KABINET KERJA DAN LOWONGAN KERJA CALON SARJANA

Kerja, kerja, kerja. Satu kata yang diulang tiga kali dan menjadi slogan kabinet pemerintahan presiden asli Solo, Joko Widodo. Tak jauh dari itu, kabinetnya dinamai dengan hal serupa. Kabinet Kerja. Barangkali karena itulah, Pak Presiden sudi pulang ke Surakarta untuk menengok proyek pembangunan bendungan baru di Desa Gempolan, Kecamatan Kerjo, Karanganyar (12/3) sambil pulang menengok cucu pertamanya, Jan Ethes Srinarendra.

Bagi mahasiswa tingkat akhir seperti saya, kata kerja memiliki sensitifitas sendiri menjelang dan pascawisuda, selain pertanyaan,”Kapan nikah?” Saya bisa tidak lulus ujian jika soalnya demikian.

Sadar atau tidak, orientasi pendidikan kita telah dibentuk oleh wacana setelah lulus adalah kerja. Dampaknya bukan cuma galau yang menggelayuti hati, akhirnya setiap prodi mengeluarkan orientasi kerja ketika menjadi lulusan prodi A, B, C, dan seterusnya dalam profilnya. Supaya menarik minat pendaftar dari bahaya tidak laku di pasar.

Apalagi mengingat sekarang perguruan tinggi adalah PT BH (Perguruan Tinggi Berbadan Hukum) sehingga biaya pendidikan semakin tinggi. Pendidikan jadi industri baru di negeri ini. Bagi orang tua, prospek kerja lulusan menjadi penting. Toh sedari kecil puluhan bahkan ratusan juta sudah dikeluarkan, jadi anaknya harus memperoleh jabatan kerja yang prestisius sebagai pelampias dendam.

Balada ala Kabul dan Darsa juga turut melanda saya. Habis lulus mau kerja di mana, ya? Apa saya minta sama Presiden Jokowi saja? Mengingat sekarang ini semua urusan seolah dibebanberatkan pada kakek Jan Ethes itu. Jadi kalau saya minta kerja pada beliau, masih tersisa ada dua slogan kata kerja dan satu lagi pada nama kabinetnya. Namun jumlah calon sarjana plus pengangguran di luar sana melebihi jumlah “kerja” dalam kabinet. Saya bisa dianggap berbahaya bagi negara kalau permintaan “kerja” itu dituruti. Nama kabinet dan slogan pemerintahan bisa menjadi Kabinet Minus Minus Minus Minus Minus Kerja. Continue reading “KABINET KERJA DAN LOWONGAN KERJA CALON SARJANA”

Berterima Kasih Pada Zona Tidak Nyaman

No growth in comfort zone

Zona nyaman terus menerus disebut jika kita sedang membicarakan cita-cita dan masa depan. Setiap manusia mempunyai kekhawatirannya sendiri mengenai hari esok atau bahkan beberapa jam ke depan yang belum pasti akan kita lewati.

Beberapa hari lalu saya terlibat pembicaraan dengan salah seorang teman. “Kamu udah terbiasa keluar zona nyaman sih, Sa.” Celetukannya membuat saya berpikir, zona nyaman yang dimaksudkan teman saya zona nyaman semacam apa sih? Apakah berada di Fakultas Teknik dan Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota telah membuat saya berada di zona tidak nyaman saya? Apakah dengan pernah Kerja Praktik di salah satu konsultan perencana di Semarang –yang notabenenya tidak ada bau-bau Islamnya- adalah zona tidak nyaman saya? Apakah terjun di kampung yang secara tradisi masih kental dan masih sudah untuk diinfiltrasi religiusitasnya, juga disebut zona tidak nyaman? Atau mungkin KKN dengan teman yang jauh lebih ‘senior’ dan gaul dibanding saya, itu tidak nyaman? Continue reading “Berterima Kasih Pada Zona Tidak Nyaman”

Tentang Membaca Buku

Jangan lebih dari seminggu, keburu bosan
Dan pintar-pintarlah memahami, sedang berada di fase apa kamu sekarang. Bosan dengan esai, berpindahlah pada prosa
Serta jangan lupa di setiap agenda belanja, ingat buku-bukumu yang masih belum terbaca

Kamu juga harus tahu
Di mana ilmu tentang agama bersumber
Juga ilmu-ilmu pengetahuan berserak
Biar tak tersesat
Hingga salah pilih buku

Sebagai orang beragama, kamu juga perlu ilmu dunia
Biar kalau ditanya tidak cuma bilang,”Tidak tahu”
Atau bahkan,”Itu tidak ada urusannya dengan agamaku”
Bukan menjadi seorang alim, malah menjurus ke sekuler
Memisahkan persoalan bumi dengan langit

Tetaplah membaca!