Learn Everytime & Everywhere, even Abroad since Today!!

Wanna try?
*international free course

Concatenation of Words

Siapa bilang kuliah di universitas luar negeri sulit? Ga mampu lah, harus tes sana sini: TOEFL, IELTS, iBT, GRE, GMAT; biayanya mahal, ga ada uang buat beli formulir, ga ada duit buat les, atau bahkan ga punya waktu. But today, dengan hanya bermodalkan internet, kita bisa kapan saja & dimana saja untuk bisa belajar… menuntut ilmu dari expert2 dari luar negeri even univ2 sekelas ivy league di US. 🙂

Baru-baru ini secara random saya menemukan website baru untuk belajar. Yah sebenarnya dulu sudah pernah coba sih, tapi memang ga se-intense sekarang. Di dukung teman2 anak AVRG -tempat saya (numpang) nongkrong sekarang- yg banyak ambil juga, plus banyaknya waktu luang yang saya miliki menunggu keberangkatan ke Korea yg insyaAllah akhir februari ini, jadi saya jg sudah muliai menyusun SKS dari sekarang. Hihi. Yap, that is “ONLINE COURSE”.

Kurang tau apa saya yg kurang gaul baru tau website ini super keren, atau…

View original post 382 more words

Totalitas

Sejujurnya aku lupa dimana pertama kali kata ‘totalitas’ kubaca dan agak-agak lupa kapan tepatnya kata itu menggerakkan hati *ehem*. Berkali-kali berteori tentang pemaksimalan usaha, ujung-ujungnya toh aku hanya mengerjakan sesuatu ala kadarnya. Di pertemuan keempat kemarin, Kang Nass, pembina Sobat 3 —weh aku mulai sebut merek, berkata,”Bagi orang malas –serasa terpanggilah diriku, kesuksesan dan keajaiban adalah hoki. Tapi bagi orang yang berusaha, kesuksesan dan keajaiban adalah hasil. Buah dari usahanya.”

Yang manakah aku? Hm, keduanya barangkali. Aku pemalas, sangat. Berusaha, jelas. Walau tak jarang, dijeda usaha itulah bibit-bibit malas datang. Entah itu bilang capek, merasa agak pusing, alasan migrain kambuh, alasan ‘wanita’, hingga nanti dulu ya ada pekerjaan lain. Menunda adalah penyakit terbesarku dan malas membuatnya semakin menjadi. Apa obatnya? Aku juga sedang mencari. Coba simak paragrafi bawah ini dulu ya….

Totalitas, apa kabarmu?

Prinsip totalitas baru-baru ini ‘menghantui’ otakku. Dimulai ketika aku mulai dikumpulkan lagi dengan orang-orang biasa tapi dengan usaha yang tak bisa dikatakan biasa, akhirnya mereka menjadi luar biasa. Intinya, mereka hebat tak terkata! Bukan berarti kawan-kawanku saat SMA tidak hebat. Mereka hebat, tentu. Dan nyatanya kehebatan mereka semakin muncul begitu duduk di bangku kuliah. Ketika kami mengalami masa tertempanya masing-masing.

Titel, baru diingatkan lagi dengan segala macam titel yang kusandang –walaupun tak sehebat titelmu, tak ada lagi pundak kosong seperti sebelumnya. Dulu temanku masih bertitel teman. Namun sekarang titel mereka bertambah panjang. Temanku yang sudah jadi ketua organisasi A, temanku yang baru saja memenangkan lomba tulis B, temanku yang sedang fokus dengan amanahnya di lembaga C, temanku yang dipercaya sebagai koordinator acara D, dan seterusnya. Dari sini tak jarang muncul niat yang mulai melenceng, titel untuk sebuah gengsi. Bukankah sebuah titel atau amanah atau jabatan atau kepentingan apapun, nantinya bisa merusak niatan beramal? Aku tak main-main dengan ini. Didepan manusia aku bisa mengelak dan menyusun sejuta kata-kata mutiara. Namun didepan-Nya? Akan muncul kejujuran hakiki yang tak pernah kumiliki seumur-umur nyawaku nanti.

Belajar Totalitas

Darimana? Malam ini Azharologia, yang semoga kau siapa, kalau tidak coba buka blognya dengan alamat yang sama, sedang mengadakan nostalgi mengenang Ja(t)uhnya. Menjelang bukunya yang kedua, yang lagi-lagi diterbitkan mandiri, ternyata semangat self marketing-nya luar biasa! Mulai dari teaser, header di blog dan web TMR, soundtrack, video teaser, hingga advertising sewaktu PO. It’s all prepared! Belum lagi update via sosmed yang butuh ketelatenan admin, yang dipegang Azhar dan dua kawannya. Bukankah buku keduanya disusun disaat seharusnya ia mengejar skripsinya? Belum lagi ada beberapa agenda –aku ihat di TLnya– yang mengharuskannya mengunjungi beberapa kota. Hm, satu bentuk totalitas tersendiri yang mampu kutangkap.

Sementara saat ini aku yang saat ini sedang diposisikan sebagai tim publikasi oprek organisasi, seolah serba ingin cepat. Posisi cuma meminjamkan leptop dan menemani teman menyiapkan bahan video, terus editing. Berhari-hari, dan itu menjadi pengalaman pertama berhadapan dengan proses pembuatan video *plak, tutup muka. Belum lagi mengoordinir beberapa pamflet, dengan proses revisinya yang untunglah aku sudah terbiasa menunggu kata ‘#acc’. Seolah berkata pada teman, sabar ya memang begitulah prosesnya. Berkutat dengan jarkom sms lagi, lalu setiap hari juga mulai menyempatkan waktu diantara aktivitas lain –hingga harus diingatkan berkali-kali– untuk posting. Memang begitulah alurnya, jadi jangan mengeluh. Mengeluh dan marah takkan merubah keadaan *senyumdimanis-manisin, hehe.

Nah, dari situ saja bisa dilihat bahwa untuk hasil maksimal, totalitas sangatlah diperlukan. Tak perlu yang lain tahu kerja kerasmu, begitu enaknya kerja dibalik layar. Biarlah cukup ia yang tahu usaha dan doa-doa terbaikmu, begitu kata Kang Darwis di salah satu status Facebook-nya.

Apa kabar Buku?

Hm, kabar? Entah, aku butuh jatuh cinta. Haha, kali ini bukan bercanda ya. Dan aku butuh hujan. Benar. Setidaknya setiap tetes airnya yang menghujam bumi membawakanku inspirasi tersendiri. Oke, tiga bulan. Dengan iringan projek lain yang tak sedikit. Kata Kang Nass lagi,”Ambilah banyak untuk mendapatkan banyak.” *senyummanisbeneran 😀

Harus dipaksa! Sebelum tugas kuliah lhoo *lambai-lambai tangan di muka /.\ Menulis dua ribu kata saja sebenarnya bisa dalam waktu sehari, inspirasi benar-benar bisa dicari. Yang penting dicatat. Alah, aku berteori lagi. Dua bulan *mulaimintagampar! Siapkan sekitar lima puluh halaman, sekitar 15.000 kata. Okesip

Sekian, semoga yang kutulis disini segera kuselesaikan. Bantu aku menggampar mimpi-mimpiku (~’o’)~~(‘o’~)

Akan ada 1001 satu alasan bagimu untuk menunda sesuatu, namun butuh cukup satu alasan bagimu untuk memenuhi panggilan jiwamu –Kang Nass, lagi-lagi.

Selamat Tinggal…

Biasanya di jam-jam malam kau sudah berburu keluar. Kalau tidak, kau sudah bergelung seperti biasa di pojok favoritmu.

Tak tega menuliskannya. Sebab kau selayaknya menjadi kenangan, bukan menghilang dalam serbuk-serbuk kata.

Diiringi rinai Hujan, yang menangis tertumpah membersamai. Aku masih ingat kepadamu yang selalu bergelayut manja, sangat manja, kepadaku. Rasa-rasanya kau tak pernah peduli pada lelahku, tanpa babibu, dengan lugunya kau mendekatiku. Bergelayut manja, seperti biasa. Dan tahukah kau rasanya, bagaimana tercabiknya rasa ini ketika harus melihatmu mati dengan cara yang benar-benar tak pernah kubayangkan? Ngilu mengiris sembilu.

Kullu nafsin dzaaiqotul maut..

Dan jiwamu telah pergi, benar-benar pergi. Aku tak perlu mencari kemana jiwamu pergi. Beruntungnya kau.. Pergi tanpa hisab, pergi dengan tenang. Setenang wajahmu saat menghabiskan waktu dengan bergelung manja dimana saja.

Dan aku tercabik seketika. Ada teriakan, ya teriakan menjelang kematianmu, saat namaku dipanggilnya. Ada darah yang kaukeluarkan, bagaimana bisa? Nafasmu lebih sesak dari sebelumnya saat aku dan ibu masih menyedokimu air madu. Aku berharap diberi-Nya keajaiban untuk menjagamu lebih lama. Namun tahukah, aku sudah terlanjur mencium bau kematian sebelumnya. Sekumpulan lalat buru-buru saja mendekat, mendengung menjengkelkan disekitarmu yang kelelahan menopang badan. Kuelus tubuhmu perlahan, seolah kuingin memaksamu tahu itu caraku menguatkanmu. Berulang kali kupanggil namamu dengan manja seperti biasa. Nihil. Melirikku saja kau pun tidak. Sesakit apa ngilu yang saat itu kaurasa? Kusentuh lagi badanmu, hangat namun lemas.

Bukan melepas kepergianmu yang membuatku berat, walau tentu saja melepasmu terasa berat. Tahukah kau bagaimana ngilu semakin berdenyut dijantungku saat melihatmu kejang dengan sakit yang begitu tak tertahan? Melihatmu meregang nyawa, melihatnya, dengan mataku –tanpa penghalang. Tahukah kau bagaimana ingin kutatap matamu untuk menguatkan? Namun yang kudapati justru maut, ada maut mengintai di mata kosongmu. Dan tahukah kau, betapa berharapnya aku melihatmu berlari lagi ke arahku setelah kejang itu, berharap kau sembuh seperti sedia kala? Tanpa pernah merasa sakit, tanpa pernah melihatmu mengeluarkan darah dan menahan sakit yang begitu parah…. Namun aku hanyalah satu diantara hamba-Nya yang mengharap. Kutunggu kau, masih bergerak. Dan berharap kau akan bangun, mengeong manja padaku seperti biasa. Menit berlalu, kakimu masih bergetar. Namun tatapanmu kosong. Benar-benar kosong. Mulutmu tak lagi merespon suap-suap madu ibu. Menit berganti jam, kau masih meneruskan diam.

Dan kini jam berganti hari. Hari kedua selepas kematianmu dengan cara yang tak pernah kubayang sebelumnya. Baru kutengok pusaramu pagi tadi. Dan seperti biasa aku berharap kau masih duduk menggelung di pojok favoritmu dan akan terbangun begitu mendengar suaraku. Masih lekat dan masih dekat. Sedekat masa lalu, sedekat itu pula segalanya telah menjadi masa lalu. Dengan kematianmu, kusadari bahwa mati adalah pasti. Walaupun kau jauh lebih menyenangkan, mati tanpa hisab –tanpa pertanggungjawaban. Kematianmu menunjukkan padaku detik-detik maut menjemput. Kau yang tak berdosa saja harus sebegitu menderita menghadapinya, bagaimana dengan aku yang penuh lumuran dosa??

Kertas Kusam Itu Aku

Iri bergejolak, pada mereka yang terlihat bersih penuh semangat. Laksana kertas putih, berkibar tertiup angin penuh semangat. Belum ada noda, justru bersiap menerima tinta-tinta jatuh diatasnya –mewarnai. Kalau ditanya dari usia, dalam hal angka, usia kami sama. Kadang aku lebih muda, walau seringnya beberapa bulan lebih tua –dari segi angka. Namun, usia dalam artian mendekat pada-Nya, siapa yang lebih tahu? Niat dan kualitas sepenuhnya ada dalam hati, yang hanya bisa terbaca tanpa kata oleh-Nya.

Dan aku, si kertas kusam itu. Tertetesi tinta lebih dulu. Bagus? Ya, barangkali. Dan selalu harap bisa begitu. Sayang, kadangkala tetes-tetes tinta itu tak selalu menawan iman. Seringnya penghapus yang ada justru mengotori, membuat kertasku kusam. Hasilnya, kadang semangat luntur, muncul niat yang tak ikhlas, amal muncul karena adanya kepentingan. Bolehkah? Tidak, karena segalanya bukankah untuk Allah semata…. Dan dengan berlaku seperti ini, memburamkan kertas, bukankah apa-apa yang kulakukan bukan lagi semata untuk-Nya?

Aku si kertas kusam…. Sering aku bertanya, atau membayangkan dalam kepala, seperti apa pengadilan-Nya? Aku takut, ketika posisi merusak amal. Aku takut ketika amal dilakukan karena jabatan, karena kedekatan dengan orang-orang.. Akan tetapi, aku juga mau menjadi elang. Aku tak mau sekadar menjadi ayam. Ibarat pepatah, “Berkumpul dengan ayam menjadikanmu seperti ayam, berkumpul dengan elang menjadikanmu seperti elang.” Bukankah selanjutnya, ini tentang pilihan? Aku memilih bukan menjadi ayam, tapi akan terus berproses menjadi elang.

Aku si kertas kusam, siapa yang mau menjadi lebih kusam dan kotor? Aku tidak. Kalau bisa, aku mau selalu ada iri yang menggelayut karena melihat mereka-mereka yang masih putih. Yang masih semangat mengejar ilmu, yang menyemangatkan diri menunaikan ibadah. Yang masih baru hingga terus merasa haus. Bukan seperti aku yang mulai merasa kenyang, mulai merasa terselamatkan dari hausnya gurun ilmu pengetahuan. Jika ada cermin, makhluk paling jujur akan segala rupa, yang menggambarkanku, pasti aku malu. Teramat sangat malu, tak mau menatap wajahku sendiri. Dan masih ada air, yang bisa menggambarkan sosokku, menggambar sosok-sosok putih mereka. Semoga dengan menatapnya aku tahu betapa kotornya diriku dan betapa bersihnya mereka.

***

Semoga posisi tak merusak amal dan keikhlasan, aamiin

Siapkan benteng iman, hati, pikir, dan jasmani 😉

Penurunan Sifat

Beberapa waktu lalu saat saya sedang makan, bareng bapak juga adek –plis bukan kembaran, ternyata sedikit sifat untuk memilih makanan adek saya itu warisan sifat dari bapak. Kalau dihubungkan dengan pelajaran biologi, gimana penggambaran mata rantainya ya? Entah, saya juga tidak tahu. Kalau ditanya, yang terbayang justru kotak-kotal abstrak tempat DNA. Membayangkan bagaimana sih bentuk fisik sifat suka pilih-pilih makanan itu? Menggeliat seperti cacing, jumpalitan ala kodok, atau seperti apa? Lalu, bagaimana proses penurunan sifatnya? Apa larut begitu saja bersama darah?

Hm, barangkali bukan melalui DNA proses penurunan sifat itu terjadi. Masih ingat dengan ungkapan Guru kencing berdiri, murid kencing berlari? Pastinya hal yang sama terjadi pada keseharian kita saat bersama dengan orang tua, atau nanti saat kita berada diposisi mereka, sebagai orang tua. Pagi ini ibu manyun karena anak perempuannya ini tak lekas bangun, padahal pagi sudah kembali. Wah, setelah itu saya jadi mikir ternyata kebiasaan manyun saya saat lagi bad mood juga bad feelling diturunkan persis oleh ibu saya. Atau kebiasaan makan adek saya yang suka pilih-pilih, ya kadang mau makan mie instan tapi harus dicuci berkali-kali atau nggak mau makan saus botolan kecuali yang sekiranya terjamin dan itupun nggak banyak, diturunkan langsung oleh bapak. Lewat apa? Lewat kebiasaan, lewat keseharian yang sering dijumpai saat beraktivitas apapun di rumah.

Tentu menyenangkan ketika kebiasaan dan sifat baiklah yang sempurna diturunkan. Namun akan terjadi sebaliknya jika sifat dan kebiasaan yang tidak baiklah yang akhirnya terwariskan. Buah tak jatuh jauh dari pohonnya, begitu lagi konotasi pepatah mengatakan. Ada yang bilang saya ini teliti, belum tahu saja bagaimana teledornya saya, hoho. Padahal ibu saya itu jauuuh berkali-kali lebih teliti daripada saya. Setiap pengeluaran ditulis, setiap habis kulakan untuk toko masih hafal di luar kepala, setiap ada agenda langsung ditulis di kalender, menyimpan sesuatu jarang bisa terdeteksi –eh tapi kalau makanan saya bisa menemukannya!, bahkan ada sesuatu yang baru sekecil apapun barang anak atau suaminya –bapak, pasti langsung ketahuan! Sisi positifnya, ada beberapa persen dan sepertinya dominan sifat itu yang turun jadi salah satu sifat saya.

Yang mungkin saya heran adalah darimana datangnya bakat musik juga menari saat kecil, sampe-sampenya ikut lomba? Padahal bapak ibu saya tidak pernah, seingat saya, mengajari saya menari apalagi bermain musik. Ngepol juga melihat kakak saya bermain gitar atau seruling, selebihnya menari saya dapat di SD dan musik saya dapat melalui kursus. Meskipun, ternyata dari kakek dan nenek dari pihak bapak dan ibulah yang mewariskannya. Eyang putri dari ibuk ternyata dulunya penari, sementara eyang kakung dari bapak punya satu set gamelan dirumahnya –kok saya nggak pernah liat ya? Kalau sudah begini, darimana saya mendapatkan warisan sifat melalui interaksi kebiasaan sedangkan eyang dari pihak bapak sudah meninggal sejak saya lahir dan saya sudah SMA ketika tahu eyang putri dari ibuk dulunya penari? Apakah kotak-kotak DNA itu berperan? Wallahu’alam….

Sekali lagi saya kutipkan, which one will you choose : Habits make you or you make habits? 😉

Dimulai dari sekarang, siapkan kebiasaan dan sifat terbaik agar bisa ditiru oleh keluarga kita kelak. Kalaupun belum berkeluarga, seperti saya hehe, siapa tahu kebiasaan dan sifat baik itu bisa ditiru teman, sahabat, keluarga, dosen, dan semuanya! Karena dakwah adalah menyampaikan, yang terbaik, mulai dari yang paling sederhana, mulai dari mana saja, dan kapan saja ^^

Chamasah!

Menegapkan Bahu (T P D 5)

“Ketika amanah yang turun kebahumu mulai terasa berat, tak ada jalan lain bagimu kecuali satu : tegapkan bahumu, angkat dagumu.”

Buat rasa takut yang hinggap menjadi takut dengan keberanianmu
Usir sombong yang menyambang dengan ikhlas yang kauperjuangkan.

 

Bye-bye third semester :’)
Kuliah terakhir adalah kemarin, fuuh legaa. Walaupun tak semestinya santai-santai, karena semester depan barangkali tidur dan kasur adalah kata sakti untuk bahagia! Dijalani dulu saja *senyum ke diri sendiri. 

Stop, ganti nulis “Penurunan Sifat”. Ingat sama apa? Sama DNA, hoho ^^

Menangkap Makna

Bismillah.

Menangkap makna, wah sudah lama ya saya tak melakukannya. Sudah jarang mengamati, sudah jarang memekakan diri, pikir, dan hati. Sepanjang Januari ini yang kutulis tak lebih dari sekadar narasi hati. Baca saja : curhat. Padahal, menulis bukannya menuangkan apa yang sudah kita pelajari? Sebut saja dengan menangkap makna. Kalau favoritku, sembarangan menganalogikan. 

Hm, di Aleph-nya Paulo Coelho dipaparkan deh betapa makna, sekecil apapun itu, akan menimbulkan syukur. Coelho, yang di novel itu seperti mengisahkan hidupnya, terlanjur terjebak pada kondisi stagnan dari rutinitas besarnya. Roadshow buku, mengisi seminar, yah layaknya seseorang yang sudah punya nama besar. Sayangnya, ia merasa kosong. Nihil, tanpa makna. Untuk itulah, ia putuskan keliling Rusia menggunakan kereta terpanjang di dunia –Trans Siberia. Tak lain dan tak bukan, ia mencari makna yang menghilang dari hidupnya. Lalu, bisakah saya hubungkan disini kaitan makna dengan hati sebagai kekayaan yang hakiki?

Di Sang Alkemis, Coelho dengan apik meramu hal-hal kecil, tapi dasar sekaligus begitu dekat dengan diri kita. Tak perlu jauh mencari, kekayaanmu adalah apa yang ada di hatimu. Begitulah saya menyimpulkan maksudnya. Syukur, menjadi kunci dalam memaknai makna. Syukur menjadikan hidup semakin bermakna. Live your life, hidupkanlah hidupmu. Sebab kehidupan yang satu akan membawa kehidupan bagi yang lain. Dengan adanya tumbuhan, hiduplah manusia dan hewan, juga tumbuhan lainnya. 

Begitu juga senyum dan semangat. Satu senyum akan membawa senyum yang lain, satu semangat akan menumbuh dan membakar semangat yang lain! Masa iya tega, ketika kita tersenyum, orang akan mengabaikan sebersit senyum di wajah kita?

***

Alhamdulillah, hari ini begitu luar biasa! Sip, ada tujuan baru. Anggap saja pengisi liburan 😉
Hari keren menyambut keluarga baru 😀