Kaktusku, Merayakan Cinta

Mentari pagi ini tak tanggung-tanggung. Siraman sinarnya melingkupi setiap senti kulit jemari. Di beranda samping kamar, kutemui Kaktusku. Perlambang Cinta masa SMA. Hadiah istimewa dari dua sahabat tercinta saat usiaku menua menuju angka sembilan belas.

“Apa kabar dirimu?” Siraman Mentari terpantul di duri-duri kecilmu. Maafkan aku yang sempat salah sangka kepadamu.

Aku baik, seperti yang kau lihat. Bagaimana kabar sahabat di usia Sembilan belasmu?” Kau rentangkan duri-durimu. Melawan kantuk karena Mentari agak berlebihan menyengatmu, sementara Angin seperti ingin menidurkanmu. Mereka mendengar percakapan kita.

“Mereka? Tentu baik, aku titipkan mereka pada Pencipta sinar-sinar Mentari. Kubisikkan pada Angin agar ia mau hembuskan kidung-kidung rinduku, kubilang pada Mentari ‘Jangan lupa sengat mereka dengan semangatmu!’”

Lagi-lagi kau menggeliat, iri.

“Awalnya aku takut kau mati. Kaktus rentan air, sementara berandaku akan basah saat Hujan datang berbagi kisah.”

“Tapi Tuhan masih memberiku hidup.”

“Ya, karena kehidupan akan membawa kehidupan yang lain. Setidaknya dengan melihatmu, aku tahu persahabatanku masih dihidupkan-Nya.” Spontan saja, terlintas dibenakku dua sosok penuh canda di ujung terowongan rinduku.

“Pernahkah kau tak merindukan mereka?”

“Hm, nyaris tidak pernah. Bahkan saat tak sengaja teringat Pemilik Sepasang Bola Mata-pun aku justru semakin ingin mereka disini.”

“Apa yang kau pikirkan saat pertama kali membukaku?”

Aku tertawa, mengingat betapa salah sangkanya aku ketika disuruh jangan membanting bungkusan yang ternyata dirimu. “Kukira kau gelas, atau semacamnya. Fragile, mudah pecah. Ternyata, tak lebih agar akarmu tak tercerabut dari tanah.”

Kau memberengut. “Tak kau kira akulah isinya?”

“Tidak, tentu saja. Bagaimana aku tahu kalau aku hanya dipesan untuk jangan membolak-balikmu, apalagi membanting dan melemparmu? Kupikir itu semacam bola salju.” Kerut di kulitmu menandakan bibirmu yang mengerucut, sebal padaku.

“Lalu, apa itu tadi yang kau sebut dengan Bola-Bola Mata?” hembusan Angin membuatmu bergidik.

“Pemilik  Sepasang Bola Mata, jangan membuat sebutan sendiri untuknya,” ucapku dengan berlagak marah dihadapannya.

“Ah ya, itu. Ceritakan padaku tentangnya.”

“Untuk apa?”

“Setidaknya, kulihat kau sempat percaya dengan keabadian cinta yang orang-orang lekatkan pada sesosok Kaktus sepertiku. Kau ingin melihatku berbunga bukan?”

Aku meliriknya, agak lama, sambil memendam tanya, bagaimana kau tahu?

“Persahabatanku akan abadi, aku percaya itu. Sementara Pemilik Sepasang Bola Mata, aku tidak tahu. Bagaimana bisa aku tahu? Sementara dia tak kunjung membalas lambaian rinduku di dahan-dahan pohon taman bekas kuburan. Dia tak juga menyambangi rumahku meskipun ia tahu.” Aku bertekad untuk tak meracuni diri sendiri dengan ekspektasiku pada Pemilik Sepasang Bola Mata itu.Image

“Saat bersamamu, jangan izinkan aku menduakan mereka dengan sosok Pemilik Sepasang Bola Mata. Bagaimana kalau mereka tahu? Rinduku bisa saja terbagi, tapi sahabat-sahabatku tak bisa terbeli apalagi terganti. Mereka, sahabat usia Sembilan belas juga sosok dengan sepasang Bola Mata, menempati hati yang sama meski di Ruang yang berbeda. Dan yang perlu kau tahu, jatuhku dalam cinta masa SMA kualami lebih dari sekali. Tak lagi bisa kuhitung dengan jari.”

Untuk sosok Kaktus, sebagai perlambang abadinya cinta yang melingkupi persahabatan. Dari Desember ke Desember, empat tahun merayakan cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s