(Fitnah) Perut dan Anak Rantau

Sebagai anak yang masih bergantung pada uang orang tua, aku harus sadar diri. Hidup di rantau harus hemat, tidak bisa hanya menuruti keinginan tanpa adanya kadar kebutuhan di sana. Menurut perut tidak akan habis, Kalau sudah begini, satu pengingat yang membuatku ciut untuk mengeluarkan uang adalah sabda Rasulullah SAW. bahwa beliau sangat membenci majelis yang hanya membicarakan masalah perut dan kemaluan. Naudzubillah min dzalik. Yang di akhir zaman nanti juga akan muncul fitnah yang berasal dari perut. Secara kronologis begini (berdasarkan kajian Ust. Syihab yang kusimak dari Y*tube).

Bumi akan dilanda musim kemarau berkepanjangan (Lha, siapa tahu sekarang ini sedang kemarau panjang seperti yang dimaksudkan). Tanaman akan mati karena kekurangan air, lalu menyusul hewan yang akan mati karena tidak ada tumbuhan yang bisa dimakan. Jika herbivora habis, maka karnivora pun akan turut mati. Ketiadaan hewan dan tumbuhan sebagai sumber pangan akan membuat manusia saling bersitegang untuk mendapatkan makanan. Bahkan saking laparnya manusia, mereka akan saling bunuh untuk menjamin dirinya mendapatkan makanan. Jika si A mempunyai sekantung gandum, maka si B, C, D, dan lainnya tidak akan segan-segan membunuh si A agar gandum itu berpindah tangan pada si B,C, D, atau lainnya untuk dimakan. (Ya Alloh, hindarkan kami dari peristiwa yang demikian). Continue reading “(Fitnah) Perut dan Anak Rantau”

Media Sosial dan Buku Harian

Biasanya malam-malam seperti ini, sedari SD, aku mulai asik menceritakan aktivitasku seharian tadi ke dalam buku diariku. Menulis tanpa terikat waktu. Saat suntuk mengerjakan PR, saat bosan, saat sedih, saat senang; dengan catatan aku harus menulis di tempat yang tersembunyi agar aku tak diganggu kakakku. Yah, kamu pun sendiri paham bagaimana rasanya diganggu orang lain di saat aku perlu asik sendiri dan bisa saja dia menertawakanmu.

Aku masih menyimpan diari pertamaku yang berkisah tentang seorang Continue reading “Media Sosial dan Buku Harian”

Menerima? Membikin Saja!

“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang, karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka kemajuan sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.” –Minke, dalam “Rumah Kaca”

Rumah Kaca halaman 584. Obrolan antara Minke dan Goenawan, mantan anggota Syarikat yang dikucilkan karena menentang kepemimpinan Mas Tjokro. Simak dialog ini dan tafsirkan sendiri menurut rekam jejak hidupmu. Continue reading “Menerima? Membikin Saja!”

QS Al-Muzzammil, Perhatikan dan Renungkanlah

Untuk para da’i (juru dakwah), guru dan murabbi (pendidik), renungkan ketujuh ayat ini:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ

1. Hai orang yang berkemul (berselimut),
2. bangunlah, lalu berilah peringatan!

Iya.. bangunlah dan bangkitlah, sebab perubahan dan perbaikan tidak akan terwujud dengan hanya bergumul di atas kasur. “Bangunlah…. berarti bergeraklah!“.

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ

3. Dan Tuhanmu agungkanlah/besarkanlah!

Iya, besarkan dan agungkan nama Rabb-mu, bukan namamu, jamaahmu, apalagi partaimu. Sebagian orang –hadaahumullah– menjadikan cinta dan bencinya, wala dan baro’-nya diatas kepentingan pribadi atau golongannya, “Bila bukan bersama kami, maka berarti musuh kami”. Ini manhaj yang keliru.

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

4. Dan pakaianmu bersihkanlah

Ada dua tafsiran ulama berkaitan dengan ayat ini:

  1. Bersihkan jiwamu dari noda kesyirikan
  2. Bersihkan pakaianmu saat menghadap Rabb-mu dalam beribadah.

Terlepas dari dua tafsiran tersebut, yang jelas seorang guru, da’i ataupun murobbi perlu membersihkan hatinya dari noda syirik dan syubhat. Dia juga perlu memperhatikan penampilan luarnya agar menarik hati anak didik serta mad’u-nya (objek dakwahnya).

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

5. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah

Iya, karena dosa akan menjadi penghalang diterimanya dakwahmu. Dosa akan melemahkanmu, dosa akan menimbulkan kebencian dihati makhluk-Nya, sehingga mereka membencimu sebelum dakwahmu.

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

6. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.

Iya, bahkan engkau harus merasa belum berbuat apa-apa. Jangan pernah berkata, “Kalau bukan karena saya dia tidak akan sesukses ini. Atau mengatakan, “saya yang menunjukinya jalan hidayah“, padahal Allah berfirman:

يمنون عليك أن أسلموا قل لا تمنوا علي إسلامكم بل الله يمن عليكم أن هداكم للإيمان

Mereka mengungkit keislaman mereka kepadamu. Katakan, “Janganlah kamu mengungkit keislaman kalian kepadaku, tetapi Allahlah yang memberikan kepada kalian hidayah kepada iman.” (QS. Al Hujurot: 17).

Teruslah menanam kebaikan, lalu tunggu hingga semua berbuah indah, bila telah siap panen maka bersabarlah, petiklah hasilnya disana. Di surga firdaus yang tinggi.

وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

7. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

Ini semakna dengan firman-Nya: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28).

Iya, karena kesabaran adalah kunci kesuksesanmu di dunia dan akhirat.

***

Faidah bincang pagi bersama Prof. Anis Thohir Al-Indunisy –hafidzahulah
Jogjakarta 15 Syawwal 1436 H

Penulis: Ust. Aan Chandra Thalib, Lc.

Diambil dari Muslim.or.id atau klik di sini.

Continue reading “QS Al-Muzzammil, Perhatikan dan Renungkanlah”

Dokter

Membayangkan kembali berurusan dengan dokter dan obat dan suntik dan bau rumah sakit atau bau alat-alat kesehatan yang disemprot alkohol, membuat keningku berkerut, membuat nyaliku ciut.

Akankah setelah lama berlalu masa-masa kesakitan itu, sebentar lagi harus kembali menghadapi dokter dan obat dan suntik dan bau rumah sakit atau bau alat-alat kesehatan yang disemprot alkohol?

Ya Rabb…

Petuah : Tangguhkan Tim-mu!

Karena sekarang kamu berada dalam sistem, buatlah timmu menjadi tim yang tangguh!

Kamu harus punya prinsip. Itu kata dosenku ketika konsultasi tentang kerja praktik yang sekarang sedang kulakoni. Terima kasih, Pak, atas motivasinya. Bukan niatan untuk berhenti atau bergerak untuk melawan, namun yang benar seharusnya gerakan ini harus bisa membenarkan.

Dan, Sa, kau harus kembali ditanya. Apakah diammu ini membawa kebaikan? Meski tidak, tetaplah bergerak.

Sibuk Mengiri

Kita sendiri yang melelahkan hati dengan selalu mengiri pada kerja dan karya teman kita
Menganggapnya selalu berada di posisi bawah
Menganggapnya menggunakan cara-cara licin untuk memuluskan usahanya

Padahal tidak pernah ada yang tahu bagaimana kedalaman hati dan watak manusia

Hingga kita lupa
Memberikan yang terbaik karena sibuk mengiri dan mencaci
Hingga pada akhirnya bertambah lelahlah kita
Bertambah hinalah kita
Diri tak di atas, kerja dan karya ternyata pun lepas

Maka, tiada untung bagi kita untuk sombong barang sedikit saja
Termasuk amal
Ujub dan riya’
Membakar pahala

Bakar sombongmu!
Hentikan irian di hatimu!