbaiki adalah aksesnya, tak selamanya fisik. Perbaikan fisik juga akan berdampak pada kebiasaan dan budaya penduduk pasar. Jika pasar tradisional sebelumnya memudahkan mereka untuk saling bertegur sapa, los-los yang dibatasi tembok saat pasar itu diperbaiki bisa jadi mengurangi instensitas interaksi mereka. calon pembeli yang terbiasa dan leluasa melihat barang dagangan menjadi canggung karena dagangan yang ada ditata dalam rak-rak di dalam los.
Tak berbeda juga saat makan di Solo membeli ayam goreng di K*C, hal yang sama dilakukan di kota-kota lain. Apa yang khas kalau seperti itu? Apa bedanya dengan saya pergi ke kota itu, yang seharusnya yang dicicipi adalah makanan khas sana?

Yah, barangkali rakyat negeri ini perlu pergi dulu melihat dunia luar untuk sadar betapa kaya dan menakjubkannya negeri kami ini. Cultural Night yang pernah kuikuti sedikit membuka mataku bahwa Indonesia begitu kaya, hanya saja dikelola oleh manusia-manusia miskin yang memperkaya diri sendiri. Tarian negara lain itu biasa, jauh lebih elok, anggun, dan rancak tarian putra-putri negeri!

 

Advertisements

Aku tahu, temanku adalah sosok yang terlahir hebat, cantik, tampan, menarik, penuh karisma, bakat unik yang membuatnya berbeda, kepemimpinan yang tak perlu diragukan, kepintaran yang tak tersembunyi, kecerdasan yang tak bisa dipungkiri, kehidupan yang berkecukupan rezeki, fisik yang membuat banyak orang iri, dan kebaikan hati yang susah untuk kutandingi. Namun aku tahu, aku tak perlu mengatakan itu dihadapan mereka. Kami berteman karena kami adalah teman dan memang begitulah adanya, seperti itulah seharusnya. Bukan karena mereka kaya, cantik, tampan, menarik, berkecukupan hidup dan rezekinya, kepintaran dan kecerdasan yang mengunggulkannya.

Seperti yang seharusnya, memang begitulah adanya

Taklukkan Kembali Kerajaanmu!

Bismillah..

“Pergi dan taklukkan kembali kerajaanmu yang mulai tercemar rutinitas. Berhenti mengulang-ulang pekerjaan yang sama karena kau tidak akan mempelajari hal-hal baru dengan cara itu.”

Itulah sekilas percakapan J. dengan Paulo dalam Aleph yang sedang kubaca. Ya, Paulo Coelho, si pengarang Sang Alkemis sekaligus Aleph; yang namanya bikin nyeletuk “eh” karena mirip panggilan teman SMA-ku. Tokoh utamanya ternyata memang Paulo, atau sengaja dibuat begitu, entahlah. Novel ini berkisah, aku baru baca 100an lembar di awal, tentang perjalanan Paulo menaklukkan lagi kerajaannya; dengan keliling di enam negara dalam dua bulan agar mampu ia temukan masa lalunya. ImageKarena baru baca awal novelnya, yang tebalnya dua kali Sang Alkemis tapi sepertinya tak se-waw novel yang kubaca sebelumnya, ada beberapa percakapan yang menurutku berat, terlalu berat. Ada juga bagian yang tak kumengerti tentang perjalanan spiritual ala Paulo, rumit, jadi sepertinya perlu kubaca minimal dua kali deh novel ini. Overall, sejauh yang kubaca, novel ini aku banget!

Aku tersesat! Paulo juga. Pas banget beli novel ini rasa-rasanya. Bertahun-tahun Paulo sukses sebagai penulis berbagai buku hingga ia dikenal di berbagai negara. Tapi selama dua tahun tak ada kepuasan yang ia dapat. J., ‘guru spiritual’nya menyarankannya untuk pergi. Tapi Paulo juga sudah terbiasa pergi. Dan selama itu tak ada yang begitu memuaskannya.

 

TAKLUKKAN KEMBALI KERAJAANMU

See, what’s the key? Taklukkan kembali kerajaanmu yang telah teracun oleh rutinitas..

ImageAkan Allah tambah nikmat kita saat syukur itu kita panjat penuh haru pada-Nya. Yang namanya nikmat, berkali-berkali, tak hanya meliputi sesuatu yang besar atau menakjubkan. Cukuplah hal kecil, seperti segarnya udara yang terhirup kala pagi, hangatnya sinar mentari yang menyapa indera peraba saat kita beraktivitas, segarnya air yang mengguyur badan saat kita mandi, sembari mungkin kita dengarkan gemericiknya saat ia keluar dari keran; itulah nikmat-nikmat kecil yang kita remehkan. Merasakan macet dan ramainya jalan, kadang oleng saat melewati jalanan berlubang, itu juga nikmat. Senyuman tulus, langkah kaki mantap, itu juga nikmat. Kalau hal kecil mampu kita dengarkan, kita rasai dalam agenda sehari-hari, insyaAllah, ketika nikmat yang lebih besar datang, syukur kita juga meningkat tajam. Namun, ketika kita acuh, tak ada syukur didalamnya, dan hanya menganggap serta menjalaninya sebagai rutinitas, yang ada terus saja rasa tak puas. Yang perlu kukutip dari Aleph berikutnya adalah saat perasaan tidak puas menetap, itu berarti perasaan itu ditempatkan oleh Tuhan karena suatu alasan saja; kau perlu mengubah segalanya dan maju. Read? Ubah dan maju!

Sudah kukatakan juga diawal, aku juga sedang tersesat. Maka, aku perlu melakukan perubahan dan maju. Kalau aku hanya duduk, melihat, mendengar, dan merasa iri atas sukses orang, ya hanya sebatas itu yang kudapatkan. Bantu aku berubah, bantu aku untuk maju, minimal dengan doamu 🙂

Barangkali akhir tahun ini, juga awal tahun depan, juga harus seterusnya, akan menjadi hari-hari terhebat yang akan kulalui. Akhir semester tiga, menempuh beberapa jalan untuk beberapa mimpi sekaligus, semester empat yang udah mencicipi studio ternyata (semoga aku ngga jadi kuper *teriak ngeriii*), perjuangan memperoleh NOMOR CANTIK, berburu CINTA!, #100BukudiPerpusMiniku (Bismillah), menu-menu baru ala tanah Jawa (ibuk juga mau teh kalo ini, hehe), mau belajar menaklukkan kereta kencana bermesin (sekiranya apa ya yang cocok sama kakiku? :o), penuntasan hafalan yang ngadat terus, dan beberapa mimpi yang belum bisa kutulis disini.

Ada lagi inspirasi dari mas inspiratif, yang makin membuatku menggebu ke kampus kuning. Penasaran apakah disana ada musim gugur secantik kampus UNS, yang jalanannya dibuat kuning dan romantis karena guguran bunga-bunga, yang akhirnya coklat dan tersapu angin juga sapu ibu-ibu penyapu jalan.. Mupeng juga ke perpus yang weew itu, sambil sepedaan sama *ehem* suatu hari nanti, hehe. Semoga diizinkan Allah 😉
Dapet apa dari mas inspiratif wakil BEM UI itu? Four keys to upgrade ourselves capasity. What are those?

  1. Meet up with your rockstar. Bertemulah dengan idolamu, tokoh yang menginspirasimu, ajak dia berdikusi tentang beberapa hal yang membuatmu penasaran tentangnya, pahami cara-cara pikirnya. Nah, ada nih. Belum kuutarakan dengan siapapun, tapi aku kepo-kepo. Berharap ada momen bisa ngobrol dengan salah satu tokoh inspiratif yang begitu aktif, dosenku sendiri loh. Kita lihat yaa 🙂
  2. Reading more!
    Reading brings knowledge, writing brings wisdom. Charles Tremendous Jones pernah menuturkan, “Lima tahun dari sekarang Anda akan tetap sama seperti hari ini, kecuali jika Anda melakukan dua hal berikut ini: buku-buku yang Anda baca dan orang-orang baru yang menjadi sahabat Anda” juga “Buku yang kita baca akan membentuk pola pikir kita. Orang-orang yang dekat dengan kita akan membentuk kepribadian kita.”
    Cek deh korelasinya : bacaan dan sahabat. Jadi aku mulai strategi dini dengan banyak-banyak membuka relasi, berkenalan dengan teman-teman baru, banyak juga membaca referensi buku-buku baru. Asyiik kok 🙂 Dan memang, apa yang kita baca dan teman seperti apa yang dekat dengan kita akan jadi cermin, memantulkan dan merefleksikan diri dan pikiran kita. Kita dibentuk oleh lingkungan, semakin mantap dengan bacaan. Mahasiswa memang tak selayaknya seperti anak SMA kan, yang masih bingung dengan dirinya. *untungnya, teman-teman dan bacaan SMA-ku ngga begitu, alhamdulillah ^^
  3. Cari kesempatan untuk “naik kelas”!
    Baik itu dengan setting pemikiran bahwa tekanan dan cobaan berat adalah satu soal yang harus diselesaikan agar lulus ujian, hingga bisa naik kelas ke level yang lebih tinggi. Siapa sih yang ingin berada di level yang tinggi, naik kelas dengan hasil memuaskan? 🙂

Sekian deh, tunggu sharing kesan selanjutnya saat novel ini tuntas ^^

Finding Ourselves (4)

Four keys to upgrade ourselves capasity.
Change you mindset 🙂

MERAPIKAN KENANGAN

………..

Tahun ini adalah tahun yang sangat seru—ini adalah bahasa positif dari ‘berat’—buat saya, ketika saya dihadapkan pada keputusan-keputusan besar dalam hidup. Saya banyak bertemu dengan hal-hal yang benar-benar baru dan mengejutkan, saya merasakan berbagai tekanan, juga ‘dipaksa berpisah’ dengan orang-orang terdekat. Yah, semua terasa berat. Hal positif dari ini semua adalah, berbagai tekanan ini mendorong semua potensi saya untuk keluar, saya menjadi begitu jujur dengan diri sendiri dan berusaha tampil apa adanya di depan banyak orang. Saya menjadi merasa begitu bodoh karena itu saya kembali banyak belajar dengan bertemu orang dan membaca buku. Dan syukurnya, saya tetap bisa menulis dan bisa menjalani semuanya dengan gembira.

Saya bertemu orang.

Camera 360

Hal paling berharga yang bisa saya petik dari bertemu (dalam hal ini berbincang/mendengarkan cerita) orang adalah sebuah kesadaran bahwa orang-orang yang kita anggap hebat itu sebenarnya adalah orang biasa juga—sama seperti kita—tapi melakukan hal-hal yang tidak biasa. Atau setidaknya, banyak bertemu…

View original post 597 more words

Rekonstruksi Mimpi, Do Not Be A Dreamer-Over-Load

Bismillah..
Membaca banyak buku, berdiskusi dengan banyak teman, menelisik banyak pengalaman orang-orang, atau minimal hanya menjadi pendengar dari segala kisah sukses sudah pasti membuat diri ini ngiler. Terbayang kitalah yang menjadi orang yang berbagi cerita sukses kita, berkisah tentang jatuh bangunnya mencapai deret-deret prestasi tak terperi, atau memaparkan bagaimana proses penulisan buku-buku inspiratif itu. Rabbku, itu juga salah satu mimpiku, hehe ^^

Banyaknya masukan, kisah inspiratif yang masuk, apalagi usia ini adalah usia untuk upgrade kapasitas diri juga usia mewujudkan sebagian besar mimpi; membuat kita punya banyaaaakk sekali mimpi. Nasihat penting yang kudapat ketika membaca Jenderal Kampus, lupa karangan siapa, adalah dari keseluruhan mimpi yang ada, jangan sampai itu hanya berakhir menjadi mimpi. Alias DreamOverLoad. Keterlaluan bermimpi, mungkin seperti itu ya tafsirannya. ImageBermimpilah, tapi yang sekiranya mampu kita raih. Kalau sudah, bermimpilah yang sejalur. Jangan menyatukan api dengan air, karena salah satu bisa padam atau hanya menguap menjadi asap. Mungkin contoh aneh dan nggak nyambung yang mampu kucontohkan adalah aku tak suka berkecimpung secara ekstrim dalam politik, tapi ada mimpi menjadi seorang presiden di daftar mimpiku. Itu mimpi nggak nyambung, menurutku.

Dua, gara-gara membaca Sang Alkemis agaknya ungkapannya memang benar. Barangkali salah satu alasan yang membuat kita kuat menjalani hidup adalah mimpi-mimpi kita. Hingga terkadang, rasa takut justru datang ketika kesempatan menjemput mimpi itu ada di depan mata. Kita takut tak bisa kuat menahan beban hidup tanpa ada mimpi yang kita jalani sehari-hari. Iya sih ya, bener lho 🙂 Tapi jangan asal membenarkan juga. Jalani mimpimu sehari-hari bisa kuartikan pula bahwa mimpi itu telah terwujud nyata. Hm, istilah akrabnya adalah passion.
Cari pekerjaan yang Anda cintai dan Anda tidak harus bekerja setiap hari seumur hidup Anda.Passion, sesuatu yang membuat hal-hal yang kita lakukan terasa menyenangkan, menghibur, melegakan. Jika passion-mu adalah menjadi pemimpin, maka menjadi ketua panitia bukan lagi menjadi beban, melainkan akan menjadi kesenangan tersendiri bagimu dalam bekerja. Bekerja tapi tak terasa seperti bekerja. Menyenangkan, mengasikkan!

Tiga, jangan sampai karena terlalu sibuk bermimpi, terlalu sibuk memenuhi keterwujudan mimpi, dan terlalu berambisi meningkatkan lagi kadar mimpi; ada hakikat manusia yang terlupa. Ibadah. Sempat pula terasa dalam diri ini, sungguh. Kalau kutanya pada diri sendiri, kenapa segala hal yang terjadi tampak menjadi teramat berat dan tak lagi seringan ketika kau sapa sahabatmu dengan senyum ringan penuh ketulusan? Kutemukan satu jawab yang mengusik, karena tak lagi kuniatkan hati untuk itu. Yang ada hanyalah setumpuk keinginan untuk mengejar mimpi demi mimpi. Lupa bagi kita untuk menengok sekeliling. Lupa bagi kita untuk menyapa teman duduk di kanan kiri kita. Lupa bagi kita meminta restu teman-teman terdekat kita. Dan kita lupa, dari sekian pinta yang kita panjat dengan khusyuk kepada-Nya, yang lalu terkabul sesuai harap kita, ada doa-doa kecil mereka; sahabat kita. Kita rasa mampu berlari sendiri. Kita kira mampu berhasil tanpa mereka. Hentikan rasa-rasamu, kembali perhatikanlah sekelilingmu.
Rasailah kita ini da’i, sebelum kau putuskan itu jauh-jauh hari. Tebarkan semangat berbagi kebaikan lewat senyummu, lewat sorot hangat saat menatap matamu, hangatnya jabatan saat berjabat di kala pagi dan sore hari, atau bahkan hanya lewat tegasnya langkah kakimu.

Rekonstruksi mimpiku? Ya!

  1. Untuk Allah yang telah sudi menciptakan hambaNya yang masih tak tahu diri ini
  2. Untuk Rasulullah dan meneruskan perjuangan dakwahnya, walau sama sekali langkahku tak sempurna
  3. Untuk Islam, semoga membawa lagi keberjayaannya seperti dulu
  4. Untuk ayah dan ibu, karena jutaan kasih mereka yang tak bisa lagi didusta
  5. Untukku, minimal agar tak malu saat ditanya untuk apa umurmu berlalu
  6. Untuk mereka di kanan kiriku. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Tanya dan catat : sudahkah mimpiku bermanfaat bagi orang lain?

Bukan melarang untuk bermimpi, tapi cek lagi apakah mimpi kita itu mampu membuat kita bangga di hadapan-Nya kelak? 🙂