Ramadhan#10 : Dijinakkan

Matahari bersinar bundar layaknya telur yang siap kutelan kala adzan berkumandang. Pangeran Kecil akan bilang bahwa mencari senja adalah pertanda bahwa kita sedang dirundun kesedihan. Baru saja kutuntaskan satu buku tipis yang kini jarang ditemui di pasaran. The Little Prince atau dalam bahasa Prancis aslinya berjudul La Petite Prince. Buku yang hanya setebal 108 halaman itu berhasil meninggalkan makna tersendiri bagiku. Tentang perjalanan sesosok pangeran kecil yang sedang berkelana dari satu planet ke planet lain. Dan yang paling meninggalkan jejak bagiku adalah tentang kisah Pangeran Kecil dengan si rubah. Continue reading “Ramadhan#10 : Dijinakkan”

Advertisements

#6Ramadhan : 1/5 Ramadhan Telah Pergi

ramadhan1per5

#Gabut adalah hastag hits yang membayangi kepalaku hari ini. Hari pertama masuk kantor dan belum tahu mesti ngapain. Jam masuk kantor adalah jam 10 dan jam pulang adalah setengah 4 kalau memang nggak ada kerjaan. Nyatanya mas-mas pimpinan proyeknya sedang di luar kota, jadi aku sukses gabut seharian. Bahkan mengiyakan bikin outline tugas Real Estatenya Cut supaya kegabutanku nggak semakin menjadi.

Alhamdulillah. Alloh Maha Menolong hamba-Nya. Aku masih ingat betul dengan salah satu nasihat temanku bahwa sebagai aktivis dakwah kampus (berat ini berat), kita akan langsung mendapat teguran dari Alloh kalau kita melakukan sedikit saja kesalahan –apalagi kesalahan yang fatal. Menurutku gabut adalah salah satu dosa memalukan dan fatal karena yang menjadi korbannya adalah waktu yang berhubungan erat dengan produktivitas. Apalagi ini adalah bulan Ramadhan, di mana Alloh buka pintu pahala sebanyak-banyaknya bagi siapa saja. Continue reading “#6Ramadhan : 1/5 Ramadhan Telah Pergi”

Deadline

blog

Seperti sudah menjadi kebiasaan, setiap jam 9 malam akan kututup pintu depan rumah. Kumasukkan sepasang sandal dan sepatu yang biasa kita pakai. Punyaku abu-abu ungu dan punyamu hitam dengan aksen orange yang menjadi ciri khasmu. Kutata dalam rak yang terletak dekat pintu. Katamu sengaja kau letakkan di situ agar selalu siap alas ketika kita akan memulai aktivitas.

Kuambil sebuah buku yang sedang kubaca. Belum juga basi, meski ia berbicara tentang hal yang sama. Cinta. Kuselonjorkan kakiku di kursi rotan yang sengaja kau pilih untuk mendinginkan ruangan dan kusandarkan kepala ke tumpukan bantal. Mulai kunikmati membaca halaman demi halaman. Sepi. Seperti biasa. Yang berbeda, sosokmu sekarang belum juga pulang. Kau bilang kau akan pulang lebih larut dari biasanya. Dan di dinginnya kursi rotan yang kau pilih ini, aku menunggu kepulanganmu.

Sebenarnya tidak ada yang berbeda dari malam-malam yang biasa kulalui bersamamu. Tapi membaca buku ini membuatku memikirkan sesuatu. Continue reading “Deadline”

#4Ramadhan : Memilih Pilihan

choice3

Entah bagaimana awalnya kita kembali menjalin kata. Aku ingin menghindarimu karena daya tarik yang begitu kuat meski kita telah lama berjarak. Dalam jumpa yang tak begitu lama, kesanmu terlanjur menancap dalam di relung batinku. Dan keberjarakan yang terpaksa dicipta-Nya di antara kita telah kusyukuri, walau di saat yang sama aku juga menyesali. Dalam keberjarakan itu aku bisa menikmati rasa ini sebagai sebentuk rindu yang hilang timbul.

Aku seperti menjadi anak kecil yang asik bermain dan berlari di tepian pantai. Menuliskan namamu dan dengan sengaja menunggu pasang air laut untuk menghapusnya. Menuliskannya lagi ketika hilang dan kembali menunggu pasang untuk kembali menghapuskannya. Begitu dan begitu seterusnya. Berulang tanpa berusaha mencegahnya. Menanti dalam harap, namun dalam keberjarakan kosong yang diisi doa-doa….

Aku memilih tinggal dalam keberjarakan ini. Tidak peduli meski riak dalam hati kembali membuncah ketika menjumpaimu melangkah tanpa sengaja di depanku. Atau tertegun tanpa kutahu karena tiba-tiba kau berada di dekatku dan meninggalkan kesanmu di detik-detik berikutnya. Dan menghapusnya membutuhkan waktu yang beratus kali lipat lamanya.

Setiap pilihan memiliki konsekuensinya sendiri. Menyebutmu dalam doa, aku tidak berani. Aku takut langkahku menyebutmu dalam doaku akan membuyarkan niatan dalam hatiku. Jadi, baiknya kuhapus saja dirimu, kan?

#2Ramadhan : Tidak Ada yang Ingin Terburu Pergi

#2 : Tidak ada yang memilih untuk terburu-buru pergi. Bukan berniat ingin menghilang dan melepas segala tanggung jawab yang ada. Namun, selama aku bisa memilih untuk bisa melesatkan panah terbaik agar tepat pada titik sasar, tentu aku akan memanfaatkannya. Dan pilihanku ke Semarang adalah salah satu caranya.

Segala pilihan akan berbuah konsekuensinya sendiri-sendiri. Ramadhanku kali ini jelas akan menorehkan kesan yang berbeda. Ramadhan di Tanah Rantau. Tidak ada NH, tidak ada kajian jelang buka, tidak ada keseruan ngajar TPA, tidak ada tarawih satu juznya…. This what makes me so sad.