Kepemimpinan yang Mampu Hadir

“Di sini kita punya suara yang sama. Bukan berarti karena aku tua lantas kalian harus mengikuti keputusanku lho ya,” suara kakak tertua menghiasi pertemuan spesial kami siang itu. Sengaja kami sempatkan pertemuan rutinan ini untuk mengagendakan satu hal. Pemilihan ketua baru kami hingga entah beberapa masa ke depan.

“Jadi, kita mulai ya satu-satu akan bersuara dan mengemukakan pendapatnya. Tapi aku minta ke kalian, apa yang kita obrolkan setelah ini tidak dijadikan omongan lagi di belakang. Insya Alloh aku di sini tahu bahwa kita di sini sama-sama paham.”

Singkat kata masing-masing dari kami mulai berbicara. Tentang lebih dan kurang dari dua kandidat ketua yang sudah kami pilih di pertemuan sebelumnya. Pilihan dari hasil musyawarah. Sebijaksana mungkin kami menyusun kata agar apa yang terucap tidak lantas terkesan menyalahkan, menyudutkan, atau menghakimi. Tak perlu baper, apalagi laper*. Dan aku menghadapi suasana seperti ini lagi. Seperti de javu. Memilih pemimpin untuk menjadi yang terpimpin, dengan konsekuensi aku harus membersamainya selama menjadi pemimpin. Continue reading “Kepemimpinan yang Mampu Hadir”