KONTEMPLASI 2 : Media sebagai Sarana Syiar Bukan Sekadar Menggugurkan Kewajiban

Sebuah perenungan atas diskusi yang kami lakukan sore kemarin. Berdasarkan tulisan yang saya anggap prolog dari diskusi tersebut, ada beberapa tantangan sekaligus keprihatian bagi LDK (lembaga dakwah kampus) untuk menjalankan prinsip jurnalisme secara semestinya. Media yang berada di dalam LDK maupun LDF saat ini cenderung hanya menjalankan tugas kerjanya saja, lalu lupa pada esensi khas sebuah lembaga dakwah yang akan selalu dituntut untuk menjalankan fungsi syiar di sebuah kampus –sebut saja begitu secara gampangnya.

Agama adalah nasihat. Hadits ini tertera dalam Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi:II/37, yang juga terdapat dalam Abu Dawud (4944), An-Nasaa’i : VII.

Agama ini adalah nasihat dan sebagai seorang Muslim maka kewajiban kitalah menyampaikan nasihat kepada mereka, saudara seiman kita, yang pasti melakukan khilaf dan salah. Seperti yang termaktub dalam QS. Al-‘Ashr. Allah SWT telah memerintahkan manusia untuk selalu memberikan nasihat dalam kebaikan dan dalam kesabaran. Dalam salah satu hadits disebutkan bahwa salah satu hak dari seorang Muslim terhadap Muslim yang lain adalah memberi nasihat bilamana dibutuhkan dan diminta oleh yang bersangkutan.

Media, seperti yang tumbuh sekarang ini, telah menjadi sarana yang tingkat efektivitasnya tinggi yang bisa digunakan oleh siapapun untuk mempropagandakan sebuah kepentingan. Lihat saja bagaimana para petinggi yang mempunyai sebuah hajat, akan menggunakan media untuk melaksanakan hajatnya tersebut. Bahkan salah satu guyonan yang kemudian dilontarkan di tengah panasnya suasana pemilu kemarin adalah syarat menjadi presiden bertambah satu : mempunyai media sendiri.

Lembaga dakwah kampus pun seolah tidak mau ketinggalan tren yang terjadi sekarang ini. Membaca kesempatan yang terbuka luas jika menggunakan media, lembaga dakwah kampus pun akhirnya melahirkan divisi tersendiri yang mengurusi bagian media. Tujuannya, selain untuk memperluas jangkauan syiar Islam, adalah untuk membentuk citra lembaga yang bersangkutan.

Jika mengingat potongan hadist di atas, maka sudah menjadi kewajiban bagi seseorang yang berkecimpung dalam media lembaga dakwah untuk mampu menjalankan fungsi jurnalisme, yaitu untuk mengedukasi sasarannya, memberikan pencerdasan, dan menyampaikan hal sekecil-kecilnya mengenai Islam dan perkembangannya saat ini. Selain itu, idealisme dalam menyampaikan kebenaran tanpa ada tumpangan “kepentingan” harus selalu dipertahankan. Jangan sampai jika si A yang menjadi pimpinan dengan seenaknya memasukkan kepentingan pribadi atau kelompok luar ke dalam pencitraan lembaga itu. Apa jadinya jika sebuah lembaga dakwah yang dimiliki mahasiswa kemudian ditumpangi seenaknya oleh lembaga luar?

Hal lain yang perlu dikritisi dari keberjalanan syiar di media lembaga dakwah adalah kualitas dan kesungguhan dari eksekutor medianya. Berbeda dengan jurnalis lain yang sudah memiliki visi atau setidaknya harus menyampaikan berita berkualitas untuk dapat mempertahankan hidupnya. Sedangkan, media di sebuah lembaga dakwah seringkali hanya bertugas untuk menggugurkan kewajiban dari proker yang dicetuskan di awal kepengurusan. Visi utama syiar seakan kabur di tengah ketergesaan untuk menuntaskan tanggungan terbit tepat waktu. Yang penting jalan sudah menjadi penyakit yang mengancam hasil berita dan konten syiar menjadi mainstream. Tidak ada greget yang membuat informasi dari lembaga dakwah kemudian dicari-cari oleh khalayak umum. Walaupun pada dasarnya, setiap tulisan, setiap berita, akan menemukan pembacanya.

Semangat para ulama dalam menuangkan gagasan dan ilmunya ke dalam tulisan, sayangnya, tidak diikuti dengan serius oleh pemburu berita di lembaga dakwah. Belum ada gerakan dari dalam hati untuk benar-benar berdakwah melalui tulisan dan informasi terkini. Yah, lagi-lagi, sekadar menggugurkan kewajiban. Padahal jika ditelisik dan direnungi kembali, media mampu menjadi ladang dakwah yang begitu menggiurkan dan belum dimanfaatkan oleh beberapa lembaga dakwah. Kalau dengan satu paragraf saja ada yang kemudian tergerak dan tersentuh untuk memperdalam agama Islam, bukankah hal itu akan begitu menggiurkan? Jika karena kengototan kita mencari berita tentang Suriah dan Palestina, misalnya, lalu ada yang kemudian tergerak menginfakkan sebagian hartanya untuk mereka dan tanpa kita tahu koar-koar kita tadi telah mampu meringankan penderitaan perjuangan saudara seiman kita dalam mempertahankan dien yang dirisalahkan kepada Rasulullah SAW.

Dan kadang yang dilupakan oleh para penggerak ini adalah sesungguhnya amanah untuk menyampaikan ini datang dari Allah SWT, bukan dari pimpinan lembaga yang menuntut agar ada informasi yang disampaikan demi citra dan nama baik lembaga. Kesibukan dan kesibukan yang diemban para aktivis dakwah kampus tak jarang menguras nyaris seluruh konsentrasi, sehingga tidak semua amanah tadi dapat dengan baik diselesaikan. Jika para jurnalis saja berjuang sebegitu gigihnya memburu berita dan menyajikan informasi bermutu tinggi hanya demi perut dan kehidupan duniawi, apakah pantas jika alasan penggerak kita adalah Allah, kita masih bermalas-malasan sementara nikmatnya tidak hanya di dunia melainkan juga di surga? Insya Allah.

Wallahu’alam, tulisan ini tidak lebih dari gambaran kegelisahan yang terjadi pada media di lembaga dakwah yang saya termasuk juga bagian di dalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s