Elastisitas Waktu

Susah nepatin janji. Molor. Mudah menyerah. Pemalu. Pemalu. Pemalu. Tertutup. Tertutup.

Beberapa kata dengan pengulangan yang intinya sama. Dan yang paling menohok adalah dua kata di awal. Tak lain dan tak bukan adalah penggambaran sifat negatif yang ada pada diriku. Hoho, aku memang sudah dikenal sebagai manusia dengan elastisitas waktu cukup tinggi sejak duduk di bangku SD. Jarang sekali aku bisa tepat waktu –punya elastisitas waktu yang pas.

Iya, aku sadar betapa menjengkelkannya kebiasaan burukku satu itu. Bukan hanya dalam hal janjian ketemu, namun elastisitas yang terlalu melar itu juga berdampak pada kualitas pekerjaanku. Kalau diminta buat laporan atau tulisan dengan deadline mencekik leher, kualitasnya jadi dipertanyakan. Agaknya aku masih kurang memahami betapa mahalnya harga sebuah amanah dan kepercayaan seseorang. Efeknya jelas terlihat. Kalau kau perhatikan tulisanku, terkesan cethek, tidak dalam. Jadinya? Ya nggak fokus. Aku percaya materi bisa dicari di mana pun, ini zaman serba canggih men. Tapi ya itu, kadang karena tingkat elastisitas waktuku yang begitu molor, tulisanku jadi dangkal. Tak sempat ditimbang dan dipikir ulang. Pun dengan pekerjaan sambilan yang –mendadak- jadi editor.

Teguran bisa datang dari mana pun, aku tahu. Dan teguran bisa datang tanpa harus dikatakan. Tuhan, aku tak mau terlalu sering membebani dan menjadi perunyam beberapa urusan. Iya benar, harus kutata dulu sholat wajibku yang masih awut-awutan ketertibannya. Belum di awal waktu. Bukan orang yang pandai berbasa-basi, jadinya ya ayo segera aksi. *ambil ikat kepala*

Kamar kakak (serius, kenapa masih belum beranjak?)

Ahad, 25 Mei 14 11:55 PM

Bercakap dalam Bumi Manusia

Detik saat aku mengetik ini, kuhentikan obrolan siangku bersama Minke, juga Ann. Hari di mana aku meliburkan diri dari tugas ke kampus karena radang dan “libur bulanan”. (Jangan dipikir ini menyenangkan, plis)
Ilmuku jelas tak seberapa kalau diajak ngobrol ngalor-ngidul mengenai karya Pram, jaauuuuh. Tapi, buku pertama dari tetralogi Buru ini kereen sekali!

Salah satu uniknya membaca dibanding dengan kegiatan selfie lain adalah kau serasa berinteraksi dengan lawan bicaramu yang tak kasat mata. Dan aku, kali ini sedang diajak ngobrol Minke dan Annelis, si tokoh cerita pada tahun 1808. Wii.. Dengan membaca, kau sedang bercakap-cakap dengan tokoh masa lampau. Sebagai mahasiswa perencana kota dan wilayah, aku nyaris jenuh nguplek-uplek segala sesuatu mengenai kota. Hanya dikaji tanpa ditindaklanjuti, fuh. Mungkin hanya tugas walkability yang tak benar-benar menjenuhkan, mending lho karena nantinya bakalan merancang dan berimajinasi.

Well, di Bumi Manusia ini jejak peradaban sedang diukir oleh Londo-Londo di bumi Indonesia. Ya, berbicara tentang manusia dengan segala macam atributnya memang tak pernah usai. Begini kutip Pram dalam Bumi Manusia-nya, kusertakan agar kau juga tertarik  membacanya:

Cerita, Nyo, selamanya tentang manusia, kehidupan, bukan kematiannya. Ya, biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa, atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia. Itulah sebabnya tak habis-habisnya cerita dibuat di bumi ini. Setiap hari bertambah saja. Aku sendiri tak banyak tahu tentang ini. Suatu kali pernah terbaca oleh kutulisan yang kira-kira katanya begini: Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana, biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan, pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput. –percakapan Nyai Ontosoroh dan Minke, saat makan malam.

Ada suasana syahdu dalam belajar. Nyai Ontosoroh tak pernah sekolah, namun perilaku dan ilmunya melebihi noni Belanda masa itu. Ada satu percakapan yang jleb banget. Di halaman 167-168 saat Minke mengenang guru Lastendiest di kelas diskusi tentang sumbangsih Jepang yang mulai kelihatan di zamannya. Temuan tentang virus pes dan disentri. Dan Minke ditanya, apa sumbangsih bangsamu (Jawa, Indonesia) pada umat manusia? Dan kau tahu apa jawaban Minke? Ya, Meneer, sekarang ini saya belum bisa menjawab. Ditanggapi dengan senyum manis sang guru dan senyum kecut sang murid. Aku jadi teringat diskusi dengan salah satu dosen tentang perkeretaapian Indonesia yang baru bisa memfungsikan rel ganda setelah 150 tahun lamanya. Hm…

Saat menulis ini memang pikiranku sedang berloncatan mengenai obrolan di kelas, tentang naskah yang mestinya harus kelar untuk majalah edisi bulan depan, juga novel ini. Dalam satu tema : perubahan. Ia dekat dengan inovasi, walaupun diawali dengan meniru. Seorang anak kecil pun awalnya meniru. (Bumi Manusia, 169). Yah seharusnya kubaca novel ini lebih awal agar naskah di calon majalah pun bisa lebih ada isi dan motivasinya. Tak apa jika awalnya meniru dulu, asalkan baik. Baru kemudian berinovasi. Ini pulalah yang dialami Eropa di zaman revolusi Industri abad 18 lalu. Awalnya meniru-niru, berulang-ulang mencoba. (Wah, ini kalau dikaitkan juga nyantol ke peradaban Islam). Itulah mengapa industri di Eropa lebih banyak dampak positifnya, sebab mereka berperan sebagai inovator. Tidak seperti negeri ini. Perannya sebagai pasar yang nyaris seluruhnya dikendalikan pasar global.

Wow, tulisan ini jadi nggak fokus. Yah, tak apa…. Okey, selepas ini aku mau ngobrol bareng Minke dan Ann lagi, baru lanjut selesaikan tugas dan amanah. Dan besok, plesir sejenak.

 

–Dan tuliskan apa-apa yang baru saja kaubaca. Sadar dirilah yaa, manusia itu pelupa, pun dengan dirimu.

Kamar kakak (sedari pagi belum beranjak)
Ahad, 25 Mei 14 1:43 PM

Like Holiday

Aku selalu tertarik pada gunung, yang nampak gersang namun di sebaliknya menyembunyikan hijau dan sejuknya padang
Aku selalu terpesona menatap gagahnya dan berada di antara punggung dan lembahnya
Tak perlu banyak aksi dan riak yang menghentak,
Namun teduhmu menaungi
Aku?
Aku tak terlalu suka air, namun aku suka danau
Aku tak terlalu suka pantai
Aku tak bisa berenang. Dan karenanya aku takut terbawa arus yang kemudian mengoyak kehidupan

Sebuah perpaduan cantik di tengah mood buruk yang sedang mengobrak-abrik awal Ahadku. Namun perpaduan pas antara mengingat Minke, yang obrolan dengannya belum kelar, dengan lagu Reaf You’re The One juga musikalisasi puisi Hujan Bulan Juni-nya Sapardi Joko Damono –meskipun alay saat kau pertama kali mendengar, cukup menenangkan batin. Tadi sembari sarapan, kuanggukkan kepala saja mengikuti irama lagu Hivi yang judulnya Orang Ketiga. Duuh, aroma padang rumputnya sampai ke depan cuping hidungku. Wangi!

Sebuah padang luas. Dengan bunga krisan dan ilalang tinggi menghijau di kana kiri. Dan gerumbulan balon sewarna ungu, biru mudanya langit, putih yang anggun, serta merah muda yang melembutkan. Ditambah dengan beberapa petik nada dari gitar yang kau jentikkan senar-senarnya. Aku membayangkan bahwa benar-benar akan ada satu tempat dengan empat suasana : danau, debur ombak pantai, padang pasir, dan padang rumput menghijau. Ah, tak perlu sesuatu yang mewah untuk merasakan romansa cinta Tuhan di sekeliling kita.

Suatu saat aku ingin ke sana, cukup berdua saja denganmu. Tolong, kala masa itu tiba, jangan ajak serta siapa pun, kecuali aku, kamu, dan Cinta kita. Cinta yang hingga kini terus membuatku tetap bergerak. Mungkin tak banyak yang bisa kita lakukan nanti di padang itu. Ya, kurasa memang tak perlu. Kita hanya perlu berjalan. Meregangkan pikiran yang belakangan kaku dengan waktu yang terus memburu. Tak apa jika waktu serasa mengalah pada kita. Serius, aku tak mengapa. Sungguh, itu nanti. Sebab hingga detik-detik kujentikkan jemari di atas tuts komputerku pun, aku belum tahu siapa dan di mana sosokmu. Ah, tak mengapa. Dan serius, aku masih tak mengapa. Haha, sudahlah, kau tak perlu mencemaskan keberadaanku.

Try to love you like holiday. Selalu menantimu datang dengan aroma khas liburan religi –setauku holy artinya suci dan holiday itu liburan karena ada acara agama, iyakah? Dan aku memang sedang teramat rindu pada yang namanya hari libur. Maukah Kau memberiku satu?

Dan akan tetap menulis, meskipun kamu nggak suka baca.

Kamar kakak,
Ahad, 25 Mei 2014 pukul 08:34 am.

Cukup dalam Menit

Hanya dalam menit aku merasai, masih cukup dalam menit
Belum dalam menit yang ujungnya tak terhitung, sebab hanya Dia yang sanggup menghitung menit yang tak terbilang masa
Cukup dalam menit, lalu panas
Masih dalam menit, hingga kemudian aku terbangun –tanpa makna.

Hari ini dalam beberapa menit singkat, teramat singkat, setidaknya aku sudah merasa bagaimana rasanya menjadi sesosok mayat. Hei, bukankah semua dari kita nantinya memang begitu? Ya.

Konyol.
Malah dijadikan bahan tertawaan. Memangnya kematian itu lucu? Apakah kematian pantas untuk ditertawakan? Apakah kau, pun aku, siap ditertawakan ketika kematian menjelang?

__

Hari ini, di kerajaan ternyaman selama di kampus –baca : NH, ada pelatihan pengurusan jenazah. Jujur ini pertama kalinya bagiku. Ceileh, aku memang punya cita-cita suatu saat bisa ikut mengurus jenazah di kampungku (note: jangan ikut nggotong), tapi jadi pesertanya jelas ini yang petama. Hehe. Kukiran bakal membosankan dan horor, eeh, enggak. Apalagi ditambah mbaknya yang memang ngga kaku, apalagi horor. Plus disajikan dua korban utama sebagai mayatnya, salah satunya : aku. Secara, dulunya aku baru bisa sekadar merakayasa khayal gimana sih rasanya jadi mayit itu? Apakah bener-bener krik-krik dan sunyi? Mbuh. Aku hanya merasa gerah.

Aku teramat sangat lelah dua bulan ini. Sedang tidak bisa fokus pada dua atau lebih hal sekaligus. Juga sedang bercabang pikiran, aku lagi banyak tanggungan. Jadi mayit barang beberapa menit tadi cukuplah jadi penawar, bisa sambil rebahan. Bahwa setiap hal pasti kembali, bahwa setiap yang bernyawa selalunya akan mati. Ditambah dengan status Facebook yang tak sengaja kubaca di beranda,”Ya kenapa gitu, jangan mati-matian mengejar apa yang tak kaubawa mati.” Jleb.

Dan aku sedang mati-matian bergerilya mengerjakan tugas kuliah yang, masya Allah, luar biasa buanyak. Kalau ingin hidupmu tentram saat kuliah, ambilah sastra atau pendidikan. Setidaknya tidak ada kerja kelompok dan serangkaian banyak survei lain layaknya jurusanku. –Bukan nge-judge bahwa mereka tidak sibuk lho ya.

Sementara aku, sampai detik kutulis ini, masih terus membayangkan bagaimana rasanya benar-benar menjadi seonggok mayat. Yang merasa sakit ketika dimandikan, yang merasa khawatir tentang auratnya yang kelihatan ketika diwudhukan, yang merasa begitu menggigil saat ia disholatkan –ini sholat terakhirku. Saat yang lain tengah khusyuk merintihkan doa agar dosa-dosa dan khilaf kita diampuni-Nya, akankah kita juga merintih mengadu kasih agar tak lekas disiksa dan meninggalkan keluarga tercinta serta semua mimpi duniawi ke liang lahat kita? Jawablah sendiri.

–Yang  masih cukup beberapa menit.

Kamar, 24 Mei 14 : 21.50

Menjeda (m)Asa

Lagi-lagi tentang menjeda waktu,
Agar makna ini mampu mengudara kembali
Pemahaman perlu dikembalikan,
Bukan sekadar jadi angin yang menyejukkan
Lantas berlalu begitu saja, tanpa kesan

Ada waktu yang perlu dijeda. Ya, agar hatimu tak terlanjur keruh dan otak ini terlanjur penuh. Ada kalanya waktu perlu dijeda. Agar lelah yang terasa pun perlahan sirna. Agar niat yang sempat terlupa, mampu diputar dan ditanam ulang.

Dan kini aku memang perlu menjeda. Kembali pada bilik-bilik lamunan, barangkali. Agar tak terjebak pada angkara murka dunia yang selalunya tak pernah henti meminta. Dan kini aku perlahan menjeda. Menyusun kembali memori pada otakku, menghapus perlahan keruhnya batin. Dan aku mulai menjeda. Mengoreksi diri sendiri yang perlahan menjadi sebab runyamnya beberapa perkara. Memegang banyak memang tak pernah mudah. Sebab jari yang kupunya untuk memegang hanya lima pasang, dengan kaki yang selalu kuandalkan untuk menopang berat badan dan pikiran.

Dan aku akan berusaha untuk tetap menjeda. Mengoreksi diri, begitu lebih tepatnya. Memangnya aku siapa? Hingga kemudian merasa berhak menjadi sombong atas dunia yang tak lebih berat timbangannya dibanding pahala kebaikan Abu Bakar dan Umar. Lagi-lagi, aku hanya bisa bertanya dalam sunyi.

Aku ini siapa?
Hanyalah sebatas menjadi anak yang selalunya meminta pada orang tua
Tetap menjadi anak yang tak mampu membalas budi baik ibu bapak
Terus menjadi penyebab mereka harus bekerja membanting tulang dan tak menyiakan kesempatan yang datang.
Dan akan terus dan selalunya menjadi anak dari orang tua yang akan selalu bangga pada anaknya yang masih tak bisa memberi mereka apa-apa, kecuali kesusahan.

Kamar 19:35 p.m.
Aku sedang berusaha “menjeda masa”

***

Modemku sudah isi lagi, jangan maaf jika mengganggu beranda kalian dengan beberapa tulisan. Sudah kubilang, otakku penuh, hatiku keruh, dan aku mulai jenuh. Jadi aku menulis, minimal ini terapi. Hohoo

Menjeda Waktu

Kadang jeda itu memperindah. Seperti spasi yang menjeda setiap aksara, menjadi ruang yang menjeda setiap kata. Bayangkan coba, seandainya kalimat dan kata itu ditulis tanpa terjeda, akan membuat runyam segala makna.

Dan barangkali, aku butuh menjeda waktu kali ini. Agar tak membuat hal lain turut merunyam. Siap menjeda? Oh salah, sudah mampu merela untuk membuat jeda?

***

Matikan hapemu, itu salah satu masa di mana aku mampu menjeda waktu

Korupsi di Bidang Penataan Ruang.

Marco Kusumawijaya

(Dari status FB saya beberapa waktu yang lalu)

Saya ceritakan suatu rahasia umum.

Hari ini di Semarang saya bertemu para perencana tata-ruang generasi muda. Mereka ceritakan bagaimana imbalan jasa para perencana untuk pekerjaan tata-ruang “dipotong” antara 17.5 % (di daerah) hingga 30 % (di pemerintah pusat). E, ada juga yang sampai 50% di suatu provinsi di Kalimantan. Akibatany ada suatu RDTRK (tata ruang tingkat Kecamatan) yang sampai dikerjakan hanya dengan biaya Rp. 15 juta (yang sampai ke tangan mereka yang benar-benar mengerjakannya). Bahkan di Jakarta pun (!!) hal ini masih terjadi. Di suatu provinsi, dikatakan polisi dan jaksa kebagian, sekitar 2 % setiap pihak.

Modus penyerahan dana potongan ini macam-macam. 

Di Kementerian tertentu, “serah terima” ini berlangsung di kantin, di warung, dengan antara lain bertukar tas kosong dan tas yang sudah “diisi”. Biasanya warna hitam. Waktu? Biasanya antara akhir November dan awal Desember.

Ada juga yang minta “laptop” nya diperbaiki, lalu…

View original post 312 more words