KONTEMPLASI 2 : Media sebagai Sarana Syiar Bukan Sekadar Menggugurkan Kewajiban

Sebuah perenungan atas diskusi yang kami lakukan sore kemarin. Berdasarkan tulisan yang saya anggap prolog dari diskusi tersebut, ada beberapa tantangan sekaligus keprihatian bagi LDK (lembaga dakwah kampus) untuk menjalankan prinsip jurnalisme secara semestinya. Media yang berada di dalam LDK maupun LDF saat ini cenderung hanya menjalankan tugas kerjanya saja, lalu lupa pada esensi khas sebuah lembaga dakwah yang akan selalu dituntut untuk menjalankan fungsi syiar di sebuah kampus –sebut saja begitu secara gampangnya.

Agama adalah nasihat. Hadits ini tertera dalam Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi:II/37, yang juga terdapat dalam Abu Dawud (4944), An-Nasaa’i : VII. Continue reading “KONTEMPLASI 2 : Media sebagai Sarana Syiar Bukan Sekadar Menggugurkan Kewajiban”

Media Islam, Proker, dan Idealisme

Bismillah

Semacam prolog untuk mempersiapkan talkshow kepenulisan akhir pekan nanti yang mengangkat tema Mahasiswa dan Jurnalisme Islam yang akan dilaksanakan di Solo Islamic Book Fair di Assalam Hypermart. Semoga apa yang akan kusampaikan nanti tidak tenggelam dengan dua pembicara lain, yang selain beda gender, mereka lebih expert dibandingkanku.

Mengatasnamakan Islam, jurnalisme di lembaga dakwah kampus seringkali Continue reading “Media Islam, Proker, dan Idealisme”

Stuko, Niat, dan Timing

Dua Sabtu yang lalu kubulatkan tekad aku akan vakum dari kegiatan non-akademis dari hari Sabtu sampai setidaknya Rabu sore. Alasannya? Apalagi, jika bukan karena ada deadline tugas gila-gilaan selama seminggu penuh. Jeritan hatiku dan teman-teman biasanya sih nggak sebegini parah karena tugasnya masih bisa agak diakali dengan lembur satu malam atau copas dari berbagai sumber. Tapi, studio? Continue reading “Stuko, Niat, dan Timing”

Tentang Hujan dan Hati

Ingin kuulangi menyebutkan panggilan yang sama kepadamu, seperti caraku memanggilnya lebih dari lima tahun yang lalu. Pura-pura saja kau perhatikan aku. Juga kegemaranku. Faktanya, kau hanya memanfaatkanku untuk mengintip hak yang berkaitan dengan kepentinganmu.

Ingin rasanya aku luruh dalam hujan senja kali ini. Ikut bergemiricik menuangkan segala protesku. Meluruhkan air yang sama beningnya dengan air mataku, hingga semua tak akan sadar bahwa wajah telah basah.

Dan yang paling ingin kukatakan kepadamu,”Terima kasih karena kamu telah mengambil mereka satu per satu dari sisiku, melalui diriku, tanpa aku tahu.” Dan aku tekadkan setelah ini, akan kublokir namamu dari kontakku juga dari media sosialku. Terserah padamu kalau julukan alay dan lebay akan mendarat di jidatku. Peduli apa? Dinding terkena paku saja bisa berlubang, apalagi hatiku menerima perlakukanmu.

Terima kasih, setidaknya dengan ini aku masih tahu bahwa raga ini masih memiliki hati.

Solo, 19 Nov ’14
Di bawah naungan, dengan hujan, dan marah yang menyambar
Terduduk di sujud masjid megah nan menentramkan
Kamu, mengapa sejahat itu kepadaku?