Aku Masih Punya Tugas Lain

Aku : “Yey, tugasku sudah selesai!”
Hati, atau apalah namanya : “Yakin? Lha tugas mereka?”
Aku : “Lah, yang penting tugasku sudah selesei, kan? Siapa suruh mereka yang tak memperhatikan atau terlalu lama menunda.”
Hati : (Diam. Merasa aneh denganku yang seolah sedang tak sadarkan diri).
Aku : “Iya, tugasku sudah selesai. Kewajibanku sudah kubayar tunai. Jadi, aku mau pindah ke tugas lain.”
Hati : (Masih diam. Sorot matanya terlihat sebal)
Aku : “Hei, aku masih punya tugas lain. Tidakkah kausadar? Bahwa ketika aku sudah selesai dari tugasku, aku harus segera cepat bergerak.”
Hati : “Egois.”
Aku : “Aku masih punya tugas membantu mereka menyelesaikan tugasnya. Walau aku bawel dan cerewet dimana-mana. Tak bolehkah, kalau aku bergerak secepatnya?”
Hati : (Diam, tak menyela lagI).

*

Walau kadang limbung, bergerak membuatmu tak mudah jatuh. Sebab ada yang memegangi dengan pasti, si Pemberi helaan nafas ini. Selamat malam, semoga esok harimu menguntungkan. Dan aku –serta dirimu- tak jadi orang-orang yang merugi, lagi.

Segeralah bergerak, agar tugas mereka pun segera tunai selesai 🙂

Kamar | Senin, 31 Maret 2014 | 11:14 PM

Advertisements

Ketidakadilan

Hei, aku mulai timpang sebelah. Terhadap mereka, terhadapnya. Aku tahu resikonya, tetap saja aku melakukannya. Lakukanlah pekerjaan yang kamu cintai, hingga tak merasa bekerja lagi selamanya. Hei, untuk urusan ini sepertinya aku harus mulai berbagi hati. 

*berbagi antara tugas dan ‘cinta’ itu sendiri.

Hm, cinta?

Ruang Publik di Kampus

Tugas kuliah menumpuk! Rapat organisasi udah antre! Temen-temen SMA ngajakin kumpul!

Begitu sepertinya ya gambaran aktivitas seorang mahasiswa, baik dia yang aktif berorganisasi maupun yang kuliah-duduk-dengar-kemudian pulang-nugas lagi, huh. Yang aktif nugas, yang dipikirin ya tugasnya. Yang aktif organisasi, ya organisasi yang dipikirin. Yang aktif nugas tapi aktif nugas? Itu saya, haha, dan jadi cumleng kalau udah tabrakan waktunya. You must decide something you sacrifice then. 

Well, berbicara tentang segala aktivitas manusia, kita batasi dalam hal ini mahasiswa, tentu saja membutuhkan wadah. Aktivitas membutuhkan ruang. Contohnya? Gampang saja. Ketika mengantuk, tentu kita ingin bisa segera tidur. Kalau lagi di kelas, tentu terhambat dengan adanya dosen atau kursi yang memenuhi kelas. Ini contoh kecil tentang kebutuhan ruang –ruang untuk tidur.

Atau saya. Saya sebel sama ruangan yang kecil, sempit, atau sumpek. Membunuh inspirasi, memperburuk mood. Jadi, saya akan memilih tempat yang luas untuk apapun, nugas contohnya. Saya orangnya suka muser, muter dari sudut ke sudut untuk cari posisi terenak. Dinamis, ah bukan juga. Nggak betahan aja. Kalau di kamar, saya bisa mojok di atas kasur, mepet di deket pintu, ndlosor sembarangan di lantai, atau cukup duduk bersila di depan meja. Begitu, selalu berpindah dari satu posisi ke posisi lain, dari satu tempat ke tempat lain. Itu tandanya saya membutuhkan ruang dengan kriteria-kriteria tertentu yang membuat saya nyaman. Nggak sempit, nggak monoton dengan satu view, nggak membatas gerak kaki –yang nggak panjang ini- dengan catatan memungkinkan saya ndlosor dan sila dari waktu ke waktu. Mungkin karena itulah, kosan tidak pernah cocok dengan tipe anak rumahan seperti saya.

Itu benar-benar contoh remeh dari kebutuhan akan ruang. Kalau di kampus, setiap mahasiswa selalu membutuhkan ruang. Kalau sudah berkumpul, mahasiswa membutuhkan adanya ruang publik. Minimal untuk ngerjain tugas. Selebihnya, tentu bisa difungsikan untuk hal-hal lain semacam ngomongin organisasi, ngobrolin isu-isu terbaru, ngobrolin hal-hal kreatif, atau minimal ada pojok strategis untuk nge-charge laptop, hape, buat baca, buat nunggu temen, buat ngehabisin makanan, buat cuci mata *heleh*, buat gabut kalau lagi nggak ada kerjaan. Sepele, kan? Tapi bukankah ruang remeh seperti itu yang kita cari? Perpaduan ruang yang pas bagi kita untuk dapat berinteraksi sekaligus tak merasa terganggu jika merasa perlu fokus sendiri.

Hal itu belum banyak dijumpai di kampus, termasuk UNS. Yang sudah ada menurut saya adalah FK dan FISIP, karena belum semua ruangan di sembilan fakultas saya jelajahi. *masuk list studi tur, haha*. FT? Beuh, lihat saja sendiri deh. Ruang publik yang ada jadi rebutan saking terbatasnya ruang publik yang ada. Yang terkenal itu komunal sipil, komunal industri, komunal mesin, dan perpustakaan. Selebihnyam lorong-lorong kelaslah yang menjadi incaran. Jadi, jangan heran ketika banyak yang kemudian nglesot di lantai bergerombol dengan laptop masing-masing. Lebih parah lagi, jika sudah lari ke mushola atau masjid. Wah, mushola gedung V lantai 4 itu tempat favorit buat nugas karena ada AC-nya. Masjid FT jadi favorit pertama karena wifi-nya kenceng, banyak colokan pula. 

FISIP, yang barangkali dikenal sebagai fakultas paling sosial, sudah menyediakan kebutuhan ruang yang oke. Apa ya, Public Space kalau nggak salah namanya. Cuma lorong panjang dengan tepi dilengkapi colokan dan koneksi wifi, tapi uniknya, si Public Space ini bisa banget digunakan untuk kegiatan rame-rame maupun cuma mojok sendiri. Easy place to stay sih kayaknya. Begitu juga FK. Bangku dan meja yang bisa digeser dan gazebo sudah disediakan. 

Well, bukan berarti fakultas-fakultas lain tidak menyediakan ruang publik ya. Siapa yang ga kenal dengan Danau Pertanian yang airnya nggak ada itu? Atau Taman Yustisia di Hukum? Atau Lembah Teknik? Taman MIPA? Hutan FISIP? Kalau di FE disebut apa ya, saya nggak terlalu tahu. Dan FSSR saya baru dua kali kesana tanpa menjelajah karena agak horor juga, hehe. Di FKIP juga ada. Semua sudah ada, cuma minusnya disediakan tetapi belum terlalu peka dengan kebutuhan mahasiswa. 

Mobile adalah ciri mahasiswa, menurut saya sih. Jadi ruang publik harus menyediakan kursi atau dudukan yang bisa digeser-geser. Kalau tidak bisa digeser, sediakan tempat untuk geser badan –maksudnya lesehan. Kalau ruang sudah tersedia, aman dari hujan, terlindung dari panas, nggak semutan, disediakan tempat sampah, ada koneksi wifi, ada colokan, dekat dengan kamar mandi, tempat ibadah dan kantin, pasti kampus benar-benar jadi tempat yang produktif. 

Yup, itu hasil jalan-jalan singkat nyari tempat syuting MV Sobat 3 hari ini dari PSB FKIP ke pura. Hm, jadi teringat dengan tugas Perancangan Kota tentang komposisi dan keserasian dengan fungsi. Let’s check there out! 

Urban Design ~

Akhirnya, apa yang dulu ada di angan ketika memilih jurusan ini datang. Seharusnya ada di semester 6, hm, tapi nope sudah diambil semester ini. Apa itu? Perancangan kota. Entahlah, merasa memang masih belum mapan beneran ini prodi. Serasa perlu disampaikan ketika masih di semester awal. Semester 2-4, bukan di semester 6. Tak apa, tempat hanyalah sarana. Prasarananya adalah niat tholabul ilminya, plus pengamalannya nanti.

Pengin tahu seperti apa perancangan kota itu? Coba cek dulu hasil kerja kilat kelompok saya ini.https://docs.google.com/presentation/d/1aORI1sQBYIIXq6hT_JEIlHM7up8jEtW3ncwGIrYY2BQ/edit#slide=id.p14. Intinya ya  memang desain rancangan kota. Ketika biasanya tata ruang lebih fokus pada fungsinya, perancangan kota sekaligus memperhatikan nilai seni dan estetikanya. Agar sebuah kota bisa dibedakan dengan kota yang lain, dengan ciri khas di masing-masing kota. Salah satu hal terpenting yang harus diperhatikan dalam perancangan dan desain kota (urban design) adalah desain yang dibuat seorang perencana akan sangat berpengaruh pada semua orang. Ibaratnya polusi, dampaknya kemana-mana. Begitu pula dengan desain kota. Jika desainnya bagus dan menyeluruh, serta mampu mewadahi seluruh kebutuhan dan aktivitas warga kota, memang diharapkan seperti itu. Akan menjadi lain dan buruk dampaknya jika desain kota dibuat secara sembarangan.

Sambil lihat hasil kerja kelompok saya dan dua teman saya yang lain, akan saya review sedikit teori mengenai kota. Diambil dari Eropa, sebab dari sanalah peradaban tertulis paling rapi (katanya, kabar peradaban Islam begimana?)

  • FUNGSIONALIS
    Sesuai namanya, kota didesain berdasarkan fungsinya. Terdapat zoning yang memisahkan fungsi masing-masing kawasan pada area-area kota tertentu. Kota dianggap sebagai organisme kompleks dengan jaringan sistem yang terkendali. Machine for living. Teori fungsionalis menetapkan kota sebagai area dengan zona campuran (wisma, marga, suka, karya). Zonasi pada area tertentu menyebabkan rencana tersekat-sekat (fragmented) dan kurang komprehensif. Pembangunan dilakukan dari segi fisik dengan maksud fungsi yang ada tetap berjalan, dalam skala besar.
  • HUMANIS
    Mengkritisi teori fungsionalis yang membangun dalam skala begitu besar dan kemudian disadari sulit untuk direalisasikan, teori humanis kemudian menengahinya dengan perencanaan skala kecil tetapi detail. Yang menjadi fokus dari teori ini adalah masalah sehari-hari warga kotanya. Tujuan utamanya adalah agar warga kota bisa tinggal dengan nyaman di kotanya, meskipun harus mengintervensi lingkungan.  Pusat kota sengaja bertipe campuran agar mampu mengakomodir banyaknya kebutuhan warga kota. Sayangnya, rencana kota sifatnya fragmented lagi karena skalanya kecil.
  • SISTEMIS
    Desain yang mengutamakan keterkaitan antarsistem dalam kota. Satu kota dengan kota yang lain dihubungkan dengan jaringan transportasi, tak jarang membentuk sumbu. Jaringan yang ada menimbulkan munculnya perubahan yang berlangsung terus-menerus (dinamis) yang mengakibatkan tidak adanya satu pusat kota utama. Sebab kota selalu tumbuh dengan dinamis dan menyebar di seluruh kota yang terintegrasi –pertumbuhan bisa terjadi di sudut kota manapun. Karena inilah, perencanaan kotanya dalam skala besar. Sayangnya, karena tidak adanya pusat kota utama, ciri khas kota A bisa menghilang. Ada bagian kota yang tumbuh sedemikian pesat, namun ada pula bagian kota yang kemudia menyusut dan hilang.
  • FORMALIS
    Desain yang menekankan pada bentuk-bentuk formal, seperti geometris, simetris, lengkung, atau bersumbu-sumbu. Memiliki dua aliran, yakni Beaux-Art dengan nuansa klasik dan Neo-Rasionalis yang lebih modern. Disini estetika dan nilai-nilai historis sangat diperhatikan, yang kadang mengabaikan kebutuhan warga kota sendiri.

Nah, kira-kira itu sharing materi kuliah minggu lalu dan tugas kelompok kecil minggu ini. Semoga bermanfaat. Yah, kalau mau UK bisa dibaca bentar buat pengingat, nggak usah belajarr *eh 😀

Kamar – Kamis, 27 Maret 2014 – ayo tidur (11:32 pm)

Tegaslah!

Edisi KaMus hari ini |Kajian Muslimah | Rabu, 27 Maret 2014 | NHIC

Sebenernya saya orang yang agak males menulis ulang apa-apa yang sudah saya catat di buku catatan, kecuali itu hasil rapat. Bahkan catatan tangan sedari SMP sampai sekarang selalu lebih lengkap dibanding isi folder di komputer, kecualil UU. Kamus sore ini  saya dateng telat, walau begitu insya Allah ilmunya tetep terasa mantap 🙂

“Islam itu agamanya orang bodoh dan miskin!” Tanpa kita tahu, begitu stigma yang sengaja ditanamkan musuh-musuh Islam di luar sana. Ditambah lagi dengan stigma buruk Islam abad 20 ini. Islam agama teroris. Sebutan-sebutan buruk disematkan sebegitu banyaknya kepada umat Muslim. Semakin buruk lagi ketika umat Islam masih bisa ongkang-ongkang kaki, leha-leha dan hilang insting pekanya terhadap kondisi yang sedang melanda. Punya mata tapi tak melihat, punya telinga tapi tak mendengar.

Seolah hilang kesadaran atau sedang berada dalam fatamorgana dunia, sehingga tanpa kita sadari sudah terjadi perusakan karakter dan ajaran Islam. Islam itu menakutkan, Islam itu terbelakang, Islam itu hanya milik orang-orang miskin. Dampaknya? Bagi mereka, mungkin, orang-orang akan semakin antipati dengan Islam. (Tapi saya yakin, Allah punya goresan pena yang tak tertebak skenarionya).

Bukan lagi dengan senjata atau rudal yang kini melayang sebebasnya di atas langit Palestina, muslim Indonesia sedang diserang dengan cara yang lain. Media massa. Siapa yang kini tak melek teknologi? Adakah yang bisa terlepas dari kecanggihan teknologi masa kini? Sedikit dan hanya segelintir orang saja, yang disebabkan karena prinsipnya atau mungkin akses yang amat terbatas.

Innaa sholaati wanusuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi robbil’aalamiin.”
Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam

Begitu jelasnya janji kita pada Allah bahwa setiap sholat, ibadah, hidup dan mati kita hanyalah untuk-Nya. Namun, secara terang pula kita kerap mengingkarinya. Pilih didahulukan yang mana, panggilan sholat atau telepon? Didahulukan yang mana antara membaca Qur’an dengan novel? Didahulukan yang mana antara dzikir dan update sosmed? Sudahkah waktu kita dihabiskan untuk lebih banyak mengingat Allah dibandingkan hal lain? Dijawab dan direnungi sendiri saja 🙂

Yang membuat hati begitu tergetar adalah ketika Ustadzah Dewi dengan mantap mengulang kalam-Nya,”Tegaslah kepada kafir dan berkasihsayanglah terhadap Muslim.” Bukan lantas dibalik menjadi tegaslah kepada Muslim dan berkasihsayanglah dengan kafir, bukan. Dan yang membuat tak kalah merinding adalah saat beliau berkata,”Jangan sudi direndahkan oleh orang kafir! Jangan pernah kita bicara dengan orang kafir dalam posisi lebih rendah. Bicaralah sambil berdiri ketika mereka duduk. Tegaslah!”

Pesan-pesan lagi di sore ini :

  • Jangan buru-buru merasa lelah dengan dakwah. Sebab jika kita mati sore ini, bekal kita belum mencukupi untuk ditunjukkan pada Allah.
  • Ketika kita saja masih ragu menyebut nama Allah di depan manusia yang melecehkan-Nya, sudikah Allah menyebut nama kita di yaumul akhir nanti? Wallahu ‘alam.

Sejak beberapa bulan lalu, sepertinya iman dan amaliah saya terasa goyang. Kesibukan memang tak pernah lelang datang. Namun, kadang kesibukan itu tak menghasilkan apa-apa selain menjadi sibuk –tanpa makna. Sore ini, diingatkan lagi tentang mati, alhamdulillah 🙂

Kamar – Rabu, 27 Maret 2014 11:02