Ramadhan, Bulan Sekolah Pra-Nikah

Hayey!

Isu menikah dan isu Ramadhan kok masih sendiri terdengar makin nyaring di #RamadhanKaliIni –meniru tagar yang sedang hits di kalangan anak-anak LDK bahkan sampai dibawa ke iklan Indosat Ooredo yang baru. Apalagi di kalangan mahasiswa semester tua seperti saya. Ditambah sindrom usia 20++ yang kadang jenuh pada deadline dan rutinitas harian, hingga kadang berpikir menikah adalah solusi untuk lari dari masalah sehari-hari. Kami memang naif, Pak, Bu, sebab belum menikah dan belum merasai betapa oh betapanya para pasangan muda yang telah menikah.

Lebih-lebih untuk pemegang prinsip pantang pacaran sebelum dihalalkan, saya juga. Sampai sekarang saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menikah itu. Saya masih nyaman-nyaman saja hidup bersama kedua orang tercinta, dengan adik yang lebih mirip kembaran saya, dan masih asik masyuk main dan nggodain keponakan dengan daya anak kecil. Kadang berantem terus yaudah selesai begitu saja. Atau kadang ndremimil tentang kehidupan sehari-hari. Mulai dari artis, bumbu masakan, cara buka WhatsApp grup keluarga besar, ngecek tagihan listrik bulanan, atau celotehan tentang kabar baru tetangga bersama ibu. Sejak usia saya menginjak 20++, obrolan dengan ibu semakin meluas. Dan semakin cair.

Membayangkan menikah, sementara saya masih harus sering diteriaki untuk mengerjakan pekerjaan rumah, seperti nyapu, ngepel, isah-isah, jemur pakaian, meletakkan barang pada tempat semestinya, atau tidak terus-menerus menikmati hobi tiduran saya, membuat saya malu. Duh, meh tak apakne sukmben bojoku?  Continue reading “Ramadhan, Bulan Sekolah Pra-Nikah”

Advertisements