Rumah Idaman

This one is my true imajisasi. Ingatan saya langsung terbang ke Candi Sukuh. Ya itulah rumah impian saya. Kecil, berhalaman luas, hijau, posisinya agak tinggi, dan yang terpenting, atapnya bisa saya naiki. Belakangnya hutan lagi. Masa kecil saya kurang bahagia karena belum bisa lihat bintang ketika malam datang, apalagi melihat gerhana. Hiks, akhirnya cukup nonton sinetronnya saja yang ceritanya pun saya lupa-lupa ingat.

793a5662-21e4-4fed-ad7d-0287a6076c2d
Gambaran kasar rumah idaman

Nah, gambar di atas ada visualisasinya. Jadi rumah ini berbentuk trapesium. Dengan sisi kiri (sesuai orientasi waktu kalian baca) sudutnya 90 derajat. Sisi kanannya nggak saya presisi secara pas, ilmu arsitektur saya tidak rinci. ((Justru karena itulah saya merasa salah jurusan)) Apalagi model dan bentuknya, tidak ada hitung-hitungan konstruksinya. Cuma atap sengaja tidak didag datar karena (kata teman saya) akan jauh lebih aman dan nyaman bagi iklim tropis untuk punya atap miring. Continue reading “Rumah Idaman”

Bertanya Berwacana

Kuliah siang ini adalah tentang discourse. Diskusi diskursus. Dipimpin Pak Atmir, dosen senior dari Pendidikan Pusat. Selain senior, sosok sepuhnya ini mengingatkanku pada (almarhum) Kakek. Sedikit bicara, sekalinya bicara, kena!

“Wacana sebagai sesuatu yang mengarahkan, membatasi, dan mengkonstruksi realitas ke dalam narasi yang dapat dipahami. Hal ini berkaitan dengan stuktur diskursif yakni bangunan besar, dan secara sistematis batas-batas itu berbentuk sebuah epistem. Melalui episteme sesuatu realitas dapat dipahami dan dimengerti dengan pernyataan dan pandangan tertentu, dan bukan yang lain.”

Secara keseluruhan pandangan bahwa realitas adalah konstruksi wacana bukan berarti mengingkari eksistensi dari sebuah realitas. Menurut Foucault bahwa apa yang signifikan dari sebuah realitas (objek) dan bagaimana menafsirkannya adalah pada strukstur diskursifnya.”

“Pak, bisa disebut juga tidak jika gosip itu adalah wacana, yang jika diulang bisa menjadi sebuah fakta?” Continue reading “Bertanya Berwacana”

Catatan Seminar “Implikasi Supersemar bagi Peradaban Indonesia”

Sudah lama rasanya saya tidak berkendara menuju Kota Surakarta sepagi kemarin, Rabu (23/3). Jalanan menuju kota kelahiran telah penuh dengan sesak kendaraan meski waktu masih menunjukkan pukul 06.15 WIB. Seperti terasing di kota tempat saya dibesarkan. Seingat saya jalan menuju ke SMA saya dulu (SMAN 4 Surakarta) tidak sepadat kemarin meskipun saya harus tiba pukul 06.15 WIB di kelas untuk mengikuti jam ke-0 (jam tambahan menjelang Ujian Nasional bagi siswa kelas XII). Jadi tersadar sendiri, untuk apa sebenarnya manusia terburu-buru pergi sedari pagi? Kalau saya sih mau ke seminar.

Sesi pertama yang baru dimulai sekitar pukul 09.20 WIB itu kurang bisa saya tangkap dengan jelas. Selain karena cuma membawa pena di saku tanpa adanya kertas, saya juga “harus” mencarikan kursi kosong untuk para peserta yang datangnya belakangan. Nyinom di Auditorium sebelum lulusan, haha. Jadi semacam waitress tanpa mondar-mondar bawa makanan dan daftar menu. Pengisi pertama adalah Pak Mahfudz M.D. dan Pak Subiakto. Keduanya membahas tentang Supersemar, dari sudut pandang hukum dan dari sudut pandang pelaku kebijakan yang duduk di tataran pemerintahan kala itu di masa Orde Baru.

Dua hal cukup penting yang saya tangkap adalah, pertama, berbedanya HAM PBB dengan HAM yang tertera dalam penjelasan Pancasila. Semacam ada miss ideologi yang sedang terjadi di masyarakat Indonesia saat ini. Ketika paham kiri seolah terlahir kembali, kesaktian Pancasila yang masih eksis hingga sekarang setelah peristiwa G30S/PKI seolah dipertanyakan kembali. Bagi saya yang masih awam masalah ketatanegaraan atau kenegarawanan, muncul tanya. Continue reading “Catatan Seminar “Implikasi Supersemar bagi Peradaban Indonesia””

Bayu : Hujan dalam Pendakian

Bertiga kali ini. Berjalan beriringan menuju puncak yang belum kita tahu seperti apa wujudnya. Aku belum pernah naik gunung, Bay.

“Kamu percaya saja denganku. Giri bersama kita di depan.” Maka, dengan sedikit gugup, kuturuti keduanya. Aku di tengah, Bayu di belakang, dan Giri yang memimpin jalan. Ini pengalaman pertamaku. Sedikit nekat, karena yang kupakai bukanlah sepatu gunung. Hanya sepatu trepes yang solnya mulai tipis karena polah tingkahku selama ini. Ceroboh, hanya itu yang terlintas di pikiranku. Ketika yang lain mendaki sore atau malam hari, kami mendaki siang hari.

Gunung itu terlihat biru ketika aku mulai bersiap mengepak bawaan di pos pertama.

“Ini pendakian pertama. Aku mau marah sama kamu karena sepatumu yang lucu itu. Kamu sengaja mau minta gendong ke aku?”

“Hah? Tidak!” Sergahku cepat-cepat. Tepat saat itu rona merah mulai turun di wajahku. Malu!

Nggak apa, Bay. Ini yang perdana. Gunung ini tidaklah tinggi, dia bisa selamat sampai atas dan akan tenang untuk turun lagi.” Giri yang tenang dan selalu saja mengagumkan. “Santai saja. Dan semoga kamu dapat bonusnya, Bay. Haha,” kata Giri sambil berpura-pura membawa gendongan. Sial, dia menggodaku. Dan tetap saja, mengagumkan.

Bayu hanya menyeringai, namun ada warna lain di wajahnya. Continue reading “Bayu : Hujan dalam Pendakian”

Kopi Rasa Gengsi

“Yuk main.”
“Ke mana?”
“Mm, mau ngopi.”

Kopi. Seolah sedang menjadi fenomena. Seperti wabah yang menjadi epidemi. Nggak gaul kalau nggak ngopi. Demi kata kekinian, nongkrong pun berpindah di kedai-kedai kopi. Tak mau jika disebut sekadar warkop atau warung kopi. Jadul, ndesani. Dari yang pahit-pahit manis, sekarang kopi punya satu tambahan cita rasa. Gengsi.

Kopi yang awalnya dari desa kini merambah kota. Di desa yang minum tua-tua, pecinan, pakai sarung, atau cuma koloran. Sandal pun cuma sandal jepit Swallow yang dibeli di warung kelontong tetangga. Di kota yang minum muda-muda, gaul, borjuis. Satu lagi kontradiksi antara desa dan kota. Kopi telah berpindah dari generasi tua ke generasi muda. Punya pakemnya sendiri. Celana cingkrang 3/4, tas selempang, rambut disemir klimis, dan betah nongkrong berlama-lama meski pesan cuma secangkir.

Sayangnya aku cuma penikmat kopi hitam seharga tiga ribu. Kopi kapal api yang bebas kunikmati kala pagi, siang, atau dini hari. Bisa diminum disambung rebahan, tanpa harus berdandan. Cukup begitu dan nikmat. Kopi asli tanpa citarasa gengsi.[]