Duet Yang Kalah Telak

Tahun 2014 bisa kukatakan menjadi tahun wisata bagi ibu. Sebab di tahun inilah, ibu bisa jalan-jalan tanpa berberat hati memikirkan anaknya, suaminya, dan urusan-urusan di sekitar rumahnya selama beberapa hari —well, pretty sure, I’ve doubt about this sentence. Beberapa bulan lalu, ibu ke Bromo. Naik gunung raksasa yang selalu terlihat anggun itu. Kukira karena beliau sudah pernah naik gunung dan merasakan asiknya tadabur alam bersama teman-teman, beliau akan mengizinkanku naik gunung suatu hari nanti. Faktanya, pradugaku zonk besar dan nihil! Bahkan karena kecapekan, dengan lugunya beliau bilang,”Wes, ibu wae sing kesel. Anak-anake ora usah.” Speechless tanpa disuruhlah aku….

Dan Sabtu malam kemarin, ibu pergi ke Malang. Waa, kota impianku hanya karena sana dataran tinggi dan biasanya berhawa dingin –jujur ya, itu kota impian dari kecil dan nggak pernah terpikir Tawangmangu yang jaraknya lebih dekat. Kurang syahdu apa lho, piknik aja berangkatnya diantar ketiga anaknya. Hihi. Jadi ingat ya, dulu sewaktu kecil ada yang kurang kalau kepergian kita yang jauh nggak diantar sama ayah ibu. Hm, sementara mungkin ini pertama kalinya bagi ibu perjalanannya diantar oleh ketiga anak yang telah dilahirkannya sekitar 20 tahun yang lalu. *mikir.

Dan karena alasan wonder woman rumah kami sedang berlibur inilah, duet maut antara aku dan bapak tidak terelakkan. Hasilnya, semaut apapun duet kami tadi pagi, kami masih kalah telak dari ibu! Sedari pagi bapak sudah belanja ke pasar –dan bikin aku mikir lagi anak perempuannya kok nggak diajak. Akhirnya beli banyaakk sekali bahan. Bandeng, patin, tahu, tempe, bayam, kenikir, kecambah, dan kacang panjang. Entahlah, aku cuma iya-iya aja ketika semua lauk pauk yang kusebutkan tadi ujung-ujungnya hanya digoreng -_- sama sekali aku lupa kalau tahunya bisa diolah jadi makanan sederhana tapi lezat tiada kira : oseng tahu pedas manis (catatan : lezat tiada kira kalau di tangan ibu. Di tanganku, baru satu kali yang hasilnya mendekati enak). Patin bumbu rujakku pun kemanisan karena lupa, masak nggak cuma pake takaran perasaan tapi juga logika –kepala ikan patinnya udah kusimpan buat digulaai, nyaam….

Sampai pukul 10.00 pagi tadi, sedari kami masak dari jam 08.00, tersaji makanan sederhana dengan rasa yang dikatakan biasa saja, bahkan nyaris tanpa rasa. Kalau nggak ada momen yang seperti ini, aku pasti lupa lagi lupa lagi, betapa hebatnya makhluk Allah yang dijuluki ibu. Masak super cepat dengan rasa super lezat! Setiap hari tanpa pamrih! Ah, mikir besok pas udah nikah, kayaknya bakal kasian deh si akang *eh. Maka dari itu, ibu selalu menyeretku ke dapur di hari non-aktif kuliah dan kegiatan. Setidaknya beliau sudah berancang-ancang tidak mempermalukan diri di hadapan calon besan dan menantunya hanya karena masakan anaknya ini nggak karuan rasanya /.\

Begitulah….

Selalu ada cerita dari kebersamaan orang tua bersama anaknya. Dibalik rezeki untuk keluarga kami hari ini, ada skenario menarik dari Allah. Masak berdua sama bapak dan bertanya-tanya kira-kira masakah itu bumbunya apa aja. Hehe.

Dapur rumah.

Kembali ke kandang
Terbangun dari tidur dengan tergeragap
Senin, 15 Sept’14 00:15

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s