Bercakap dalam Bumi Manusia

Detik saat aku mengetik ini, kuhentikan obrolan siangku bersama Minke, juga Ann. Hari di mana aku meliburkan diri dari tugas ke kampus karena radang dan “libur bulanan”. (Jangan dipikir ini menyenangkan, plis)
Ilmuku jelas tak seberapa kalau diajak ngobrol ngalor-ngidul mengenai karya Pram, jaauuuuh. Tapi, buku pertama dari tetralogi Buru ini kereen sekali!

Salah satu uniknya membaca dibanding dengan kegiatan selfie lain adalah kau serasa berinteraksi dengan lawan bicaramu yang tak kasat mata. Dan aku, kali ini sedang diajak ngobrol Minke dan Annelis, si tokoh cerita pada tahun 1808. Wii.. Dengan membaca, kau sedang bercakap-cakap dengan tokoh masa lampau. Sebagai mahasiswa perencana kota dan wilayah, aku nyaris jenuh nguplek-uplek segala sesuatu mengenai kota. Hanya dikaji tanpa ditindaklanjuti, fuh. Mungkin hanya tugas walkability yang tak benar-benar menjenuhkan, mending lho karena nantinya bakalan merancang dan berimajinasi.

Well, di Bumi Manusia ini jejak peradaban sedang diukir oleh Londo-Londo di bumi Indonesia. Ya, berbicara tentang manusia dengan segala macam atributnya memang tak pernah usai. Begini kutip Pram dalam Bumi Manusia-nya, kusertakan agar kau juga tertarik  membacanya:

Cerita, Nyo, selamanya tentang manusia, kehidupan, bukan kematiannya. Ya, biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa, atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia. Itulah sebabnya tak habis-habisnya cerita dibuat di bumi ini. Setiap hari bertambah saja. Aku sendiri tak banyak tahu tentang ini. Suatu kali pernah terbaca oleh kutulisan yang kira-kira katanya begini: Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana, biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan, pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput. –percakapan Nyai Ontosoroh dan Minke, saat makan malam.

Ada suasana syahdu dalam belajar. Nyai Ontosoroh tak pernah sekolah, namun perilaku dan ilmunya melebihi noni Belanda masa itu. Ada satu percakapan yang jleb banget. Di halaman 167-168 saat Minke mengenang guru Lastendiest di kelas diskusi tentang sumbangsih Jepang yang mulai kelihatan di zamannya. Temuan tentang virus pes dan disentri. Dan Minke ditanya, apa sumbangsih bangsamu (Jawa, Indonesia) pada umat manusia? Dan kau tahu apa jawaban Minke? Ya, Meneer, sekarang ini saya belum bisa menjawab. Ditanggapi dengan senyum manis sang guru dan senyum kecut sang murid. Aku jadi teringat diskusi dengan salah satu dosen tentang perkeretaapian Indonesia yang baru bisa memfungsikan rel ganda setelah 150 tahun lamanya. Hm…

Saat menulis ini memang pikiranku sedang berloncatan mengenai obrolan di kelas, tentang naskah yang mestinya harus kelar untuk majalah edisi bulan depan, juga novel ini. Dalam satu tema : perubahan. Ia dekat dengan inovasi, walaupun diawali dengan meniru. Seorang anak kecil pun awalnya meniru. (Bumi Manusia, 169). Yah seharusnya kubaca novel ini lebih awal agar naskah di calon majalah pun bisa lebih ada isi dan motivasinya. Tak apa jika awalnya meniru dulu, asalkan baik. Baru kemudian berinovasi. Ini pulalah yang dialami Eropa di zaman revolusi Industri abad 18 lalu. Awalnya meniru-niru, berulang-ulang mencoba. (Wah, ini kalau dikaitkan juga nyantol ke peradaban Islam). Itulah mengapa industri di Eropa lebih banyak dampak positifnya, sebab mereka berperan sebagai inovator. Tidak seperti negeri ini. Perannya sebagai pasar yang nyaris seluruhnya dikendalikan pasar global.

Wow, tulisan ini jadi nggak fokus. Yah, tak apa…. Okey, selepas ini aku mau ngobrol bareng Minke dan Ann lagi, baru lanjut selesaikan tugas dan amanah. Dan besok, plesir sejenak.

 

–Dan tuliskan apa-apa yang baru saja kaubaca. Sadar dirilah yaa, manusia itu pelupa, pun dengan dirimu.

Kamar kakak (sedari pagi belum beranjak)
Ahad, 25 Mei 14 1:43 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s