Kenalilah Bahasamu

Dan mengobrol denganmu lagi, Minke, setelah terputus untuk waktu yang cukup lama.

“Lihat, Tuan, keturunan tidak banyak berarti. Kesetiaan pada negeri dan bangsa ini, Tuan. Ini negeri dan bangsaku; bukan Eropa. Yang Belanda hanya namaku. Tak ada salahnya orang mencintai bangsa dan negeri ini tanpa mesti Pribumi, tanpa berdarah Pribumi pun. Lihat, Tuan, hidup pribumi sangat sunyi —tidak pernah bicara dengan manusia dan dunia di luar dirinya. Hidupnya berputar siang-malam pada satu sumbu, dalam ruang dan lingkaran yang sama. Sibuk dengan impian sendiri saja.”

Kata-katanya semakin membelit, melilit. Dan : semakin menggenggam perhatianku.

“Hidup yang tak tertahankan, Tuan. Orang yang menyadari ini patut mengajaknya bicara. Bicara dari orang pada orang yang sebanyak itu jumlahnya tentu tidak mungkin, maka menulislah aku, seorang yang bicara pada banyak orang. —Kommer dalam Anak Semua Bangsa (Pram).

Dan kali ini Minke, aku hanya bisa mengutip lebih banyak apa yang dinyatakan Pram melalui tokohnya yang bernama Kommer, peranakan Eropa yang menjadi pemilik harian berbahasa lokal, sesuatu yang kau anggap tabu dan anti untuk kau dekati. –dan kau, nampaknya, mulai mengubah pikiranmu.

“Tak ada yang mengatakan tak perlu. Tanpa mempelajari bahasa bangsa-bangsa lain, terutama Eropa, orang takkan mengenal bangsa lain. Bahkan tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri,” jawab Kommer cepat, seakan sudah dipersiapkannya lebih dahulu.

“Dan tanpa mengenal bangsa-bangsa lain orang takkan dapat mengenal bangsa sendiri dengan lebih baik.”

Aku hanya mau merefleksi. Bagaimana sekarang generasi muda lebih mengunggulkan mempelajari bahasa Eropa ketimbang bahasa leluhurnya, termasuk aku! Salah seorang teman dekatku pernah mengadakan penelitian tentang pengaruh bahasa terhadap kehalusan budi seseorang. Aku belum tahu bagaimana hasil akhir penelitiannya itu, setahuku dia malah sibuk dengan penelitian dan lomba karya tulis lain 🙂

Dan memang, mengenali bahasa sendiri akan membuatmu lebih mengenal bangsamu. Dan mengetahui bahasa bangsa lain akan membuatmu makin bangga dengan keluwesan bahasa bangsamu. Dalam hal ini aku keturunan Jawa. Terkesiap kan dengan keluwesan bahasa Jawa dalam mengekspresikan ‘bahasa’ ke dalam kosakata? Contohnya kata “jatuh” dalam bahasa Indonesia hanya bisa diartikan ‘jatuh’, tanpa ekspresi lain. Masih perlu embel-embel seperti jatuh tertelungkup. Tetapi beda dengan bahasa Jawa : njungkel, nggeblak, njlungup, nungsep, kepleset, gitu deh.

Dan mengenali “kekayaan” bangsa lain akan membuat sadar bahwa bangsa Indonesia ini jaauhhhhh lebih kaya raya! Faktanya berbagai pertunjukan di UNS Cultural Night 2013 (wah, yang 2013 aku nggak berjodoh) yang membuat terkesima tetaplah pertunjukan dari Indonesia. Tari Saman tetap belum ada yang mengalahkan. Dan enaknya makanan lokal Indonesia tidak ada yang menandingi lezatnya dan bumbu rempahnya yang kaya! –dasarnya memang lidah dan selera selalu jadi juara. Eh, serius tapi ya. Tarian rancak dari negeri sendiri memang jauh lebih rancak dibanding bangsa lain. Khas pakaiannya juga. Apa asiknya sih ketika kamu berharap akan melihat pertunjukkan dari negeri tertentu tapi kemudian yang kamu jumpai adalah pertunjukkan hip hop yang dikenal sudah mendunia dan tidak bisa disebut itu khas negara mana? Apa asiknya kan melihat lima orang dengan wajah serupa?

Kamar kakak, malam tanpa inspirasi
Kamis, 26 Juni 2014 9:43 PM
Kalau tidak mau jatuh cinta, hapus nomornya, unfriend FBnya, unfollow twitternya, dan nggak ngepoin dia. Tapi, emangnya bisa?

Sebuah Resensi : Titik Balik Self-Branding

Di setiap buku yang saya beli dengan uang sendiri, entah itu tabungan, pemberian orang tua, kakak, atau uang beasiswa, selalu saya tulisi, di pojok belakang atau sudut tersembunyi lainnya, tanggal pembeliannya. Namun tidak dengan satu buku berjudul Creative Muslim karya Fachmy Casofa. Bukan karena alasan lain, melainkan karena saya lupa menuliskannya. Buku ini saya beli kira-kira dua pekan lalu di Solo Book Fair yang rutin diadakan dua atau tiga bulan sekali. Tongpes, kantong kempes. Sebenernya uang beasiswa saya sudah nyaris habis saat itu (apalagi sekarang), sehingga saya tahan hasrat untuk membeli buku baru. Sebab buku Pram, si Anak Semua Bangsa, belum selesai saya nikmati hingga tetes terakhir –kalau makan kan sampai bisa dijilati saking nikmatnya.

Buku ini bisa saya kategorikan cukup menarik. Cukuplah saya tertawan dengan kalimat pertama yang saya baca ketika membukanya kali pertama : Awesome Creative Muslim are Hard to Find. Harder to Leave. And impossible to forget. Bagus, kan? Dan kalau kamu meminjam buku ini akan kamu temukan sebuah tagar #ntms khas tulisan saya 🙂 Apalagi packaging buku ini cukup menarik sebab judulnya ditulis dalam desain grafis khas seorang desainer! Yah, belakangan saya banyak berinteraksi dengan desain, jadi ya tahu-tahu dikit lah… hehe.

Kenapa saya membeli buku ini? Hm, semacam kejadian beruntun yang membuat saya begitu iri terhadap yang namanya kreativitas dan inovasi. Ibu dosen yang begitu keibuan di kelas saya pernah menerangkan mengapa perkembangan industri di Eropa dan Indonesia sangat berbeda jauh kondisinya? Sebab industri di Eropa muncul karena adanya inovasi, pembaruan dalam ide untuk meningkatkan harkat hidup manusia. Sementara industri yang berkembang di Indonesia saat ini hanya menempatkan Indonesia sebagai negara “pasar”. Industri didirikan karena adanya “kunjungan” kaum kolonial beratus tahun yang lalu untuk mengolah kekayaan sumber daya alam Indonesia. Industri semakin menjamur sebab luar negeri tahu betapa murahnya ongkos buruh di Indonesia dan betapa tingginya tarif buruh di negeri mereka sendiri. Akhirnya, selain berlaku sebagai pasar, Indonesia menjadi negara pengolah hasil kekayaan alamnya sendiri, atas nama bangsa lain, untuk diimpor, kemudian hasil “manisnya” dinikmati lagi di dalam negeri dengan harga yang melangit begitu tinggi. Jadi, intinya negeri ini perlu banyak orang kreatif yang bersatu dengan ide sederhana yang diolah menjadi hasil yang luar biasa!

Dua, ide tentang kreativitas ini semakin membuat saya iri tatkala saya lihat teman-teman SMP dan SMA saya sudah mengembangkan kreativitasnya melampaui saya hingga memenangkan beberapa perlombaan. Dulu, saya ingat sekali, saya pernah begitu iri dengan kemenangan dua sahabat karib saya saat SD di perlombaan bahasa. Akhirnya saya mengadu sama Allah. “Ya Allah, aku pengin ikut lomba lagi.” Begitu doa polos saya dan dijawab Allah dengan adanya panggilan lomba beberapa minggu kemudian di pekan bahasa dan alhamdulillah bisa menyabet juara dua sekabupaten –walau di hari pertama saya yang ada di urutan pertama. Haha.

Dan menemukan buku ini saya rasa adalah sebuah solusi Ilahiah –alah. Ya! Sudah saatnya Muslim berpikir kreatif, bukan? Banyak lho sebenarnya Muslim kreatif itu dan sebenarnya tidak susah untuk ditemukan. Buktinya, banyak orang di sekeliling saya yang mengaku Muslim dan dia adalah orang yang kreatif. Namun, yang susah ditemukan adalah seorang creative Muslim yang mendedikasikan ke-kreatif-annya itu untuk Islam, untuk dakwah.

Buku ini menyampaikan begitu banyak motivasi dan menurut saya sudah pas jika disampaikan dalam kutipan-kutipan singkat yang dicetak berwarna biru –andai itu hijau tua, hehe. Sayangnya, semakin ke belakang, motivasi itu seolah membosankan karena disampaikan berulang-ulang. Ditambah lagi, semakin banyak kalimat-kalimat pendek yang ditemukan di bagian belakang dan kebanyakan Fachmy Casova kutip dari banyak buku-buku lain. Kesannya adalah buku ini jadi semacam asal kutip dan nggak nyambung dengan paragraf atasnya. Pembagian sub bab saya rasa juga memuat konten yang terlalu panjan –jadi nggak fokus.

Poin plusnya adalah ada begitu banyak kasus orang-orang kreatif kelas dunia yang ia tampilkan. Misalnya adalah strategi Perang Khandaq yang dicetuskan Salman Al-Farisi. Bukan ide baru memang, tetapi itu adalah sebuah ide kreatif di tengah kondisi perang yang mencekam. Seperti right man in right place, strategi tadi seolah menjadi right idea in right condition. Saya lupa apakah kisah Ukasyah dalam meminta qishas kepada Rasulullah SAW. dimasukkan dalam buku ini –atau saya menemuinya dalam sebuah majelis? Yang jelas kisah Ukasyah tadi adalah kisah paling kreatif, sekaligus “licik” barangkali, agar ia bisa memeluk dan berada pada jarak paling dekat dengan Rasulullah. Dan atas keberaniannya menjadi kreatif inilah, keinginannya untuk berdekatan dengan Rasulullah di dunia akhirnya diridhai manusia paling mulia itu hingga ke syurga! Ah, mimpi apalagi yang lebih tinggi derajatnya dibanding ini? Berdekatan dengan Rasulullah di surga, insya Allah ia pasti punya kesempatan menatap wajah Allah, kan?

Entah seperti apa kekuatan buku ini, yang pasti salah satu efeknya adalah saya mulai berani membuat semacam brand diri. Di bagian awal buku memang ditekankan bahwa branding yourself itu penting. Dan saya kemudian tersadar bahwa ada salah satu teman saya yang sudah mempraktikannya –dan dia totally berhasil! Saat kamu membuka blog, foto profil akun Facebook, ava Twitter, foto kover FB dan Twitter, maka kamu akan mendapati hal yang sama : November dan Sas. Iya, kan? Entahlah, semacam narsis positif, sekaligus motivasi bagi diri sendiri atas dua mimpi besar di bulan November dan semacam pengukuhan identitas “Sas” atas diri saya –di buku ini juga dijelaskan tentang pentingnya good name as your identity. Hehe.

Tuh penampakan bukunya "Creative Muslim" sama "Anak Semua Bangsa"
Tuh penampakan bukunya “Creative Muslim” sama “Anak Semua Bangsa”

Lagi, branding diri menunjukkan bahwa memang tak lagi banyak orang yang bisa sukses dengan banyak keahlian. Everyone can do anything, but someone only good at something. Jadi, kita perlu fokus dan inilah kenapa branding diri menjadi penting. Di awal kepengurusan salah satu organisasi yang saya ikuti, saya dipesan oleh kakak tetua. Bahwa apa yang membuat kepengurusan periode sebelumnya itu memberi kesan adalah tidak lepas dari branding individu PHT-nya. Misal si mas itu jago desain, mas yang satunya jago orasi, mbak yang itu jago nulis, mbak satunya keibuan banget. Nah, branding itu memperbaiki kualitas. Dengan adanya branding, kita seolah ditagih oleh masyarakat atas produk alias diri yang kita tawarkan dan kita semakin tertantang untuk memberikan yang terbaik dengan terus meningkatkan kualitas.

Hal lain yang saya sukai dari buku ini adalah idenya untuk mengizinkan diri saya –dirimu juga- untuk melakukan satu hal baru, yang sederhana. Semacam hari ini I let myself to read 50 pages of book I’m reading now atau hari ini aku mau jalan-jalan ke sawah selepas Subuh, bisa juga dengan aku mau menraktir tiga orang temanku makan siang bersamaku. Keren ya? Dan saya ingin mempraktikkan ini saat Ramadhan nanti, ehem, seminggu lagi. Apalagi di salah satu video kajian yang saya tonton kemarin, ustadznya bilang, kalau targetan dunia saja berani tinggi, kenapa dalam ibadah tidak? Berani nggak qiyamulail 10 juz? Haha, saya masih dalam tahap tertawa kalau lihat lagi. Ditambah lagi, ada dua halaman di halama 20 dan 21 juga dua halaman lagi di bagian tengah yang isinya space bagi kita untuk menulisnya some things-to-do or want-to-do. Ada artworknya juga 😀 sayang, hanya itu yang saya temukan dan tidak sampai di halaman belakang.

Buku ini bukan buku yang buruk untuk dibaca, namun jangan tiru cara membaca saya yang buruk dengan terlalu lama menuntaskannya. Mau baca? Boleh kok pinjam punya saya, bagus lagi kalau punya sendiri. Kan lebih asik membaca buku diawali usaha membelinya dulu 🙂

Kamar Kakak. Sabtu, 21 Juni 2014 6:51 PM
Ini tulisan terpanjang kayaknya.
Kendalikan idemu jika ia yang muncul sewaktu-waktu. Dan kurang ajarnya : dalam sholatmu!

Itik-Itik

Hihi, bukan mau menggelitik terus bikin geli. Tapi anak itik itu bikin gemeeess sekali. Duh, aku sampe kesusahan ngitungnya ada berapa saking banyaknya 😀

DSC09075
Itik-itik lucu. Nggak tahu jumlahnya berapa karna mereka gerak terus, masih kecer lima biji ituuuh 😀 comeel sekali, geyal geyool hihi

Nasib si AB (2)

Dulunya mereka adalah hal yang dipuja dan diutamakan oleh manusia, kini dalam peradaban negeri dan jungkir balik dunia yang tak kalah peliknya, mereka terpinggirkan hingga nyaris terlupa. Sekarang mereka terasing.

Menukil salah satu fiksi mini di koran harian Komunitas Soto Babat edisi Rabu (18/6) kemarin, kalimat penutupnya cukuplah jleb untuk dirasa. “Lestarikan kami, atau kami akan dilestarikan oleh bangsa lain.”

Kaitannya dengan agama, sebagai Muslim, Islamlah yang akan saya bicarakan. Belakangan ini, di beberapa buku yang saya baca, ada begitu banyak sisi-sisi keilmuan dunia yang dikuasai oleh peradaban Islam sekitar 200-300 tahun yang lalu. Mulai dari ilmu perbintangan, geografi, kedokteran, filsafat, matematika, sastra, hingga arsitektur dan teologi. Tidak ada suatu pun yang kurang dalam Islam.

Majunya peradaban Islam yang digawangi oleh para ulama dan raja-raja dalam mencintai ilmu dan buku, hancur pada peristiwa penaklukkan Spanyol-Islam (Andalusia). Tak tanggung, 1 juta buku dibakar setiap harinya. Dan pada akhirnya hanya ada 2000 buku yang berhasil diselamatkan dan masih bisa dinikmati keagungannya hingga sekarang.

Menghilangnya budaya baca pada sebagian besar umat Islam, secara tidak langsung semakin meninabobokkan Islam pada fase “menikmati”. Menikmati kemajuan teknologi, menikmati buaian kata dalam buku-buku sastra, menikmati infiltrasi budaya Barat yang berusaha merongrong nilai-nilai Islam.

Dalam sebuah kajian beberapa hari lalu, ada satu hal yang disampaikan oleh Ustadzah Dewi yang seharusnya mampu membuat Muslim –utamanya saya- malu. Kenapa? Sebab ada cara-cara sederhana yang sudah ditempuh oleh musuh-musuh Islam dalam melemahkan Islam itu sendiri. Membuka diskusi-diskusi yang bertujuan untuk menguatkan akal namun melemahkan iman, barangkali karena memang iman yang diajak diskusi itu tidak pernah kuat sebelumnya.

Mereka adakan bakti sosial agar banyak yang kemudian merasa terkesan. Yah, memang dalam kenyataannya banyak orang-orang non-Muslim, ataupun negara non-Muslim, hingga yang atheis sekalipun, ternyata lebih mampu mencerminkan perilaku Islam dalam kesehariannya.

Di samping itu, mereka juga mulai mempelajari ilmu-ilmu yang dulunya dikembangkan oleh Islam. Lihatlah sekarang betapa banyak yang mengenal bahwa ilmu kedokteran yang maju adalah warisan dari Barat. Padahal, guru para dokter adalah Ibnu Sina (Avicena).

Ah, apa iya harus didendangkan kalimat,”Lestarikan ilmu Islam, sebelum kami dilestarikan oleh para musuhmu”?
Ironi yang sama, menimpa kalian : agama dan budaya.

Jadi, hingga sekarang, masih enggankan kamu menuliskan ilmu yang kamu dapat? Memperdalam ilmu yang sedang kamu pelajari? Mempelajari ilmu-ilmu agung warisan Islam dari ulama-ulama terdahulu?

#NTMS

Dua Mata Pisau : Sebuah Marah Atas Tergadainya Kejujuran

Tulisan ini kubuat beberapa menit menjelang dimulainya UAS 4 hari Jumat jam 1 siang. Sebuah gelisah yang timbul sembari gelisah juga menunggu soal. Kenapa kejujuran dengan mudahnya digadaikan, bahkan secara massal?

***

Dua Mata Pisau

Apa dengan majunya gadget, nilai-nilai kejujuran dalam ujian lantas tergadaikan? Dan dosen yang punya wewenang tegas untuk menegur mahasiswanya malah seolah membuat pemakluman. Apakah begini negeri yang katanya beradab dengan adat ketimurannya? (Yang nilai-nilainya mulai luruh –dengan derasnya hujan bernama globalisasi?) Menganggap kejujuran itu hal yang langka dan sekarang hanya bisa memujanya, namun berat hati bahkan tak menyempatkan untuk mengusahakannya…. Jujurlah, setidaknya ketika hanya dirimu saja yang tahu apa kau ini sosok yang jujur atau hanya memuja kejujuran yang yang kau bilang makin langka.

Dua mata pisau majunya teknologi. Apakah sudah benar-benar meniadakan sebuah kejujuran dan menakar malu yang tiada lagi punya massa di timbangan-Nya? Wahai pemuja kejujuran yang hingga kini masih bertanya di kanan kiri, membuka catatan saat ujian, menyelewengkan fungsi gadget canggihmu untuk ketidakjujuranmu : kau posisikan di mana ALLAH??!

***

Dan jika dalam waktu 40 hari masih belum juga kau khatamkan Qur’anmu, berhati-hatilah bisa jadi kemunafikan telah bercokol di dalam dirimu tanpa kau sadari. Benarkan begitu? Maka berdoalah pada Allah agar Ia berkenan mencabut kemunafikan itu dan khatamkan Al-Qur’anmu setiap bulannya.

#NTMS

Menyambut Ramadhan

Dengan apa kau sambut Ramadhanmu? Aku ingin tahu. Barangkali bisa kucontek, hihi.
Dan kulirik barangkali kamu sudah membuat semacam catatan pribadi tentang apa yang ingin kamu lakukan Ramadhan nanti –yang tinggal tujuh hari lagi. Rasa penasaranku terlampau tinggi. Hingga dengan lancangnya kusibak satu per satu tulisanmu yang rapi itu. Kecil-kecil, sekecil dirimu. Barangkali kamu menyelipkannya di antara catatan kuliahmu, tanpa sengaja kamu tulis di tengah penjelasan dosen atau saat menthok mengerjakan soal ujian. Ah, di mana yaa? Kok belum kutemukan…

Dan aku berpindah pada setumpuk buku yang sepertinya masuk dalam antrean bacamu. Kusibak pula buku-buku itu satu demi satu. Nihil. Huh, kamu sembunyikan di mana targetan Ramadhanmu itu? Sungguh, aku ingin tahu. Tanpa sengaja mataku menumbuk pada satu benda : hapemu. Ehem, antara iya dan tidak, ingin sekali kubuka hapemu itu. Benda kecil yang nyaris jadi teman setiamu, kamu bawa ke mana-mana, mengalahkan Al-Qur’anmu. Antara iya dan tidak, hapemu kini ada di genggamanku. Ah, tanpa password, pattern, atau kode-kode semacam di hape temanku. Aman, begitu batinku. Rasa penasaranku mengalahkan adat kesopanan yang mestinya kujaga meski tidak ada siapa-siapa.

Lima sms masuk dari teman di kontak hapemu. Dua tentang amanah, satu jarkoman acara, dan sisanya adalah sms dari teman SMA-mu. Ajakan berbuka puasa. Ah, belum dimulai saja tawaranmu sudah di mana-mana ya. Kamu benar-benar terkenal sekarang, banyak teman. Hm…

Dan aku tidak lupa bahwa kamu termasuk orang yang teliti atas setiap agenda-agenda, kamu sibuk dan suka menghadiri berbagai acara. Masih belum ada siapa-siapa di sini, hapemu masih ada dalam genggamanku. Dan kusentuh aplikasi kalendarmu, mengintip tanggal yang kamu tandai. Pasti ada target-targetmu di sana. Tanggal berapa mestinya kamu sampai di juz 10, 20, 30, kemudian menambah ayat hafalan.

Dan angka-angka mulai bertebaran di layar. Ada tanda merah pada angka yang kamu tandai. Kubuka satu demi satu. Berbuka di tempat A dengan si B, buka di C dengan si D. Masih ada tiga tanggal lagi yang kamu tandai dan semuanya jadwal berbuka puasa. Sisanya agendamu di luar targetan selama puasa. Apa yang salah dengan dirimu?

Bulan puasa tujuh hari lagi dan kamu sudah punya jadwal undangan berbuka? Sementara tak kutemukan satu pun catatan mengenai capaianmu di bulan penuh rahmat-Nya itu? Begitukah caramu menyambutnya? Bukan dengan amalan, melainkan dengan rutinitas layaknya artis papan atas? Masya Allah, astaghfirullah…

#NTMS

***

Kamu punya caramu sendiri untuk menyambut Ramadhan. Persiapkan, sebab setiap manusia punya masing-masing kemampuan. Yuk, jangan disiakan. Marhaban yaa Ramadhan 🙂

Kamar Kakak
Jumat, 20 Juni 2014 10:01 PM
H-8 Ramadhan 1435 H
Mendekat pada buku dulu 😉

Kayu dan Meteran Gulung

Setiap orang punya sisi yang setiap incinya bisa ia ceritakan, kadang dengan mudah kala hati nuraninya mulai merasa dan memberontak ingin bicara. –aku sedang teringat pada sosokmu, yang pagi ini menyapa tetangga sebelah dengan sapaan yang ramah, seperti biasa.

______________________

Sedari kecil aku sudah terbiasa dengan banyaknya tumpukan kayu di halaman rumah. Di halaman belakang, bahkan sebelum tembok tinggi itu menutup rumah kita, juga di halaman samping, dan teras depan. Bahkan tak jarang, kau simpan balok-balok kayu itu di dalam rumah, di ruang tamu kita. Agaknya dewasa ini aku tak perlu heran, sebab kau memang seorang pecinta kayu sejati. Kau sudah dikenalkan kakakmu saat kau baru saja lulus SMA, mengajarimu berdekatan dengan kayu sebagai tabungan usaha. Dan sepertinya, memang di sanalah passion-mu. Kayu. Dan kini bertambah satu, meteran gulung

Nyaris ke manapun, hingga di dalam jok motormu, ada meteran gulung di sana. Usang, pertanda telah bertahun-tahun kau gunakan. Sedari aku TK hingga kini sudah menjadi seorang mahasiswa, meteran gulung itu menemanimu –walau tak terhitung sudah berganti berapa kali. Kau tarik dan kau ulur sesuka hati, haha. Hanya untuk mengukur apakah batang-batang kayu itu sudah sesuai dengan ukuran yang dipesankan. Kau memang ahli dalam hal ini.

Hingga sempat tersirat dalam benak,”Ah, apa kuberi kau segelondong kayu saja sebagai salah satu hadiah spesial dari anakmu?” Detik berikutnya sejak ide  ini berulang kali muncul, penolakanku pun langsung muncul. Kau tahu berapa harga segelondong kayu itu? Bisa jadi paling murah lima juta rupiah! Ya Tuhaan! Aku masih bermain angka rupanya!

Mungkin karena kesukaanmu pada kayu yang tak tertahan, rumah kita hampir penuh sesak dengan perabotan : meja (dengan segala jenis dan peruntukannya), lemari, rak buku, kursi, dan aneka yang berbahan kayu lainnya. Bersyukur saja kayu itu mahal dan kita tidak terlalu dikarunia-Nya terlalu banyak uang. Jika iya barangkali sudah tak terhitung kayu macam apa yang sudah kaukumpulkan dan menjadikannya koleksi kesayangan.

Ah, aku berpikir terlalu liar.

Ruang Tamu, aku belum lanjut belajar buat UAS.
Kamis, 19 Juni 2014 10:30 AM