RDH 2/30 : Tentang Komunitas (Bukan Kampanye)

“Orang dengan arah tujuan yang sama akan dipertemukan pada tempat tujuan yang sama.”

 

Tujuan, visi, dan pandangan, minimal hobi. Itu beberapa hal yang menyebabkan berkumpulnya beberapa orang dalam satu komunitas. Kalau Komunitas Soto Babat a.k.a. Show Our Talent On Baca, Bahas, Tulis tidak lagi perlu bertanya ini komunitas yang bergerak di bidang apa. Kepenulisan.

Pernah kudengar ada yang berpendapat bahwa tanpa ikut komunitas pun seorang penulis masih akan tetap bisa menulis. Yup, bukan pendapat yang salah. Sebab menulis tidak semata tentang kemampuan, namun juga kemauan. Seberapa banyak anggota kepenulisan –termasuk aku, yang belum terlihat produktivitas tulisannya. Sementara, ada juga penulis yang tidak mengikuti komunitas tetap bisa bahkan aktif menelurkan karya-karya.

Kata Kang Nass, aku lupa tepatnya kapan, komunitas itu sendiri lebih kepada mempertahankan dan menularkan motivasi. Iman dan semangat itu menurutku sejenis : naik turunnya tak terkendali. Bisa jadi detik ini begitu menggebu, namun detik berikutnya menjadi lesu. Siapa jamin semangat menulis kita akan terus membara? Samalah dengan komunitas yang tengah kita ikuti ini. Tulisan yang kita produksi kemarin lebih bersifat menggugurkan kewajiban. Tulisan reportase pascapertemuan, tugas-tugas mingguan, atau tantangan menyelesaikan majalah atau seleksi buku diselesaikan sebagai penggugur status kita sebagai siswa Sobat. Belum ditulis karena ingin atau butuh sebagaimana tulisan lain di blog atau media lain, di luar tugas Sobat. Barangkali karena inilah tidak banyak makna yang bisa ditangkap dalam tulisan-tulisan reportase kita. (Coba baca ulang buku kenang-kenangan wisuda kemarin)

Next, mengenai komunitas juga. Kata Mbak Esty, yang ternyata gemar kepo-kepo profil siswanya –dia kepala sekolah Sobat, kebanyakan anggota Sobat adalah aktivis. Dan tanpa sadar kita ini aktivis keagamaan. Coba amati, apa bedanya orang-orang yang minat menulis dan ikut komunitas atau berada pada lingkup komunitas dengan orang yang minat menulis tetapi masih belum punya cukup link ke sana. Amati juga apa bedanya orang yang minat dalam keagamaan dan ikut dalam lembaga berbau keagamaan dengan orang yang sangat ingin mendalami agama namun belum juga mencari komunitas yang sesuai.

Komunitas, dalam hal ini bisa kita artikan sebagai lingkungan, area bergaul. Minke, tokoh Pram dalam tetraloginya jelas-jelas tidak bergabung dalam komunitas menulis mana pun. Terlepas dari zamannya yang memang belum memiliki semacam organisasi modern.–Komunitas itu adalah salah satu ciri kehidupan masyarakat kota. Dan apa yang kamu bayangkan mengenai kota saat disebutkan tentangnya? Modernitas? Kemajuan? Jawab sendiri.

Tetapi, meskipun Minke tidak berkecimpung dalam satu komunitas pun, ia tetap aktif menulis di surat-surat kabar –dan dikecewakan beberapa kali. Minke tidak punya komunitas, tetapi dia punya teman-teman yang ahli di bidang jurnalistik dan kepenulisan. Sebutlah komunitas itu lingkungan, Minke juga sudah “berkomunitas”, kan? Kommer, peranakan yang menulis dalam Melayu. Nyai –Mama, meski tidak menulis, ia membaca, sesuatu yang amat dekat dengan dunia menulis. Juga dekat dengan keluarga de La Croix yang rajin mengajaknya diskusi mengenai keterbelakangan Hindia Belanda dan kemajuan ilmu Eropa. Dan tidak selamanya bergabung dalam komunitas itu membuatnya senang, Minke juga dikecewakan. Oleh Nijman, pemilik harian yang sudah beberapa kali memuat tulisannya. Sebuah komunitas bentukan alam yang “sempurna” untuk melejitkan potensi seorang penulis, ya?

Sudah diamati perbedaannya tadi? Terletak pada semangat dan penularan motivasi. Tentu, tanpa ikut SKI ataupun lembaga agama sejenis, semua Muslim masih bisa sholat, khatam membaca Qur’an, mengeluarkan infaq, sholat Dhuha setiap paginya, atau aktivitas lain yang lazim para “aktivis” lakukan. Semuanya bisa tetap dilakukan tanpa harus mengikuti komunitas atau organisasi keagamaan. Si A tetap bisa sholat, tapi mungkin tidak tepat waktu atau bolong-bolong ajegnya. Infaq masih bisa jalan, tapi bisa disalahgunakan sebagai ajang pamer kekayaan. Khatam Qur’an juga, tapi kalau satu dua tahun sekali? Inilah posisinya para anggota komunitas lainnya, mengingatkan ketika kita sedang futur. Alih-alih, tanpa diingatkan pun, kita akan tersindir dengan kualitas dan kuantitas ibadah teman-teman sekomunitas.

Sama halnya dengan menulis. Aku, bisa jadi, akan tetap menulis tanpa “diloloskan-Nya” dalam komunitas ini. Tetapi, beda kuantitas dan kualitasnya dibanding mereka yang akrab di dalamnya. Tidak ada yang bisa menjamin semangat dan keinginan menulis ini tetap ada. Kalau di lembaga keagamaan dan sejenisnya ada mutaba’ah amal yaummi, jurnal menulis ini bisa jadi semacam koreksi kualitas dan kuantitas tulisan kita. Tulisan tetangga sebelah bisa dapet banyak jempol setelah dipos, kok punyaku enggak? Jangan salahkan persoalan jumlah teman yang lebih banyak atau lebih aktif di fesbuk, koreksi saja kualitas tulisan kita. Iri positif, lumayanlah.

Satu pertanyaanku : kalau aku ikut SKI dan lembaga keagaman lain yang sejenis, dan anggap itu komunitas, bolehkan dan etiskah kalau kita bergabung dalam komunitas menulis lain?

Kamar kakak
Senin, 30 Juni 2014/2 Ramadhan 35 H
No note.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s