RDH 10/30 : Menandingi Pasukan Baris-Berbaris?

Sempat ingin menggunakan Runi sebagai “kambing hitam “ penokohan di tulisan ini sebab nantinya bakalan lebih idealis dibanding sekadar mempermasalahkan anak kecil tapi koknggak suka pulang pagi, kata Mas Cahyo.

***

Ambalan ****, pasukan tiga bersaf berkumpul!”

Aku masih ingat jelas bagaimana aba-aba agar sepasukan baris-berbaris itu berkumpul menjadi saf yang diserukan oleh danton, si pimpinan pasukan. Kalau pasukannya sudah teratur semacam pasukan lomba PBB sungguhan, maka masing-masing anggotanya akan langsung menempatkan diri ke posisi masing-masing. Dan kamu tahulah di mana posisiku melihat postur tubuhku : pojok kiri saf paling belakang. Alias tempat bagi anggota pasukan terkecil –menghaluskan bahas untuk postur tidak terlalu tinggi. Well, nggak sering-sering amat ya aku ada di posisi itu sebab seangkatanku masih ada yang lebih kecil daripadaku.

Kalau itu barisannya belum teratur dan tercampur antara putra dan putri, maka kami biasanya butuh waktu lebih lama untuk bisa memposisikan diri sesuai urutan tinggi badan. Itu salah satu kriteria yang membuat barisan kami menjadi rapi dengan sendirinya. Sambil lari di tempat, kami atur barisan kami. Saling bergeserlah ke kanan atau ke kiri sesuai urutan tinggi, sembari mengingat waktu karena kami tidak mau menghabiskan bermenit-menit waktu kami dengan lari-lari kecil mengatur barisan.

Jika ada terlalu banyak orang, maka kami ambil setengah lencang kanan untuk meluruskan barisan –meluruskan saf. Jika agak longgar maka ambil lencang kanan. Begitu kiranya cara mengatur saf dalam barisan. Kalau mau banjar ya kira-kira sama, hanya memanjang ke belakang jika saf menyamping ke kiri dengan poros barisan di kanan.

Ribet? Iya, toh nyatanya dilaksanakan juga. Sebab sebuah pasukan baris-berbaris sudah sedari awal ditempa agar menjadi disiplin dan menurunkan ego diri agar barisan bisa segera rapi dan solid dari hari ke hari. Bayangkan saja jika dalam sebuah lomba memposisikan diri dalam barisan saja memakan waktu lama, kapan bisa jadi juaranya?

Musim sholat di masjid telah tiba. Jamaah meruah, memenuhi masjid yang semula kosong, paling-paling hanya diisi orang-orang tua atau anak-anak yang ikut serta. Selebihnya pemuda masih sibuk bekerja atau memenuhi masjid kampus mereka. Di saat jamaah meruah, maka insya Allah pahala jika kita turut shalat di antaranya akan bertambah. Hitung menghitung pahala jelas bukan urusan manusia. Tetapi setidaknya kita mulai bisa mengira-ngira kadar keterterimaan ibadah kita. Adakah riya’ di sana? Adakah ikhlas yang mengiringinya? Sudahkah sesuai dengan apa yang baginda Rasulullah SAW ajarkan? Diniatkan untuk ibadah tidaknyakah?

Dalam sholat, salah satu penyempurnanya adalah keteraturan saf. Lurusnya, rapatnya. Lurusnya saf menunjukkan kedisiplinan untuk mau diatur dan disamakan. Rapatnya saf menunjukkan kesolidan dan kesamaan derajat. Tidak peduli apa pangkatmu, seberapa besar kekayaanmu, seberapa tinggi pendidikanmu, atau seberapa terkenalnya kamu. Semuanya sama dalam barisan shalat. Tidak mesti presiden harus berada di saf terdepan dengan para menteri di kanan kirinya. Kerapatan dalam sholat bisa jadi meluruhkan rasa risih berdekatan dengan orang yang belum kita kenal atau bahkan kita rasa lebih rendah derajatnya daripada kita. Meremehkan seseorang.

Dan aturan untuk saf ini sungguh nggak seribet dalam pasukan baris-berbaris. Ketika PBB saja langsung datang memenuhi panggilan komandan tak lama setelah diserukan, seharusnya kita pun begitu. Segera mendekat pada seruan Ilahi ketika adzan sudah dikumandangkan. Nol-satu kita dari pasukan baris-berbaris.

Akan ada pahala tersendiri bagi mereka yang sudah mengambil wudhu sebelum waktu sholat tiba untuk bergegas ke masjid memenuhi seruan-Nya. Nol-dua kita dari PBB yang akan lomba. Sebab PBB pasti sudah siap siaga di pinggir lapangan dengan persiapan yang matang. Sepatu terpasang nyaman, topi yang tidak akan jatuh saat sudah di barisan, ikat pinggang yang tidak terlalu kencang, dan segalanya untuk penampilan terbaik. Nah, kita? Ke masjid seadanya, itu pun ditunda-tunda.

Setiap pasukan akan segera menyesuaikan sesuai tinggi. Dalam saf sholat tidak perlu aturan tinggi badan begini, tidak perlu urut pula. Yang penting lurus dan rapatnya. Bahkan agar barisan dalam safnya rapat, khalifah Umar r.a. sampai meluruskan dan merapatkan jamaahnya menggunakan pedang! Subhanallah. Bayangkan, kalau saf kita sekarang ini diluruskan dengan pedang, pasti makin nyaman ya ibadah sholat kita…. Nol-tiga dari PBB!

Kalau barisan diluruskan dan dirapatkan dengan lencang atau setengah lencang, maka barisan sholat kita hanya butuh saling merapatkan tumit dan bahu. Kalau tak sama tinggi, tentu kamu bisa mengira-ngira bagaimana baiknya. Nol-empat! Sebab aturan segampang ini pun masih banyak yang tidak tahu atau tahu tapi tidak melaksanakan. Bahkan ketika sedang sholat di salah satu masjid terbesar di Solo ini, ada ibu-ibu yang nyeletuk,”Wis tho, Mbak, ojo cedhak-cedhak. Sholat kok ndempeti wong, sikilku lara.” Nah lho? Ada lagi tetanggaku yang akhirnya pindah saf karena risih dengan tetangga safnya yang berusaha merapatkan barisan. Sebenarnya rapat itu gampang kok. Kalau tumit ketemu tumit,jari kelingking ketemu kelingking kaki maka insya Allah itu sudah rapat. Apalagi kalau betis ketemu betis. *CMIIW.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s