Bayu : Hujan dalam Pendakian

Bertiga kali ini. Berjalan beriringan menuju puncak yang belum kita tahu seperti apa wujudnya. Aku belum pernah naik gunung, Bay.

“Kamu percaya saja denganku. Giri bersama kita di depan.” Maka, dengan sedikit gugup, kuturuti keduanya. Aku di tengah, Bayu di belakang, dan Giri yang memimpin jalan. Ini pengalaman pertamaku. Sedikit nekat, karena yang kupakai bukanlah sepatu gunung. Hanya sepatu trepes yang solnya mulai tipis karena polah tingkahku selama ini. Ceroboh, hanya itu yang terlintas di pikiranku. Ketika yang lain mendaki sore atau malam hari, kami mendaki siang hari.

Gunung itu terlihat biru ketika aku mulai bersiap mengepak bawaan di pos pertama.

“Ini pendakian pertama. Aku mau marah sama kamu karena sepatumu yang lucu itu. Kamu sengaja mau minta gendong ke aku?”

“Hah? Tidak!” Sergahku cepat-cepat. Tepat saat itu rona merah mulai turun di wajahku. Malu!

Nggak apa, Bay. Ini yang perdana. Gunung ini tidaklah tinggi, dia bisa selamat sampai atas dan akan tenang untuk turun lagi.” Giri yang tenang dan selalu saja mengagumkan. “Santai saja. Dan semoga kamu dapat bonusnya, Bay. Haha,” kata Giri sambil berpura-pura membawa gendongan. Sial, dia menggodaku. Dan tetap saja, mengagumkan.

Bayu hanya menyeringai, namun ada warna lain di wajahnya. Cemburukah itu? Angin dingin di kaki gunung menggelitik leherku. Tak lama, perjalanan naik Gunung Andong itu kami mulai. Tanyaku bermunculan, apa serius ini jalannya? Kenapa malah melewati tembok rumah warga? Ada berapa jalan, bagaimana kalau nanti kami tersasar? Kenapa tidak ada pendaki yang kami temui dalam perjalanan? Bagaimana kalau nanti kami di jalan ketemu setan gunung (yang katanya ada)? Dan selintas bagaimana-bagaimana lainnya dalam kepalaku.

“Kalau bukan karena kamu, kita berangkat agak sore, Sa,” tiba-tiba Bayu berucap sendirian dari arah pundakku. Kupikir, iya juga. Mana ada yang mendaki jam segini. Kecuali kami.

“Sudah, kalian jangan banyak bertengkar. Atau akan kutinggal di sini berdua. Setelah tanjakan kedua, kita istirahat,” Giri memberi instruksi.

Jalanan masih tetap sepi. Kadang kugoyakan kaki karena sepatu kemasukan kerikil-kerikil kecil. Geli, risih, dan agak sakit. Juga kubuka masker beberapa kali untuk mengurangi gerah di wajah. Setelah tanjakan pertama, aku mendengar serombongan orang berbicara. Dari bawah bisa kulihat beberapa orang sudah turun gunung. Beransel besar, bermatras, bersepatu gunung, berjaket tebal, dengan plastik-plastik sampah dibawa dalam genggaman. Khas pendaki gunung yang sudah ahli. Dan aku? Kupikir, ya sudahlah.

“Mari, Mbak… Ayo semangat, nggak tinggi, kok,” seorang mbak yang baru turun menyapaku dengan hangat. Sepatunya menghitam terkena debu, wajahnya mengilat oleh keringat tapi penuh dengan semangat. Selanjutnya ada “mari-mari, mbak” yang lain dari mas, bapak, atau mbak yang juga ikut turun gunung. Aku makin merasa lucu.

***

“Hhh, seberapa jauh lagi?” Wajahku memucat karena lelah. Kuminum air banyak-banyak untuk meredakannya. “Capeeeeeeek.”

“Jangan banyak-banyak, di atas nggak ada toilet!” Giri menegurku. “Kalau kita jalan santai begini, setengah jam lagi sampai.”

“Makan ini,” Bayu menyodorkan sepotong gula jawa. Aku mengernyitkan dahi, tapi manut saja. “Atur nafasmu. Jangan lepas masker kalau nggak terlalu perlu. Setelah ini jalannya udah berganti batu, debunya banyak.”

Benar saja, setengah jam perjalanan sisanya kami lewati dengan debu di kanan kiri. Ngeri. Di kanan kiriku jurang dan aku takut ketinggian. Tangan kiriku memegang tas Giri, tongkat kayu yang asal nemu di jalan di tangan kanan. Bayu di belakangku, berjalan dengan cukup hati-hati. Serasa kematian benar-benar berayun di jemari. Kalau tak hati-hati, angin yang cukup kencang bisa membuatmu goyang. Rasa ngeri merayuku untuk berhenti.

“Jangan berpikir aneh-aneh, jalanlah terus.” Bayu mengangkat bagian bawah tasku. Jadi lebih ringan. Dan aku tetap berjalan.

“Ini puncak dua, kita ada di puncak punggungnya. Punggung naga.” Giri sontak melentakkan tas ranselnya setibanya di puncak dua. Indah. Kabut tipis menutup puncak, tapi etalase pemandangan alam Salatiga yang hijau tetap indah terpampang. Kuselonjorkan kakiku, memuaskan dahagaku dengan minuman, dan menikmati indahnya aroma pegunungan.

“Mana mantelmu?” Giri segera mengajak kami merapat. “Menjelang senja bisa jadi turun hujan. Kita dirikan tenda di sini, semoga tidak ada angin kencang. Kumpulkan mantel kita untuk menutup tenda. Isi termos minum, khawatirnya tidak bisa menyalakan api malam nanti. Taruh senter di tempat yang mudah dijangkau. Amankan cadangan baju,” dia mengamati kami dengan mimik serius,”Dan jangan lupa berdoa.”

Aku dan Bayu berpandangan, tapi dia diam. Seolah memintaku untuk bergegas memenuhi perintah Giri. Gunung yang indah kalau dari dekat bisa jadi serius dan menyeramkan, seperti Giri.

Seperti dugaan, hujan cukup deras melengkapi pengalaman naik gunung pertamaku ini. Untung tidak angin.

“Kau tahu dulu di bawah gunung sana hujan masih hijau, lebat. Sekarang tidak. Bayangkan apa yang akan terjadi kalau hujan turun lebat begini…,” Bayu memulai ceritanya.

“Longsor, banjir. Angin,” Giri menimpali.

“Haha,” tak kusangka Bayu akan tertawa sedemikian kerasnya. “Apakah semengerikan hujan itu bagimu, Gir? Kau bisa kena pukul darinya,” Bayu menunjukku. Aku tersenyum.

“Hujan itu menenangkan. Dia romantis,” aku tersipu. Tak bisa lain, alasanku bagi Bayu adalah lucu. Laki-laki selalu berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran perempuan.

“Hujan adalah tentang kesabaran. Tentang kesetiaan….”

“Jatuhnya penuh ketaatan, meski setiap tetesnya yang menyetuh bangunan akan menyakitkan. Jatuhnya di atas batu akan sarat dengan penolakan. Jatuhnya pada bumi malah akan membuatnya hilang. Tapi tanpanya, tak akan ada lapuk pada kayu. Tak ada lubang pada batu. Tak ada padi yang tumbuh setelah kering kerontang kemarau. Aneh ya. Setegar itu, namun sering dihujat karena menghambat manusia yang selalu terburu-buru. Atas alasan pekerjaan. Atau membuat kencan gagal. Haha,” dia menatap kami satu per satu. Dari Giri, lalu aku. “Dan kau sempat berterima kasih pada hujan, kan, Sa?”

Aku terperanjat. Tak kusangka Bayu masih ingat. Saat kuucapkan terima kasih pada hujan hingga dapat kuluapkan segala tangis dan kesedihan. Kau, aku, Giri, atau Bayu selalu punya kisah tersendiri tentang hujan. Namun Bayu selalu berkata padaku, ada satu hal yang tidak aku tahu.
“Dan aku masih bersabar sepertinya jatuhnya hujan pada batu, lapuknya pada kayu, dalam sabarku meluluhkan hatimu. Kupinta kau pada-Nya lewat doa.” []

__________________________________________

Serial Bayu kembali berlanjut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s