Berterima Kasih Pada Zona Tidak Nyaman

No growth in comfort zone

Zona nyaman terus menerus disebut jika kita sedang membicarakan cita-cita dan masa depan. Setiap manusia mempunyai kekhawatirannya sendiri mengenai hari esok atau bahkan beberapa jam ke depan yang belum pasti akan kita lewati.

Beberapa hari lalu saya terlibat pembicaraan dengan salah seorang teman. “Kamu udah terbiasa keluar zona nyaman sih, Sa.” Celetukannya membuat saya berpikir, zona nyaman yang dimaksudkan teman saya zona nyaman semacam apa sih? Apakah berada di Fakultas Teknik dan Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota telah membuat saya berada di zona tidak nyaman saya? Apakah dengan pernah Kerja Praktik di salah satu konsultan perencana di Semarang –yang notabenenya tidak ada bau-bau Islamnya- adalah zona tidak nyaman saya? Apakah terjun di kampung yang secara tradisi masih kental dan masih sudah untuk diinfiltrasi religiusitasnya, juga disebut zona tidak nyaman? Atau mungkin KKN dengan teman yang jauh lebih ‘senior’ dan gaul dibanding saya, itu tidak nyaman?

Bagi saya, tidak sepenuhnya. Karena di FT dan PWK sekalipun saya masih ada kok yang sholatnya tepat waktu, meski tidak sedikit juga yang kemudian menempatkan sholat sebagai kelas mata kuliah pilihan. “Enggak sholat dulu ah, tadi udah. Sekarang mau absen dulu,” ada teman saya yang bilang seperti itu. Ada. Tapi masih cukup banyak kok yang sekadar bertanya tentang agama, masih senang mendengarkan bacaan Qur’an saya (kalau pas ada di kanan atau kiri tempat duduk saya). Walaupun itu kadang-kadang.

KP di Semarang pun ada dua pembimbing di kantor yang terhitung akhi-akhi, sangat “ikhwan” malah. Lebih “ikhwan” daripada para “ikhwan” kampus yang saya kenal. Datangnya tepat waktu, sholat selalu tepat waktu dan selalu ngajak mas-mas di kantor untuk sholat di masjid, jenggotnya lebih panjang daripada jenggot “ikhwan” di kampus saya, masnya juga dengan bangganya pakai celana cingkrang tidak peduli sedang di kantor maupun sedang rapat dan terjun ke lapangan, dan setiap habis sholat disempatkan baca Qur’an saku mininya. Ada juga teman-teman sekantor yang tanpa dikejar-kejar buat sholat pun sudah sholat dengan sendirinya. Ada juga yang “ketahuan” baca Al-Qur’an dan langsung membuat histeris teman-teman perempuan saya. (Note : memang banyak yang bilang mereka ganteng, haha).

Memang, dua orang teman KKN saya adalah non Muslim dan saya satu-satunya perempuan berjilbab –fyi, cuma ada empat perempuan. Ya saya sok pede saja kalau sudah waktunya sholat ya saya mlipir buat sholat. Kalau obrolan lagi tidak produktif ya saya baca buku. Saya perhatikan juga, si anu 1 lumayan rajin sholatnya, si anu 2 kadang-kadang aja, si anu 3 malah nggak pernah keliatan sholat. Ya gitu, wherever you’re, you’re absolutely a Muslim. Asal punya prinsip dan nggak  keliatan mencla-mencle mereka akan selalu menghargai pilihan kita.

Jujur saja tantangan terbesar justru datang dari tempat paling dekat. Rumah dan sekitarnya. Betapa strategisnya posisi rumah saya yang berada di pinggir jalan raya, saya jadi sangat susah berinteraksi dengan para tetangga yang terletak 10-1000 meter dari rumah saya. Secara kultur mereka juga berbeda dengan desa di depan saya. Tapi dengan berani muncul dan tampil, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan, they will welcome about ‘we are’ around them. Alhamdulillah, beberapa tetangga saya pun ada yang berjilbab besar dan bercadar.

Jadi, bagi kami yang terbiasa nyaman di dalam masjid atau berada dalam lingkungan homogen, keluar dari masjid, baik itu di kelas, di tempat magang, atau di masyarakat adalah perjalanan menuju zona tidak zaman. Akan ada yang nyinyir dengan penampilan kami atau sedikit tidak terima ketika kami tidak bersalaman, tidak makan daging anjing atau babi (padahal banyak “Muslim” di luar sana yang tidak peduli akan halal haramnya), atau selalu memakai rok.

Berprinsiplah dengan terus menyesuaikan kondisi kita sesuai kondisi lingkungan. Membaur tanpa melebur. Seperti kata Ralph Waldo Emerson yang saya kutip dari buku My Passion My Carrier,”To be yourself in a world that is constantly trying to make you something else is the great accomplishment.”

Saya berterima kasih dengan segala keadaan yang telah membentuk saya. There’ll be some fear, but do not be afraid of yourself. Just be brave and face the world bravely. He is always with us. You can choose wanna be a chicken or an eagle. Because chicken stays, eagle flies. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s