Nasib si “AB”

Mereka sama.

Sama-sama semakin didekati manusia, kembali diperhatikan, lalu muncul upaya-upaya untuk mempertahankan dan memperkuat. Mereka, agama dan budaya. Keduanya tersembunyi dalam budi manusia. Sama, ya, sama. Sama-sama kemudian mulai dilakukan kembali, diterapkan sebagai adat dan tradisi. Tetapi, di tengah gerusan zaman yang semakin liar, jangan-jangan mereka sama-sama berakhir menjadi semacam atraksi.

Tertinggal menjadi upacara biasa, bias maknanya. Tertinggal di lisan, kosong kemudian tanpa dilakukan. 

Advertisements

Dekat, Catat

Aku punya sahabat, pun dengan dirimu. Aku punya teman dekat, tak beda halnya dengan dirimu.

Namun satu yang perlu dicatat, ketika kau mendekat pada satu pada saat yang sama kau menjauh dari sesuatu. Dan relakah saat mendekat pada manusia kita justru terjauh dari-Nya?

Tak ada persahabatan yang kekal abadi. Lahir sendiri, mati sendiri. Amal baik buruk ditanggung sendiri. Sempat aku tertakut mati dan masuk surga. Tersebab apa? Aku takut tak kan ada sahabat-sahabatku di sana. Namun, bukankah surga memang tak akan pernah mampu diindera manusia? Dan sejenak, aku menertawai diriku sendiri.

 

Arti Kebebasan

Bebas bukanlah tentang terbang laksana elang dengan rentangan sayap yang terlihat menantang. Apa mau dikata, aku takut ketinggian. Tentu, itu bukan bebas seperti yang kumaksudkan.

Bebas, bukanlah tentang lari sana-sini khas anak kecil —pecicilan. Toh bagaimana lagi, kakiku tak cukup jenjang untuk gesit lari sana-sini. Walau begini, aku lebih gesit dibanding mereka yang kuliah-pulang-kuliah-datang tapi ilmu masih diawang-awang *eh tak berniat sombong tapi kawan. 🙂

Singkatnya, bebas bagiku adalah kopi, buku, hujan, dan lagu iringan. Bebas adalah saat aku bisa terbangun sebelum jam setengah empat pagi untuk menekurkan diri di hadapan Ilahi, membaca sebentar kalam-Nya yang tak tertandingi, dan mendengar kumandang azan yang bersahutan dari masjid dan langgar. Betapa pagi selalu mengerti makna khusyuk, menghadirkan sepi yang justru menerangi. Selanjutnya, terserah aku. Mau tilawah lagi, langsung memberesi kasur atau malah menyikat tumpukan baju yang kini menggunung. Waktu-waktu seperti ini menjadi lebih berharga bagiku untuk berpikir. Tugasku menjadi lebih mudah dikerjakan –tentu saja, karena memang nyaris masuk tenggat waktu.

Pagi, menimba ilmu. Asik sekali kalau selanjutnya ada sela untuk diri sendiri. Mengisi nutrisi hati dengan say hay sebentar pada kawan, membayarkan sedekah sendi-sendi tubuh barang beberapa menit. Dan bukankah asik, ketika selanjutnya adalah tentang kopi, selimut, dan hujan kala sore datang?

🙂
Bebas adalah tentang bekerja menurut cinta. Terlalu teoritis ya?
Bebas juga tentang merdeka dari ketakutan alam pikiran. Ketakutan cuma ada di dalam otak, kalau dituruti dia semakin tak mau pergi. *wis, ngga tahu mau nulis apa lagi.

Keromantisan Semangkuk Mi Instan

Bagiku, romantis bukanlah tentang kata cinta yang diumbar pada masa muda –kecuali jika kau telah memiliki yang halal menurut agama. Romantis bukan cuma tentang mengirimkan sebuket bunga pada tanggal 14 Februari. Kalau cuma begitu, bukankah itu hal yang biasa? Perlu kau tahu, aku tak suka hal-hal yang terlalu jadi konsumsi massa.

Romantis, juga bukan tentang surat cinta yang dikirim diam-diam. Kecuali, jika kau telah berani ambil jalan untuk menghalalkan. –Aku bahkan akan sangat yakin, romantis bukan lagi kata terbaik untuk mengungapkan.

Romantis, bukan tentang bilang ‘I Love You‘ atau ‘Aku Cinta Kamu‘, apalagi ‘Maukah kamu jadi pacarku?’ –itu romantis picisan. Ada hal yang jauh romantis bagiku di masa sekarang. Dan itu adalah saat kau bilang dalam sebuah pesan,”Kamu itu sahabatku.” dengan emot senyum haru. Padahal sebelumnya aku bilang,”Hei, aku ini kan juga temanmu.”

Romantis itu yang mengandung cemburu, begitu protes orang-orang yang mudah meniru. Tanpa mereka tahu, aku selalu cemburu. Menjadi pencemburu berat ketika terang-terangan kau mendadak dekat dengan banyak orang, walaupun kau selalu isyaratkan kamu itu sahabatku. Tetap saja, aku masih jadi seorang pencemburu.

Dan tidakkah kau ingin tahu betapa romantisnya pagiku saat itu? Seharum ucapan, juga seharum semangkok mie instan saat kelaparan. Iya, cuma semangkok yang kuahnya tumpah-tumpah. Tetapi tak pernah bisa menyaingi kasih ibuku yang begitu mewah. Iya, cuma mie instan yang harganya tak sampai dua ribu. Tetapi ibuku selalu tahu, anaknya ini lapar bahkan sebelum jarum menunjuk angka tujuh. Dengan bersahaja dihidangkan semangkok mie dengan asap harum –seharum cinta yang tak pernah usai- di meja belajarku. Coba kalau itu aku. Wah, bisa pamer ke seluruh penjuru kampus tentang usahaku. Ck, seolah menegur akankah begini aku dengan putra-putriku nanti?

Cinta itu memang tentang pria dan wanita. Iyalah, bahkan gender yang tak jelas pun berhak merasakan cinta. Tetapi cinta dan romantisme bukan cuma tentang ‘aku cinta kamu’ lalu ‘maukah kamu jadi pacarku’. Ayolah, jangan jadi orang cupu dengan pikiran seperti itu. Bumi Allah ini terlalu luas jika cintamu hanya untuk satu dua orang. Menebar kasih juga tak perlu keluar banyak uang. Lihat, ibuku cuma butuh mie instan seharga dua ribu.

Selasa, 15 April 2014 – 11:17 pm
Cinta adalah apa yang membuatmu terus bergerak.