Dilan (1) dalam Resensiku

Judul : Dilan Dia adalah Dilanku tahun 1990
Penulis : Pidi Baiq, 2014
Tebal : 346 halaman
Penerbit : Pastel Books

covernya

Membaca buku ini aku jadi terbayang tentang modus seorang laki-laki pada fitrahnya untuk selalu tertarik pada perempuan cantik. Alkisah, Milea adalah siswa pindahan dari Jakarta. Duduk di kelas 2 SMA. Pertemuannya dengan Dilan dimulai dari ramalan, yang kelak akan diubah Dilan menjadi sebuah tawaran. “Kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu.” “Enggak tahu kalau sore.” Beberapa potongan kata pendek berhasil memancing pembaca untuk terus lanjut dan malas berhenti. Parasnya yang cantik mengundang banyak kumbang mendekat, namun tak semuanya Milea tanggapi kecuali sekadar untuk ‘menghargai’. Mas Adi, Nandan, dan beberapa daftar nama yang Dilan sebutkan –termasuk dirinya- adalah para lelaki yang ingin menjadikan Milea pacar. “Semuanya akan gagal,” begitu kata Dilan.  Continue reading “Dilan (1) dalam Resensiku”

Advertisements

Menghimpunmu dalam Doaku

Senja telah merambat naik dan kini gelap memenuhi langit. Rasanya baru saja kemarin pelayaran menakjubkan ini dimulai, baru kemarin pula ombak dan anginnya mampu membuat langkah gontai. Hingga akhirnya, kaki ini kembali menginjak dermaga. Dalam hembusan angin yang terasa berbeda. Tak lagi berbau asin, pertanda hanya lautan yang mengelilingi. Tak ada pilihan, kecuali meneruskan perjalanan atau mati di tengah lautan. Daratan menawarkan hal yang berbeda. Pertemuan, dengan akhir perpisahan. Lalu akan ada hal serupa yang akan berulang dalam fase hidup berikutnya.

Maka, aku memutuskan menghimpunmu dalam doaku. Continue reading “Menghimpunmu dalam Doaku”