Menerima? Membikin Saja!

“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang, karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka kemajuan sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.” –Minke, dalam “Rumah Kaca”

Rumah Kaca halaman 584. Obrolan antara Minke dan Goenawan, mantan anggota Syarikat yang dikucilkan karena menentang kepemimpinan Mas Tjokro. Simak dialog ini dan tafsirkan sendiri menurut rekam jejak hidupmu.

“Bagaimana kalau Perang Dunia selesai?”
Kalau selesai? Langkah pertama adalah menggugat Gubermen dan Bank.”
“Kau!”
Raden Mas Minke mengangguk-angguk. Ia telah begitu kurus namun kumisnya masih juga dipeliharanya baik-baik. Matanya tetap bersinar-sinar penuh optimisme dan suaranya tetap lantang seperti sedia kala.

“Akan kusewa ahli-ahli hukum Eropa.”
“Darimana kau bayar mereka?”
Kalau ahli hukum itu hanya tahu uang, tentunya tak perlu lagi ada hukum yang harus mereka pertahankan dan mereka bela.”
“Tapi mereka jadi ahli dengan susah payah dan dengan biaya.”
“Apakah arti semua itu dibandingkan dengan seluruh umat manusia yang bergulat untuk menemukan hukumnya? Berapakah yang bisa disumbangkan oleh seorang individu sebagai ahli hukum pada perbendaharaan hukum umat manusia? Kalau ahli hukum tak merasa tersinggung karena pelanggaran hukum sebaiknya mereka jadi tukang sapu jalanan.”
“Itu yang kau inginkan, bukan kenyataannya, Mas.”

Dan berhenti sampai di situ cukup bagiku untuk menyadari bahwa kenyataan bisa diwujudkan. Maksudnya begini. Bekerja dan melakukan sesuatu baiknya berdasarkan target (target oriented), bukan berdasarkan tren atau apa yang sudah ada sebelumnya. Tentu tren oriented itu baik, tapi ibarat tanaman tanpa pupuk dan penyubur, maka progres pertumbuhannya pun akan lambat.

Manusia saat ini sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang instan, maunya cepat dengan usaha yang sama, bahkan lebih sedikit. Tapi, bekerja, tanpa target oriented bahkan tren oriented seperti seseorang yang membiarkan kenyataan diterimanya begitu saja. Segalanya dibiarkan-biarkan saja supaya cepat berlalu, supaya segera sampai ujung akhir. Melupa pada prinsip mastatho’tum. Berusahalah semaksimalnya sampai tidak ada usaha lagi yang bisa dilakukan.

Begitu kan kondisi kita sekarang? Dan, kok betah ya?[]

Kamar, 9 Agustus 2015, sebelum berangkat ke Semarang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s