Tak Perlu Dibaca 2

Bismillah.
Bercerita lagi. Dua menit lalu ada judul artikel tentang Majapahit, yang akhirnya mengingatkan saya tentang program studi yang sedang saya pelajari. Perencanaan Wilayah dan Kota, kalau di UNS itu takdir dan doa ibu yang memaksa. Hehe. Jadi, salah satu mimpi dari zaman SD adalah jadi arsitek. Ya, arsitek. Benar kan? Kalau lulus, insyaAllah, saya jadi arsitek. Beda, jelas beda. Sedari kecil saya sudah terbiasa melihat bapak menggambarkan desain-desain meubelair atau rumah yang dipesankan pelanggan kepadanya. Wah, bagus. Pikir seorang anak perempuan polos, putri pertama bapak waktu itu. Aku. Jadi ketika bapak sedang sibuk bekerja, seringnya di luar, namun enaknya bisa sewaktu-waktu pulang; anak perempuannya sedang menimang desain rumah dan properti di majalah interior. Wah, aku mau kalau sudah besar punya rumah seperti ini. Kamar seperti itu, dengan dipan begitu. Kan tinggal minta dibuatkan bapak. Si anak perempuan masih berceloteh dengan polosnya, sembari mengagumi gambar-gambar rumah dan isiannya.

Masuk SMP, gambar-gambar iseng denah rumah sudah ada beberapa lembar. Bahkan, ada obsesi jadi desainer busana. Terus bingung deh, sebenarnya saya mau jadi apa? Begitupun saat akan penjurusan SMA, IPA atau IPS ya? Karena sejak kecil sudah pengin sekali jadi arsitek, akhirnya utamakan IPA, begitu pikir saya. Kalau IPS yaa, ambil saja desain interior. Beres kan? Bahkan, ketika iseng-iseng cari jurusan di Kampus Ganesha Bandung, pilihan saya jatuh di SAPPK dan fakultas desainnya, yah desain interiorlah, maaf saya lupa singkatan fakultasnya. Sampai-sampai saya cari info kemana saya harus sekolah desain terlebih dulu tentang desain dan semacamnya. Tapi karena tahu jika ke Bandung tak akan direstui, info memang hanya sekadar menjadi info. Tidak ditindaklanjuti.

Terus kenapa kok PWK? Saya punya kenalan, mbak alumni SMA yang alumnus arsitek UNS pula rupanya. Di chat FB saya tanya-tanya, mbak gimana rasanya jadi mahasiswa arsitek? Dibilangi, ya kalau bisa jangan dek. Banyak lemburnya, di kelas banyak cowoknya. Sering pulang malem dan itu juga sama cowok. Nah, dari situlah saya putar haluan. Aduh apa yaa? Saya hidup di kota, pikir saya waktu itu. Jadi kenapa tak mengabdikan diri untuk jadi seorang arsitek tata kota? Bukankah asik bisa membangun sebuah kota dari ide-ide sendiri? Ya, ya. Dari situlah saya googling lagi mencari info selengkap-lengkapnya tentang tata kota. Nemu deh artikel tentang drainase ibukota Majapahit waktu itu, Trowulan. Ternyata, di zaman itu saja sistem drainase Trowulan sudah mampu berjalan baik. Dibuat saluran semacam parit yang dialirkan ke sungai-sungai besar. Ada juga saluran yang pusatnya di dalam kota, sehingga saat kemarau panjang datang air hasil tampungan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga kota. Brilian. Jadilah di kampus manapun yang saya cari, termasuk UI dan tidak ketemu, adalah jurusan yang berbau tata kota. Sebenarnya lebih tepat dikatakan tata ruang ya, walaupun akhirnya yang dikenal dengan ruang malah anak DI. Di ITS, carinya tata kota. Di UNDIP, tapi tidak tertarik karena panasnya, juga PWK. UGM, PWK juga. Eh enggak ding, di UGM pilihan pertama saya adalah sastra Arab, siapa tahu saya bisa pertukaran mahasiswa kesana. Hm, tapi ya sudahlah. Doa ibu lebih mujaran untuk tetap tinggal di Solo Raya. Malah jadi tambah tahu jalan-jalan kota Solo, hehe. Sering jalan-jalan pula. *dan setelah itu jadi bertekad, seorang Muslim apalagi anak PWK harus kaya! Kan sering jalan dan survei hoho.Image

Haha, dan setelah saya resmi jadi mahasiswa perencanaan kota, apalagi di UNS, ternyata sama saja. Lembur, pulang malam, sampai tidak pulang ke rumah (bahkan motor saya tertahan dua malam di parkiran /.\), kejar deadline, lembur bareng teman-teman cowok, itu sudah jadi hal yang biasa. Teramat biasa. Membaur bukan berarti melebur 🙂 Tapi apakah saya menyesal, walau satu jurusan arsitektur tapi beda prodi? Hm, tidak juga. Kalau nggambar lama, corel juga baru ala kadarnya, auto cad tanda tanya, kreatifitas juga semampunya aja. Asik kok di perencanaan kota. Kasus banget, dan solusinya disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan alamnya. Nggak se-saklek ilmu-ilmu eksak lainnya.

ImageSatu mimpi yang saya tulis ketika osjur, bah satu bulan!, adalah mimpi terbang ke perbatasan Indonesia! Jadi Pengajar Muda. Dan barangkali untuk itulah, sudah seharusnya saya cicil modal dan bekal untuk berburu surat cinta. Kenapa? Saya sadar, saya belum mampu berbagi dengan harta. Jadi, ketika yang saya punya adalah ilmu, kenapa tidak? Apalagi bekal sebagai seorang perencana kota seharusnya teramat cocok untuk diterapkan di tanah-tanah perbatasan. Mereka yang disana rentan. Bayangkan, ketika mereka disana goyah, bukankah dengan mudah negeri kaya yang diolah orang serakah ini akan begitu mudah disusupi? Itu PR saya, dan PR kita semua sebagai manusia Indonesia. Eh jadi serius banget ya, padahal awalnya mau cerita. Ya beginilah.

Saya mau mengintip makul semester 4, menyusun jurus *ea, soalnya saya nggak mau jadi kuper cuma karena ada makul bernama studio. Daah yaa, sampai jumpa lagi 😀

  1. surat cinta
  2. #100bukudiperpusminiku
  3. tema, genre, dan bla bla bla itu

Tak Perlu Dibaca

Bismillah.
Mau seriusan curhat, hobiku ngepos kan sebenernya memang karena doyan curhat via tulisan. Kali ini edisi curhat abal-abal *seriusan. Arrgh, mau refresh dulu lah setelah sejam yang lalu berhasil menghentikan ngebut nugas, alias kejar deadline. Aah, mau ngolet sampe puas.. Jawab tiga belas halaman dalam waktu seharian itu ternyata sama sekali ngga memuaskan. Dan minggu-minggu ini aku GAGAL jadi seorang deadliner sejati. Yah, padahal tugas-tugas sebelum ini cukup memuaskan saat harus diselesaikan dengan sistem kebut semalam. Kali ini pembiayaan pembangunan kuraang banget puasnya. UK KWU tadi siang udah jawab panjang sih, cuma agak lupa si bapak satu semester ini menjelaskan apa. Catatan aja cuma setengah halaman, dung /.\ Tapi tugas besarnya cukup memuaskanlah, dengan catatan juga mepet deadline (tapi sudah minggu lalu).

Hm, after this I should continue finishing GIS (append append append, ampuun /.\!), recheking and re-arranging ekowil. Anak IPA apaan yaa, ekonomi terus yang dibahas. Okelah, selesaikan selesaikan. Jangan ditunda-tunda, jangan! Yah jadi membayangkan postingan Angka Tiga Koma. Semester ini angka tiga koma berapa yaa? *mikir keras.

rekonstruksi mimpi, serius! Katanya tahun depan, eh besok ding ya, mau ngirim surat cinta. Ke siapa? Ke mana? Jurusan apa? Orientasinya apa? Rgggh, surat cinta coba-coba masa? Salah satu teman ada yang mau ke Pare sebulan, dan karena itulah aku baru sadar, dung surat cintaku gimana kabarnya? Cari info aja enggak, belajar bahasa Inggris apalagi. Belajar buku sastra jalan terus, eeh juntrungannya jadi ngga produktif. Hauwaah hawa-hawa liburr memang begini, ngga konek diajak bahas tugas lagi.

tapi bukannya kemarin aku habis ngepos ‘jangan cuma jadi pemandu sorak di pinggir lapangan’? Bangunlah, Sa, banguun. 2014 waktunya kerja keras! Udah kenal studio, jangan kuper. Please. Bikin seorang Sasa sadar itu susah ya /.\ malu malu malu.

Road to #100BukudiPerpusMiniku, aah ngecek buku lagi deh mumpung besok free. Sebelum tahun baru setrikaan harus udah kempes, jadi inget ibuk deh. Si Abang pulang, terus? Tauk ah. Ngantuk, pening, dan malam ini hening. Acara nanti jadi nggak ya, kapan belanja? ._.

Lalu pikiranku sekarang terbang ke tema, ke genre, ke pengerjaan –individukah, kelompokkah? Aku jadi raguu. Bantu aakuu //,\\

Closing statement,

Andai kita ini bumi, kita pasti sudah mati
Mati
Mati
Mati
Kalau bisa bangkit, kenapa tidak lagi?
_(RB)_

Aku rindu bergerak, lagi.

Gila-untuk-Apa

Kita tak saling mengenal,
Tak apa. Itu hanya seolah-olah, kan?
Apa peduliku pada keterabaianmu? Tidak ada, aku tak mengapa.
Apa gunanya jika aku bertanya,”Bagaimana caranya setelah ini kita bersua?”
Lantas kusahut sendiri dengan tanya,”Untuk apa?”

 

Rerimbun pohon di halaman dengan serentak berucap,”Sudahlah, lupakan saja,” hingga daun-daun dan ranting mereka menggoyang cantik, ditimpa sinaran mentari pagi.

“Hanya detik, detik, Sa. Tak lebih lama kau gelar obrolan dengannya,” haruskah pagiku dibuka dengan gundah gulana?
“Diamlah..”

*

Kali ini kutulis dengan mantap di buku catatanku; benda yang berbeda dari diari, beda lagi dari sekadar coretan rasa. Peran yang berbeda terhadap rasa yang sama. Jangan – lagi – terlalu – banyak – membaca – indahnya – kata-kata – cinta – secara – berurutan – dalam – waktu – dua – hari. Atau – kau – bisa – jadi – gila – karenanya.

Kutekan pena lebih dalam, hingga nyaris menembus disebalik halaman. Jangan – lagi – coba-coba – mengingat – Sosok-Pemilik-Sepasang-Bola-Mata. Atau – kau – akan – perlahan – gila – karena – menahan – bara – di – sekam – rasa – yang – ada.

Dan yang ketiga, sudah menembus halaman sebaliknya. Kalau – bertemu, untuk – apa – ??

Kaktusku, Merayakan Cinta

Mentari pagi ini tak tanggung-tanggung. Siraman sinarnya melingkupi setiap senti kulit jemari. Di beranda samping kamar, kutemui Kaktusku. Perlambang Cinta masa SMA. Hadiah istimewa dari dua sahabat tercinta saat usiaku menua menuju angka sembilan belas.

“Apa kabar dirimu?” Siraman Mentari terpantul di duri-duri kecilmu. Maafkan aku yang sempat salah sangka kepadamu.

Aku baik, seperti yang kau lihat. Bagaimana kabar sahabat di usia Sembilan belasmu?” Kau rentangkan duri-durimu. Melawan kantuk karena Mentari agak berlebihan menyengatmu, sementara Angin seperti ingin menidurkanmu. Mereka mendengar percakapan kita.

“Mereka? Tentu baik, aku titipkan mereka pada Pencipta sinar-sinar Mentari. Kubisikkan pada Angin agar ia mau hembuskan kidung-kidung rinduku, kubilang pada Mentari ‘Jangan lupa sengat mereka dengan semangatmu!’”

Lagi-lagi kau menggeliat, iri.

“Awalnya aku takut kau mati. Kaktus rentan air, sementara berandaku akan basah saat Hujan datang berbagi kisah.”

“Tapi Tuhan masih memberiku hidup.”

“Ya, karena kehidupan akan membawa kehidupan yang lain. Setidaknya dengan melihatmu, aku tahu persahabatanku masih dihidupkan-Nya.” Spontan saja, terlintas dibenakku dua sosok penuh canda di ujung terowongan rinduku.

“Pernahkah kau tak merindukan mereka?”

“Hm, nyaris tidak pernah. Bahkan saat tak sengaja teringat Pemilik Sepasang Bola Mata-pun aku justru semakin ingin mereka disini.”

“Apa yang kau pikirkan saat pertama kali membukaku?”

Aku tertawa, mengingat betapa salah sangkanya aku ketika disuruh jangan membanting bungkusan yang ternyata dirimu. “Kukira kau gelas, atau semacamnya. Fragile, mudah pecah. Ternyata, tak lebih agar akarmu tak tercerabut dari tanah.”

Kau memberengut. “Tak kau kira akulah isinya?”

“Tidak, tentu saja. Bagaimana aku tahu kalau aku hanya dipesan untuk jangan membolak-balikmu, apalagi membanting dan melemparmu? Kupikir itu semacam bola salju.” Kerut di kulitmu menandakan bibirmu yang mengerucut, sebal padaku.

“Lalu, apa itu tadi yang kau sebut dengan Bola-Bola Mata?” hembusan Angin membuatmu bergidik.

“Pemilik  Sepasang Bola Mata, jangan membuat sebutan sendiri untuknya,” ucapku dengan berlagak marah dihadapannya.

“Ah ya, itu. Ceritakan padaku tentangnya.”

“Untuk apa?”

“Setidaknya, kulihat kau sempat percaya dengan keabadian cinta yang orang-orang lekatkan pada sesosok Kaktus sepertiku. Kau ingin melihatku berbunga bukan?”

Aku meliriknya, agak lama, sambil memendam tanya, bagaimana kau tahu?

“Persahabatanku akan abadi, aku percaya itu. Sementara Pemilik Sepasang Bola Mata, aku tidak tahu. Bagaimana bisa aku tahu? Sementara dia tak kunjung membalas lambaian rinduku di dahan-dahan pohon taman bekas kuburan. Dia tak juga menyambangi rumahku meskipun ia tahu.” Aku bertekad untuk tak meracuni diri sendiri dengan ekspektasiku pada Pemilik Sepasang Bola Mata itu.Image

“Saat bersamamu, jangan izinkan aku menduakan mereka dengan sosok Pemilik Sepasang Bola Mata. Bagaimana kalau mereka tahu? Rinduku bisa saja terbagi, tapi sahabat-sahabatku tak bisa terbeli apalagi terganti. Mereka, sahabat usia Sembilan belas juga sosok dengan sepasang Bola Mata, menempati hati yang sama meski di Ruang yang berbeda. Dan yang perlu kau tahu, jatuhku dalam cinta masa SMA kualami lebih dari sekali. Tak lagi bisa kuhitung dengan jari.”

Untuk sosok Kaktus, sebagai perlambang abadinya cinta yang melingkupi persahabatan. Dari Desember ke Desember, empat tahun merayakan cinta.

Merapal Senja, Bukanlah Paripurna

Merapal Senja

Bukan Hujan kali ini
Cukuplah Angin,
Mentari dan riak air
Yang jadi saksi
atas Senja yang kurapal
dengan haru bersama kalian

Image

Riak air, bukan tetes-tetes air seperti biasa, menemaniku menyambut senja. Air yang bercengkerama manja dengan angin, menegur awan yang menunjukkan pesona. Indah, gagah. Tak angku, hanya memenuhi pinta Penulis kisah hari ini untuk memperindah senjaku. Senja langka di bulan Desember, katanya, ucapku sambil tersenyum mengingat sosoknya. Tuh kan, apa yang pernah kubilang.. Waktu itu tak pernah mau tahu dengan apa yang terjadi pada orang yang sedang dilanda asmara!
Kuculik kata-kata Azhar tentang cinta, secuplik saja ya 🙂

Ada yang beku : bibir
Ada yang tertahan : nafas
Ada yang tak berkedip : kelopak mata
Ada yang berdegup kencang : jantung
Ada yang berdesir keras : darah
Ada yang tertawan : hati
Ada yang berhenti berputar : bumi
Ada yang berhembus pelan : angin
Ada yang hening berbisik : rerumputan
Ada yang jatuh cinta padamu : aku

Barangkali, angin yang bertiup di pelataran senja tadi mengerti, seberapa kencang debur-debur cinta yang sedang berusaha meruntuhkan karang keimanan. Tsaah, cinta. Aku hanya akan menyebut cinta sebagai sepasang bola mata, atau cinta yang berulang kali membuatku terjatuh pada sosok yang sama. Cintaku masa SMA. Cintaku pada lebih dari sesosok sahabat, hatiku berdebur lagi dengan desir yang sempat hilang. Mendadak aku lupa, tentang kecewa karena keterpisahan kita. Aku abai dengan khawatir akan realita dunia strata pertama, atau ada yang diploma. Bagaimana kabar mereka sekarang ya? Rinduku, tertumpah pada baris-baris kata.

Aku tahu, temanku adalah sosok yang terlahir hebat, cantik, tampan, menarik, penuh karisma, bakat unik yang membuatnya berbeda, kepemimpinan yang tak perlu diragukan, kepintaran yang tak tersembunyi, kecerdasan yang tak bisa dipungkiri, kehidupan yang berkecukupan rezeki, fisik yang membuat banyak orang iri, dan kebaikan hati yang susah untuk kutandingi. Namun aku tahu, aku tak perlu mengatakan itu dihadapan mereka. Kami berteman karena kami adalah teman dan memang begitulah adanya, seperti itulah seharusnya. Bukan karena mereka kaya, cantik, tampan, menarik, berkecukupan hidup dan rezekinya, kepintaran dan kecerdasan yang mengunggulkannya.

Seperti yang seharusnya, memang begitulah adanya.

Mungkin angin memang tahu, cinta yang beterbangan seperti camar yang berbincang dengan Awan. Melebur dalam obrolan di pematang bendungan. Cinta yang tahu-tahu muncul begitu saja. Mendekatkan, mendamaikan. Tak ada gelisah.

Sepasang bola mata? Cinta yang berbeda. Memaksaku mengucap namanya dalam diamnya doa. Agar apa? Agar Penulis kisahnya menyimpan dulu setiap rinci namanya. Menyunting kisah yang membawa gelisah. Letakkan di bab bagian belakang, atau tengah. Sementara kisahku baru ditulis-Nya masih menuju tengah. Haha, sudah bicarakan cinta yang bisa diwujudkan saja. Sampai ia terkembang menjadi kata 🙂

ANGKA TIGA KOMA

ANGKA TIGA KOMA

Masa muda terlalu berharga untuk sekadar memperoleh angka tiga koma.

Angka tiga koma, bukan hal langka bagi mahasiswa perencana kota
Angka tiga koma, tetap saja dicari mahasiswa perencana

            Angka tiga koma, antara tantangan dan kungkungan

            Angka tiga koma?

            Sudahlah, masa mudaku bukan hanya untuk angka tiga koma

Aku percaya Tuhanku, jelas. Saat aku membantu-Nya, maka Ia selalu akan membantuku. Saat aku mempercayai-Nya, maka Tangan-Nya selalu terulur lebih erat mendekapku. Fatamorgana dunia, angka tiga koma. Yang berkali-kali di tiap semesternya akan ditanya, berapa banyak jumlah IPK? Disekitaran angka tiga koma. Tiga semester, dua diantaranya diatas angka tiga koma. Alhamdulillah, masih diatas angka tiga koma. Yang ketiganya, aku percaya masih diatas angka tiga koma. Semoga di angka tiga koma lima, dan lebih dari itu seperti harapanku.

Angka tiga koma, masa mudaku tak hanya untuk itu. Lebih dari sekadar angka tiga koma. Aku mencari teman, aku mencari pengalaman, aku mencari cara Tuhan untuk menjemput cinta-cinta seperti cintaku di masa SMA. Dan tak cukup meraih itu dengan angka tiga koma. Menghitung mundur untuk angka tiga koma, yang kuharap lebih dari yang dua sebelumnya. Angka tiga koma, sebagai persembahan untuk ayah ibu, angka tiga koma mungkin saja berguna. Angka tiga koma, ah yasudahlah. Usahaku tak hanya bernilai angka tiga koma. Sayang seribu sayang, kalau hanya demi angka tiga koma aku melupakan teman, mimpi, kesederhanaan, kepedulian, rindu saling berbagi, apalagi dukungan.

Mimpi-mimpiku tak semurah angka tiga koma.
Namun aku tahu, aku butuh angka tiga koma untuk mengirim surat cinta. Aku butuh lebih dari sekadar angka tiga koma untuk menjadi sebenar-benarnya manusia. Be the best version of me, more than “angka tiga koma”

Angka tiga koma di semester tiga, usahaku sudah menuju paripurna kini tinggal doa, doa dan doa