Mengenal Kolaborasi ala meetchange.org

Grup FIM Bengawan tidak berhenti memberi inspirasi. Setelah beberapa kelas tatap muka yang membahas tentang FIM, CV, dan esai, tiba giliran kami untuk berdiskusi. Tak tanggung-tanggung pemateri yang diundang adalah sosok yang sangat luar biasa! Khaira Al Hafi. Alumnus kampus kuning yang menjadi founder start up bernama meetchange.org.

Meetchange.org

Adalah sebuah sosial media baru yang lahir karena kegelisahannya atas banyaknya dana yang nganggur, padahal di luar juga banyak manusia-manusia kreatif yang ragu melangkah karena kekurangan dana dan jejaring untuk projeknya –bahkan Kak Al juga mengalaminya untuk mendirikan meetchange.org lho. Sosmed ini harapannya mampu menghubungkan para individu dan organisasi yang bergerak di sektor publik, khususnya yang fokus pada gerakan non-profit untuk kebermanfaatan banyak orang. Sasarannya adalah politisi, tokoh masyarakat, dermawan, komunitas, universitas, lembaga riset, koperasi, bisnis sosial, himpunan, hingga partai politik, atau bisa jadi kita yang punya keinginan untuk berbuat baik. Mulai dari level desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, kedutaan, hingga internasional. Semua terhubung dalam meetchange.org saat diluncurkan nanti. Jadi, bukan akun dengan nama alay seperti pada sosmed pada umumnya, Kak Al ingin kelak ada berbagai dinas, perusahaan, komunitas, dan sebagainya bisa bergabung dengan meetchange.org.

Meetchange.org menjadi pintu bagi pemilik kapital (bisa dalam bentuk CSR misalnya) dan orang-orang kreatif yang memiliki projek sosial tetapi kesulitan dalam pendanaan. Sesudah dipertemukan lewat meetchange.org ini, setiap pihak harus menindaklanjutinya sendiri. Pertanggungjawabannya lebih ditekankan antara pihak pemberi dan penerima, meskipun akan jauh lebih baik ketika si penerima melampirkan laporan pertanggungjawaban dana projeknya di akun. Agar kredibilitasnya semakin terpercaya. Semacam biro jodoh, tapi boleh berganti-ganti pasangan. *eh, salah fokus.

Hingga saat ini ada Rp 70 T dana dari pemerintah dan CSR sebesar Rp 10 T per tahun yang menunggu untuk disalurkan. Lobi pada beberapa masih terus dilakukan meski meetchange.org belum diluncurkan. Bukan tanpa tantangan program ini dijalankan. Event tahunan Indonesian Citizens Summit menjadi salah satu cara untuk membuat berbagai komunitas dan lembaga/instansi urun rembug dalam kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Termasuk diskusi dalam grup adalah media promonya, haha. “Meningkatkan traction kayak jumlah user, jumlah kunjungan, etc,” cetus Kak Al ketika ditanya mengenai profit projek ini.

Ingin bergabung? Masukkan alamat e-mail-mu di beranda meetchange.org ya. Sembari mematangkan projekmu, pastikan pula (1) proposal yang akan diajukan sesuai dengan bisnis si derma dana, (2) sesuai dengan keinginan stakeholder-nya, dan (3) memiliki dampak sosial yang sesuai dengan fokus bidang pemberi dana. Tidak perlu takut tempatnya terpencil atau belum terjamah teknologi, karena justru banyak projek besar yang bisa dilakukan di tempat-tempat seperti itu.

My Passion My Career

Capaian Kak Al hingga detik ini tidak terlepas dari passion-nya. Statusnya sebagai mahasiswa Teknik Industri UI tidak menghalanginya untuk mencetuskan inovasi di bidang pemerintahan dan gerakan sosial untuk banyak komunitas dan berbagai institusi formal maupun tidak formal. Malah berinovasi tentang sosial adalah passion sosok yang menjadi ketua OSIS di SMP dan SMA-nya dulu. Pengalaman magang dan skripsinya juga tidak jauh-jauh dari bidang ini. OGI atau Open Government Indonesia adalah salah satu caranya untuk berdekatan dengan bidang yang sudah membuatku enggan duluan : birokrasi. Jujur, aku baru tahu ternyata bisa ya seorang mahasiswa magang di OGI –yang jujur anak PWK banget, tapi kok Kak Al bisa ya magang di sana. Tapi karena memang sudah passion-nya, jalan itu dilewati saja oleh Kak Al.

 Jejak Kak Al ini menggelitikku. Menjadikan passion sebagai karir sangatlah butuh usaha. “Warning, realitanya tidak selancar itu ya,” kata Kak Al di sela diskusi yang membuat tangannya keriting karena banyak pertanyaan yang masuk dari kami. Hehe. Ketika ditanya mengenai gimana sih cara menentukan passion? Kak Al mengutip perkataan Steve Jobs. “Cirinya adalah ketika kamu berangkat ke kasur pada malam hari dan nggak sabar menunggu matahari pagi untuk melakukannya lagi.” Atau momen ketika kamu merasa bergairah dan bahagia. Sampai-sampai tanpa sadar kita telah bekerja.

“Choose a job you love. And you’ll never have to work a day in your life.” – Confucius.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s