Surat Yang Tak Sampai

“Kamu pasti bisa belajar banyak. Banyak belajar. Belajar banyak.”

Perempuan di sudut ruang studio manggut-manggut. Dahinya sedikit berkerut, matanya menatap tajam layar komputer di depannya. Tangannya mulai bergerak, matanya mencari dan akhirnya tertumbuk di tumpukan kertas dan segenggam pena dalam gelas kaca. Jarinya mulai menari, otaknya mulai bekerja menyusun kata.

Bu, hari ini aku belajar banyak. Belum jua lima menit dari selesainya film itu…
Bu, kemarin ada seseorang berkata kepadaku di WhatsApp. Dia bilang, selamat mencintai dengan cara masing-masing. Aneh, kenapa merasa sesakit ini, Bu? Aku hanya merasa peduli, lalu seperti biasa, aku mulai cerewet dan memintanya selesai serbacepat. Lalu, seperti biasa pula, aku kecewa, Bu… Boleh aku meminjam tanganmu untuk menepuk sebelah cintaku? Tenang rasanya, menyadari bahwa cintamu sama sekali tiada nafsu.”

Ia lipat. Lalu dilempar kertas itu begitu saja ke dalam tasnya. Sama seperti hari-hari sebelumnya, ketika ia menulis surat. Diremas, remuk, dilempar ke dalam tas, dan akan berakhir pada tabung kaca besar dalam kamarnya. Surat yang tak pernah sampai. Beserta ucapan maaf, terima kasih, cinta, dan berjuta rasa lain yang tak pernah sampai pada yang ditujunya.