Media Sosial dan Buku Harian

Biasanya malam-malam seperti ini, sedari SD, aku mulai asik menceritakan aktivitasku seharian tadi ke dalam buku diariku. Menulis tanpa terikat waktu. Saat suntuk mengerjakan PR, saat bosan, saat sedih, saat senang; dengan catatan aku harus menulis di tempat yang tersembunyi agar aku tak diganggu kakakku. Yah, kamu pun sendiri paham bagaimana rasanya diganggu orang lain di saat aku perlu asik sendiri dan bisa saja dia menertawakanmu.

Aku masih menyimpan diari pertamaku yang berkisah tentang seorang teman di masa kecilku yang kutemui di kolam renang Manahan. Agamanya Hindu. Jika aku tidak salah ingat dan tidak salah menulis, namanya Indri. Usia kami tidak jauh berbeda, tapi lingkungan pertumbuhan kami yang berbeda sangat menunjukkan adanya tingkat keberanian dan kematangan mental yang kentara. Aku tumbuh di desa dan dia di kota. Hanya sekali saja kami bertemu dan aku pun tidak tahu di mana ia berada sekarang ini. Hingga sekarang aku masih mengingatnya, dengan samar, terbantu dengan catatan buku harian dan sebagian memori yang tersimpan. Rambutnya panjang agak bergelombang, yang sepertinya itu diakibatkan rambutnya yang basah. Dia sudah pandai berenang dan aku tidak begitu sampai sekarang. Meski baru saja bertemu, seharian itu kami bersama. Bermain air, makan, menemui orang tua kami masing-masing, hingga mandi dan mengucap selamat berpisah dan semoga kelak bertemu kembali. Dituliskan dengan polosnya oleh Sasa kecil yang begitu senang diajak renang.

Masa berlalu… Masuk SMP aku berganti buku diari ke buku yang lebih tebal. Tak kalah tebalnya dari buku Irfan Hamka yang berjudul Ayah. Buku diariku hingga aku lulus tiga tahun kemudian. Kuceritakan cita-citaku, kesedihanku, luapan kegembiraanku, ataupun hariku yang terasa biasa-biasa saja dibanding apa yang temanku miliki. Ah, rumput tetangga selalu nampak lebih hijau. Tentu, aku bercerita tentang cinta monyetku di sana. Kadang aku risih sendiri membacanya, tapi tak dapat tidak aku tertawa juga pada kepolosanku saat itu. Perkembangan nilaiku juga kucatat.

Dan itu jauuh sebelum ada lagu Dear Diary yang membuat kesan diari menjadi buruk di mataku. Dan terjeda jauh sebelum gadget mulai tumbuh dan media sosial begitu mudah kita akses sekarang ini.

buku harian

Masuk SMA, saat aku mulai ikut dua ekskul sekaligus, kebutuhanku akan diari mulai tergusur. Aku mulai sering pulang sore bahkan malam untuk dua organisasi itu. Ternyata bersamaan dengan itu, aku turut kehilangan teman dekatku sedari SD. Dia ada, namun karena sebuah ketidakjujuran yang terjadi di antara kami membuat setiap dari kami menjauh dan akan begitu canggung bertemu sekarang ini. Jika kubaca lagi, masih jelas kronologiku kehilangannya di diari SMA-ku.

SMP ke SMA, SMA ke kuliah. Media sosial telah berkembang dengan begitu pesatnya. Kuikuti dan tanpa sadar bahwa ia telah menjangkiti dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan zaman sekarang. Bangun tidur gadget, mau makan gadget, sambil nonton gadget, sambil hangout gadget, jalan lihat gadget dan nyaris semuanya tak pernah lepas darinya. Untuk melihat notifikasi atau status atau aktivitas terbaru dan akan mendadak panik jika sehari saja sinyal menghilang, baterai habis, atau paket data kadaluarsa.

Proses menyejarahkan diri ke dalam arsip tulisan telah tergeser dengan diari-diari digital. Facebook, Twitter, Tumblr, Instagram, Path, Line, dan aneka media sosial lainnya –termasuk blog ini- telah menjadi diari kita sehari-hari. Kita menjadi rajin menulis, hanya kadang tidak pada tempatnya. Dan runtut kejadiannya kadang susah untuk kuurutkan kesannya.

Sampai sekarang aku masih menulis diari, diari yang kutulis tangan. Hanya saja sudah tidak bisa setiap hari. Selama setahun ini diariku hanya berkurang tak lebih dari 50 halaman. Padahal jika mau kurekam dalam tulisan, tentu saja aku akan membutuhkan diari yang lebih tebal karena ada banyak catatan perkembangan, pikiran, perasaan, dan lainnya di diari itu. Tapi diari digital sudah menggantikannya.

Minusnya, kadang dengan banyaknya media sosialku saat ini, aku malah kesusahan mengarsipkannya ke dalam tulisan sebagai bahan renungan atau pencerahan. Padahal banyak –banyak sekali- yang harusnya kutuliskan. Sebegitunya asiknya bermain di dunia maya, kadang aku sampai lupa pada keterkaitannya dengan kehidupan nyataku. Tidak jarang aku merasa pusing dengan suatu urusan. Jaringan komunikasi tetap kujalin secara maya –dengan dalih- untuk menyelesaikan kepusinganku itu. Sayangnya, biasanya aku tidak mendapati solusi apapun dan pada akhirnya aku malah tidak jadi melakukan apapun.

Aneh ya?[]

Kamar Timur- 10 Agustus 2015-22:03-Semarang atas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s