Identitas : Bentukan atau Natural?

Mengungkit pertanyaan serupa, saya jadi teringat artikel yang saya simpulkan di depan kelas hari ini di mata kuliah Teori Perencanaan. Pertanyaan yang dilontarkan adalah “Perencanaan : Teori atau Praktik?” yang diulas oleh oleh Gede Budi Suprayoga. Jalan tengahnya dari pertanyaan Gede Budi tentunya bahwa teori dan praktik, keduanya, tidak bisa dipisahkan dari proses perencanaan yang disengaja dan akan terus menerus berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Agar tidak menjadi rencana utopis. Mung iso mbayangke tanpa ana kepriye anggone nglakokake, secara lugas dalam bahasa Jawa saya menyebutnya demikian.

Lalu, identitas itu bentukan atau natural? Continue reading “Identitas : Bentukan atau Natural?”

Karena Dinsa Bukan Untuk Kalian (End)

Kereta yang kunaiki sebentar lagi merapat di Stasiun Balapan. Kuturunkan barang dari rak atas dan mulai merapikan diri. Hujan gerimis terlihat di luar. Pukul setengah lima sore sekarang. Mas Abi sudah berjanji menjemputku pukul 17.15, jadi mau tidak mau aku harus menunggu sedikit agak lama.

Stasiun cukup padat dengan penumpang yang menunggu kedatangan beberapa kereta. Hujan berubah menjadi deras, karena itulah aku putuskan untuk mampir ke kedai roti dan kopi untuk menunggu jemputan dan menghangatkan badan. Setengah menyeret tas, kususuri lorong stasiun yang melembab karena hujan.

“Assalamu’alaikum, Sa!” Continue reading “Karena Dinsa Bukan Untuk Kalian (End)”

Karena Dinsa Bukan untuk Kalian (1)

Karena Dinsa Bukan Untuk Kalian

Mendung yang sudah menggelayut terlalu pagi tak menyurutkan langkahku pergi ke stasiun. Kutandai jamku tepat di angka 7. Menghitung berapa lama sekiranya aku menghabiskan waktu dari rumah menuju stasiun. Jalan tetap padat dan ramai. Hari ini hari Selasa. Meski bukan akhir pekan, semangatku untuk liburan bukan berarti padam. Pagi ini sesedap kopi hitam yang tadi kusesap.

“Assalamu’alaikum, Sa…,” sapa Continue reading “Karena Dinsa Bukan untuk Kalian (1)”

Welcome, March!

Sebenernya sih ngga mau terlalu latah dengan meniru ucapan diberbagai akun sosial media tentang pergantian bulan. Well, setidaknya pergantian momen ini lebih mudah dijadikan tanda untuk segera move up dan naik ke jenjang yang lebih tinggi dan serius. Apalagi, target bulanan saya yang seharusnya menghasilkan delapan tulisan per bulan pun zonk di bulan Februari. Selama sebulan tidak ada tulisan baru. Alasannya : sedang menulis yang lain (ilmiah genre) dan –yang paling jujur adalah- tidak menyempatkan melahap bacaan baru.

Beberapa hari kemarin, sebenernya saya mau menulis sebuah refleksi yang judulnya Belajarlah dari Kompetisi. Salah satu hal yang cukup menyita dan bermanfaat di liburan kemarin adalah keikutsertaan saya (PWK), Hida (Sipil), Niken (Arsitek), dan Icut (PWK) di sebuah kompetisi mendesain perumahan yang diselenggarakan sebuah kampus negeri di Lampung. Lomba yang seakan ngerjain tugas, hehe, tapi tanpa deadline dari dosen dan mewajibkan kami membuat deadline sendiri. Dan hasilnya, kami belum lolos. (Kalau lolos kan pasti bahasa saya sudah heboh dari awal, haha) Continue reading “Welcome, March!”