Pura-Pura Tidak Peduli

Aku bisa saja pura-pura tidak peduli
Tapi ketidakpedulianku akan menjadi sebentuk kebohongan baru
Di mana akan kucari dan kucari lagi kebohongan yang lain untuk menerus tidak peduli
Dan Tuhan, dia melarang
Jadi aku tidak bisa untuk tidak peduli
Meski sedih
Meski pedih…

Dan kau
Akan sampai kapan?

Pada akhirnya keacuhanku padamu akan menggelembung dan suatu ketika ia akan pecah dan hilang dengan menyedihkan. Sungguh tak mengapa bagiku jika harus tersayat luka, asal bukan kita yang menjadi sebab kehancuran. Aku, sedih. Jika mendengar atau membaca,”Kita adalah kehancuran.” Pedih. Sebab ia bukan hanya tentang duniaku dari menahan malu pada manusia. Tapi dia, juga tentang akhiratku di mana aku tak bisa sembunyikan apapun dari Rabbku.

Jelas aku tidak bisa berlari sendiri. Berlari dari sedih, berlari dari pedih, aku masih bisa mengontrol diriku sendiri. Jelas aku tidak bisa lari seorang diri. Dengan rombongan yang sebegini besar, tanganku hanya mampu menggandeng beberapa ikatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s