Membumikan Mahasiswa

Dalam diskusi tentang kampung bersama Kampungnesia di beranda Museum Radyapustaka beberapa waktu lalu, ada satu istilah sederhana yang sukses menggelitik batin saya. Membumikan mahasiswa. Seperti kasta dalam agama Hindu, mahasiswa seolah menempati kasta tertinggi di mata masyarakat. Berilmu, terdidik, dan dianggap mampu membawa jawaban bagi tantangan zaman. Mungkin itu salah sebab bagi kebanyakan orang tua. Mereka rela menguras seluruh tenaga, keringat, dan tentunya harta mereka agar si anak bisa kuliah dan menggondol gelar sarjana pada akhirnya. Walau pada akhirnya, titik pengharapan terakhir dari orang tua kepada anaknya yang sudah sarjana adalah adanya jaminan pendapatan. Entah itu sebagai karyawan atau pegawai yang pada dasarnya bukanlah tujuan dari adanya pendidikan tinggi. Dan semakin tak peduli lagi jika pada akhirnya menyalahi keinginan si anak secara pribadi. Continue reading “Membumikan Mahasiswa”

Advertisements

Jangan Sembarangan Buang Sampah

“Aku sudah mengingatkanmu, Sa. Jangan sembarangan membuang sampah. Bukan cuma petugas taman yang mengingatkan. Salah-salah bisa berabe!”

Kata-kata Bayu saat ini menjadi sama menyengatnya dengan kilau matahari siang ini. Angin yang bertiup kencang justru meniupkan panas yang membuat kering semakin menjadi. Continue reading “Jangan Sembarangan Buang Sampah”

Aku Mengagumi dalam Diamku

Aku masih mengagumi diam-diam, meski waktu telah berlalu sekian lamanya. Seperti adik yang pernah kita ajari mengeja huruf a-ba-ta saat melihat permen cokelat yang jarang di makannya.

Aku mengagumimu diam-diam. Seperti ketika aku melihat boneka panda lucu yang terduduk merayuku di etalase toko itu. Hanya bisa memandang dari kejauhan sebab aku tahu menabung sampai kapan pun uangku tidak akan cukup untuk membelinya. Sama halnya dengan diriku. Mengejarmu secepat apapun rasanya mustahil untuk, setidaknya, menyejajarkan langkah atas segala kehebatanmu.

Aku mengagumimu diam-diam. Seperti pecinta langit yang tatapannya tertawan pada arak-arakan awan di langit lepas. Memandangi perputarannya secara perlahan, tanpa sadar bahwa waktu telah berlalu begitu saja. Membawa rindu yang menghablur bersama datangnya senja.

Aku mengagumimu diam-diam. Seperti pelahap buku yang terlarut dalam kisah romantika di dalamnya. Cinta adalah penyedap bagi semua jenis cerita. Bercakap hanya dengan aksara, lalu membayang di alam sana apa-apa yang tidak terjadi di alam nyata.

Aku mengagumimu diam-diam. Pada figur seorang manusia yang tak pernah kudapati perbincangan hingga tiga menit lamanya. Berdua. Bertatap muka. Sebab kita sama-sama tahu : untuk apa? Sebab kita sama-sama malu dan akhirnya berkata,”Sebab ini memang bukan waktunya.” Dan pada waktu yang sama, kita tersadar bahwa setelah detik ini bisa jadi kita tidak akan pernah berjumpa lagi.

Aku mengagumi diam-diam. Dengan kenyataan bahwa aku berdiri di atas rasa yang belum sepantasnya. Dan hanya cukup mengagumi dalam kenihilan pernyataan. Barangkali sikap akan terbaca, namun selama tak ada kata, bukankah aku bebas menyembunyikannya?

Aku mengagumimu, meski pada akhirnya pada Tuhan dan aksaralah aku berbicara. Kubiarkan saja syair ini menari lalu menggelitiki relung sanubari. Setan akan senantiasa menggodaku,”Alah, tidak apa-apa. Bukankah ketertarikan akan muncul dengan wajar di usiamu….”

Dan hanya dengan diamku aku menyelamatkan diriku. Dan hanya dengan diamku, aku membiarkanmu tetap dapat melindungiku. Dan hanya dengan diamku kubiarkan Tuhan membuktikan janjinya bahwa Ia adalah Dzat Yang Maha Dipercaya.