Senja di Depan Mata

Pengertian kita akan totalitas masih nampak berbeda. Bagimu, itu hanya tentang bekerja dan purna sudahlah semuanya seketika. Bagiku, itu tentang logika. Juga tentang rasa dan karenanya instingku sebagai perempuan bakal bekerja. Meramu rasa dalam logika, atau mungkin sebaliknya, bukan perkara mudah bagiku. Karena sebagaimana perempuan lain di muka bumi ini, hatiku akan selalu ada kecondongan untuk lebih mencintai.

Dan aku mengakui,
aku mencintai jalan ini sepenuh hati

Tanpa terasa, senja sudah di pelupuk mata
Mataku mulai nanar
Batinku memerih
Apa saja yang sudah kita lakukan hingga kita mesti berhenti secepat ini?
Apa yang kita goreskan kemarin, kemarin lusa, atau entah kapan dulu pada sejarah hidup kita?

 

Advertisements