RDH 11/30 : Tragedi di Bulan Juli

Kucium bau asap itu, kata Bayu,  membubung tinggi di udara. Menguar, campuran antara darah dan daging manusia, ditambah serpih-serpih logam dan zat kimia di sana. Kita di sini lagaknya bersuka dengan euforia calon pemimpin kita, hadiah Ramadhankah? Samakah suka kita dengan apa yang dirasa negara penjajah Israel sana yang sementara berhasil mengguncang tanah Palestina malam ini? Dengan roket-roket pembunuh yang diterbangkan dari jarak jauh dan berhasil membuat bangunan itu runtuh? Ah, samakah kita?

Dengan darah mereka mencoba menebus jannah, sementara kita sudahkah meski setetes saja? Ustadz benar, surga itu tidak murah. Dan semua tahu, di bulan Ramadhan ini, pahala diobral. Melalui tilawah kita, tarawih, atau apapun yang memang diniatkan untuk ibadah. Dan aku menjadi begitu miris melihat tidak sedikit yang kemudian terus mencari pembenaran dengan berbagai macam sindiran tentang calon presiden yang sudah mereka pilih di bilik suara. Please, tidak ingat ya bahwa Allah sudah menjanjikan adanya rumah bagi mereka yang meninggalkan perdebatan yang tidak bermanfaat?

Katanya puasa bukan cuma menahan lapar, dahaga, dan nafsu berkumpul di siangnya. Bukan cuma katanya, kan? Katanya sih puasa juga harus menjaga lisan. Bukan cuma dikunci dari tidak berbicara. Iyaa, diam bisa berarti emas. Namun jika berkata jauh lebih baik dibanding diamnya? Jangan salahkan jika lidah tak ada tulangnya sehingga ia bebas bergerak semaunya. Toh yang dikata bukankah berasal dari hati. Nah, itu… jaga pula nuranimu. Jika mengaku nuranimu bersih dan suci, kenapa tidak suci dan bersih sekalian? Okelah, yang namanya manusia, memang begitu tabiatnya. Jagalah lisanmu dari aib saudaramu, juga dari mencaci makinya. Rasanya jengah melihat kalian merasa benar sendiri.

Haloo? Kamu masih di sana? Berhentilah dulu mencaci maki, berhentilah dulu membenarkan diri sendiri. Ada mereka, saudara kita di Gaza yang sedang diusik penjajah Israel. Kalau kamu lelah tilawah, lihatlah mereka. Yang dikuatkan dan dimuliakan dengan banyaknya penghafal Qur’an meski tengah berjuang di medan perang. Jika kamu malas, lihatlah mereka yang tetap berjuang merebut syahid mulia. Memang karena sudah tidak ada jalan keluar. Mesir? Israel? Atau berenang ke lautan lepas? Mereka menuju surga, dengan semangat dan ruh syahid yang membara.

Dan, bisakah kamu pesankan pada negerimu, Sa? Cukupkan kampanye yang tak berkesudahan ini. Dan suruh mereka bertanya pada nurani mereka, apakah dengan memaki dan saling merendahkan hati mereka akan puas dengan sendirinya? Jangan lupa, tetap dan terus kirimkan doa.

*Nggak usah memperkeruh suasana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s