Selamat Tinggal…

Biasanya di jam-jam malam kau sudah berburu keluar. Kalau tidak, kau sudah bergelung seperti biasa di pojok favoritmu.

Tak tega menuliskannya. Sebab kau selayaknya menjadi kenangan, bukan menghilang dalam serbuk-serbuk kata.

Diiringi rinai Hujan, yang menangis tertumpah membersamai. Aku masih ingat kepadamu yang selalu bergelayut manja, sangat manja, kepadaku. Rasa-rasanya kau tak pernah peduli pada lelahku, tanpa babibu, dengan lugunya kau mendekatiku. Bergelayut manja, seperti biasa. Dan tahukah kau rasanya, bagaimana tercabiknya rasa ini ketika harus melihatmu mati dengan cara yang benar-benar tak pernah kubayangkan? Ngilu mengiris sembilu.

Kullu nafsin dzaaiqotul maut..

Dan jiwamu telah pergi, benar-benar pergi. Aku tak perlu mencari kemana jiwamu pergi. Beruntungnya kau.. Pergi tanpa hisab, pergi dengan tenang. Setenang wajahmu saat menghabiskan waktu dengan bergelung manja dimana saja.

Dan aku tercabik seketika. Ada teriakan, ya teriakan menjelang kematianmu, saat namaku dipanggilnya. Ada darah yang kaukeluarkan, bagaimana bisa? Nafasmu lebih sesak dari sebelumnya saat aku dan ibu masih menyedokimu air madu. Aku berharap diberi-Nya keajaiban untuk menjagamu lebih lama. Namun tahukah, aku sudah terlanjur mencium bau kematian sebelumnya. Sekumpulan lalat buru-buru saja mendekat, mendengung menjengkelkan disekitarmu yang kelelahan menopang badan. Kuelus tubuhmu perlahan, seolah kuingin memaksamu tahu itu caraku menguatkanmu. Berulang kali kupanggil namamu dengan manja seperti biasa. Nihil. Melirikku saja kau pun tidak. Sesakit apa ngilu yang saat itu kaurasa? Kusentuh lagi badanmu, hangat namun lemas.

Bukan melepas kepergianmu yang membuatku berat, walau tentu saja melepasmu terasa berat. Tahukah kau bagaimana ngilu semakin berdenyut dijantungku saat melihatmu kejang dengan sakit yang begitu tak tertahan? Melihatmu meregang nyawa, melihatnya, dengan mataku –tanpa penghalang. Tahukah kau bagaimana ingin kutatap matamu untuk menguatkan? Namun yang kudapati justru maut, ada maut mengintai di mata kosongmu. Dan tahukah kau, betapa berharapnya aku melihatmu berlari lagi ke arahku setelah kejang itu, berharap kau sembuh seperti sedia kala? Tanpa pernah merasa sakit, tanpa pernah melihatmu mengeluarkan darah dan menahan sakit yang begitu parah…. Namun aku hanyalah satu diantara hamba-Nya yang mengharap. Kutunggu kau, masih bergerak. Dan berharap kau akan bangun, mengeong manja padaku seperti biasa. Menit berlalu, kakimu masih bergetar. Namun tatapanmu kosong. Benar-benar kosong. Mulutmu tak lagi merespon suap-suap madu ibu. Menit berganti jam, kau masih meneruskan diam.

Dan kini jam berganti hari. Hari kedua selepas kematianmu dengan cara yang tak pernah kubayang sebelumnya. Baru kutengok pusaramu pagi tadi. Dan seperti biasa aku berharap kau masih duduk menggelung di pojok favoritmu dan akan terbangun begitu mendengar suaraku. Masih lekat dan masih dekat. Sedekat masa lalu, sedekat itu pula segalanya telah menjadi masa lalu. Dengan kematianmu, kusadari bahwa mati adalah pasti. Walaupun kau jauh lebih menyenangkan, mati tanpa hisab –tanpa pertanggungjawaban. Kematianmu menunjukkan padaku detik-detik maut menjemput. Kau yang tak berdosa saja harus sebegitu menderita menghadapinya, bagaimana dengan aku yang penuh lumuran dosa??

Advertisements

2 thoughts on “Selamat Tinggal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s