Bagasi dan Charger Hape

Bagasi

Kalau dilihat dari fungsinya, pengin diantara dua benda yang nyaris selalu menemani aktivitas saya, mengalami pelebaran. Bagasi motor dan tas gendong saya. Fungsinya sama kan? Menyimpan barang. Motor saya, yang gede dan gendut itu ternyata memiliki bagasi yang luaarr biasaa kecilnya kalau dibandingkan dengan ukuran body bohainya. Cuma cukup satu pasang mantol ! Having no problem before, tapi sekarang disaat saya jadi makin jarang pulang ke rumah –entah untuk tugas maupun amanah- walhasil saya mengharap ada yang memantrai bagasi motor saya. Siapapun, boleh Hermione ataupun Ron. Baiklah, saya menghayal. Normal kan, karena kalau mantra perluasan sederhana itu baju ganti, perlengkapan mandi, atau barang-barang lain bisa saya masukkan kesana. Cukuplah buku-buku dan laptop yang saya gendong kemana-mana. Itupun masih pengin juga dikenai mantra perluasan sederhana buat tas saya. Enak sekali pasti. Bisa masukin barang selemari, hoho *alay.

 

Charger Handphone

Ada apa dengan benda satu ini? Yang jelas sih, saya harus mulai membawanya kemana-mana, seperti sikat gigi yang selalu ada di tas saya, kalau-kalau mendadak nggak pulang lagi dengan alasan lembur tugas. Kehidupan yang begitu dekat satu semester ini, meskipun semester ini baru masuk minggu ketiga ternyata! –dan saya udah tepar nyaris dua kali. Kemarin, tepat tanggal 26 Februari, hape saya drop. Kompak sekali ternyata dengan badan saya yang nyaris belum istirahat sejak minggu kedua kuliah diselingi hujan abu itu. Terhitung sudah tiga kali nggak pulang, dengan jam tidur yang menurun dan mobilisasi yang meningkat agak drastis. Kesehatan drop, diikuti semangat ngerjain tugas yang meluncur bebas. Semoga memikirkannya nggak bikin saya muntah-muntah. Saking parahnya, awal pekan minggu lalu saya sempat berpikir untuk pindah fakultas. Hidupmu nggak tenang ketika jadi mahasiswa teknik *wups.

Ya! Dua nikmat yang sering kamu lalai terhadapnya : kesehatan dan waktu luang. Dua hal itu tengah direnggut dari saya *halah. Terasa agak menyakitkan juga, ketika saya sedang berusaha (agak) keras mengatur waktu dan menaikkan mood mengerjakan tugas dengan deadline tak teraturnya, ada gitu teman saya yang masih bingung mau ngapain di kosan? Menyebalkan wal memprihatinkan. Iyasih memang, di jurusan saya, minim orang yang aktif berorganisasi di luar. Ah sudahlah, rasanya tak baik jika ngomong begini. Jadi agak gimana aja ketika tugas-tugas yang ada kok malah nyaris membuat lumpuh aktivitas lain –bahkan otak, fisik, dan hati! 

 

Sudahlah, apa gunanya mengeluh? Your problems won’t finish when you grumbled anytime.
Sadari, Allah tak akan menempatkan keputusan-Nya pada pundak yang salah. Tak juga menyia-nyiakan hamba-Nya dengan amanah yang tak mampu ditanggungnya. Yang ada, hamba-Nyalah yang selalu lupa bersyukur. Yang selalu mengeluh dan merasa kurang, padahal tak banyak yang telah ia lakukan.

Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s