RDH 11/30 : Tragedi di Bulan Juli

Kucium bau asap itu, kata Bayu,  membubung tinggi di udara. Menguar, campuran antara darah dan daging manusia, ditambah serpih-serpih logam dan zat kimia di sana. Kita di sini lagaknya bersuka dengan euforia calon pemimpin kita, hadiah Ramadhankah? Samakah suka kita dengan apa yang dirasa negara penjajah Israel sana yang sementara berhasil mengguncang tanah Palestina malam ini? Dengan roket-roket pembunuh yang diterbangkan dari jarak jauh dan berhasil membuat bangunan itu runtuh? Ah, samakah kita? Continue reading “RDH 11/30 : Tragedi di Bulan Juli”

Advertisements

RDH 9/30 : Jugde The Book By Its Cover

“Kenakanlah pakaian yang tidak membuatmu dihinakan oleh para pembesar dan tidak membuatmu dicela oleh orang-orang bijak.”

Apa yang kamu pikirkan di saat melihat orang berdasi rapi? Apa pula yang muncul dalam pikiranmu saat berhadapan dengan orang yang pertama kali kamu temui dan dia berpakaian berantakan? Sebaris kalimat berbahasa Inggris don’t judge a book by its cover ternyata tidak selamanya benar. Pepatah ini berasal dari luar, yang minat bacanya tinggi, yang buku bagus dan best seller sekalipun tidak banyak dipengaruhi dari cover-nya. Beda dengan Indonesia. Continue reading “RDH 9/30 : Jugde The Book By Its Cover”

RDH 8/30 : Belajarlah dari Minke

Menyambung surat ketigaku.

Kamu masih ingat kan dengan pesanku di surat ketiga? Jangan ikut serta memiskinkan diri, Sa. Biarlah yang lain berpura-pura menjadi miskin. Tak hanya di pencarian beasiswa, namun juga di penghidupanmu nanti seperti yang ada sekarang ini : jaminan kesehatan atau bantuan sosial dari pemerintah. Jika Jean Marais berpesan pada Minke untuk jujur sedari dalam pikiran sebagai seorang yang terpelajar, maka jujurlah pada dirimu bahwa kamu hidup dalam kebercukupan –menunjukkan bahwa kamu ini terpelajar.

Belajarlah dari Minke. Penulis yang besar dalam komunitas bentukan alam, Continue reading “RDH 8/30 : Belajarlah dari Minke”

RDH 7/30 : Memiskinkan Diri

Ini surat ketigaku. Ternyata aku tak betah jika harus lama berdiam diri tanpa mengobrol denganmu seperti dulu. Tidak banyak tempat bagiku untuk menumpahkan apa yang ada dalam kepalaku.

Aku hanya menangkap pesan bahwa kekayaan yang sesungguhnya adalah kesadaran diri sebagai manusia, makhluk yang paling sempurna, dan tidak sepantasnya kita menghinakan diri hanya karena harta.

Kuamati kegelisahanmu belakangan ini. Em, maafkan aku, Sa, tapi apakah itu tentang uang? Hm, berkenaan dengan uang…. Kadang aku heran dengan manusia yang memiskinan dirinya sendiri untuk mereguk harta –yang banyak jumlahnya, namun tidak seberapa di akhirat nanti. Continue reading “RDH 7/30 : Memiskinkan Diri”