Kasihnya Tak Terbatas Masa

“Itulah sebabnya Nabi menyebut ibu hingga tiga kali. Kan tidak ada bapak kota, adanya ibu kota. Kan tidak ada bapak jari, yang ada ibu jari,” disambungnya dengan,”Siapa yang kuhormati lebih dulu? Ibu. Lalu siapa lagi? Ibu. Lalu? Ibu. Lalu? Baru bapakmu. Rasulullah saja bilang seperti itu. Makanya jangan membantah kalau disuruh Ibu.” Nasihat yang biasanya kususul dengan manyun, karena rasa salah dan malu yang bercampur jadi satu.

***

Sekarang ketika aku tidak sedang berada di rumah, setelah kakakku menikah awal bulan lalu, handphone-ku akan mulai berdering ketika waktu sudah menunjuk pukul 18.00. Umi Abi, kontak sakral bagiku, tetapi jarang kuhubungi. Serasa mau bilang kalau anakmu ini baik-baik saja, Bu. Tapi aku selalu teringat bagaimana perasaan ibu begitu ditahan ketika melihat album foto-foto ketika aku, kakakku, dan adikku masih kecil.

“Wah, coba Ibu ngerti teknologi zaman sekarang ya. Ibu fotoin kalian terus kayak dulu. Lha sekarang pakai kamera digital, Ibu nggak ngerti cara ngedit sama nyetak,” kata Ibu sambil membalik-balik halaman yang di sana terpajang fotoku dan saudara-saudaraku. Betapa ayah dan ibu begitu terharu dan terheran mengapa waktu berjalan begitu cepat.

Ibu dan kakakku begitu dekat. Sampai-sampai ke manapun kakak akan pergi, ia selalu berpamitan pada ibu, bahkan ketika sekadar main sekalipun. Sementara aku yang selama 21 tahun ini selalu bersama beliau, jarang sekali berpamitan. Izin pun sekenanya. Dan hal itu berjalan sampai sekarang, meskipun aku sampai dimarahi kakakku dari telepon nun jauh di seberang sana karena tidak pamit ketika aku pergi bersama teman-temanku ke Gunung Merapi dan terpaksa pulang malam karena ban motor temanku bocor di jalan.

“Ibu cuma pengin tahu kamu itu ngapain, ke mana aja. Bukan berniat apa-apa,” ujar kakakku saat itu.

Sementara ketika di jalan, kudengar nada kecewa Ibu dari seberang teleponku,“Masmu yang jauh aja selalu pamit sama Ibu kalau mau ngapa-ngapain. Kamu yang deket nggak pernah pamit sama Ibu. Kok kamu gitu to sama Ibu?” Aku hanya bisa terdiam.

Bagaimana mungkin ibu tidak akan menanyakan keberadaanku atau anak-anaknya yang lain? Selama sembilan bulan, kami sama sekali tidak pernah berpisah barang sedetik pun ketika kami masih berada di kandungannya. Tidak pula ditinggalkannya ketika kami disusuinya. Akan tetapi, ketika kami beranjak dewasa dan merasa mulai punya kehidupan sendiri, kami mulai meninggalkannya. Lupa bahwa sejauh apapun kami pergi, akan selalu ada yang menanti kepulangan kami.

Dan sebuah kehilangan besar dirasainya. Kakak lelakiku telah mengambil wanita kedua dalam hidupnya, selain ibuku sebagai wanita pertama yang begitu dekat di kehidupannya.

“Iya, Bu. Ibu juga jangan sungkan buat ke rumah. Kan ini juga rumah Imam sendiri, bukan rumah orang lain.”

“Iyo, Le. Yang penting kamu jangan berubah menjadi sosok yang Ibu nggak kenal. Jangan terus kamu lupa siapa kamu sebelum ini. Jangan lupa sama ibu, sama adik-adikmu. Yang tegas sama istrimu nanti ya.”

Potongan kalimat itulah yang hingga kini terus saja kuingat tatkala ibu menelepon kakak dan aku berbaring manja di sampingnya. Sebuah nasihat dari seorang ibu yang sedang menatap “kepergian” putra satu-satunya.

Seorang ibu tidak ingin anaknya berubah perlakuan terhadap dirinya. Senakal apapun anaknya, setidakberbakti apapun anaknya kepada dirinya, semengecewakan apapun sikap anaknya, sejelek apapun nilai anaknya di sekolah, ia ingin tetap menjadi seorang ibu bagi anak kecilnya yang sekarang tumbuh mendewasa. Ia tidak ingin menukar anaknya dengan pribadi anak lain. Ia tidak memprotes kepada Tuhan dan menggugat, kenapa ia ditakdirkan memiliki anak yang demikian.

Dan kuinsafi mengapa ibu semakin sering meneleponku menjelang malam sebagai alarm agar aku segera pulang. Beliau hanya sedang mempersiapkan atas kehilangan lain yang akan dialaminya beberapa tahun lagi. Beliau hanya ingin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, dengan penjagaan yang tidak akan lagi sesempurna ketika beliau mengandungku dulu, sebelum masa kehilangan itu tiba. Masa di mana aku akan dipercayakan ibu kepada pria kedua dalam hidupku setelah ayahku yang membuatnya tidak lagi bisa memanjakanku sebagaimana ia memanjakanku seperti dulu. Sebelum ia begitu merindukanku sebagai pertanda cinta yang tidak akan pernah mampu kubayar sepanjang masa.[]

“Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com” 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s