Sambal Matah

“‘Pram bilang hidup itu sejatinya sederhana. Yang luar biasa hanya tafsiran-tafsirannya.’ Jangan gusar berkepanjangan, Din, kan kegagalan itu sukses yang tertunda.” Mengingat nasihat Bayu, pikiranku sontak membayangkan kartun-kartun motivasi yang bertebaran di lini masa media sosial. Cuma tinggal mengayunkan cangkulnya sekali, sudah ada bongkahan berlian di depannya –jika si bapak gendut berdasi itu tidak menyerah.

“Em, gitu,” aku manggut-manggut. “Seperti kamu to, Bay…. Cuma tinggal ketuk pintu sekali lagi di beranda rumahnya,  lalu bapaknya yang akan membukakan pintu, dan kamu tak perlu keduluan siapapun –jika saja kamu tidak mundur dan hengkang begitu saja. Mlipir dari pintu rumahnya. Belakangan hasilnya kamu cuma bisa datang ke pelaminan sebagai undangan.”

“Mengatur perasaan bukan perkara sederhana, Dinsa….”

“Kamu cuma takut ditolak, Bay.”

“Ya kamu sih perempuan.” Continue reading “Sambal Matah”

Advertisements