Sambal Matah

“‘Pram bilang hidup itu sejatinya sederhana. Yang luar biasa hanya tafsiran-tafsirannya.’ Jangan gusar berkepanjangan, Din, kan kegagalan itu sukses yang tertunda.” Mengingat nasihat Bayu, pikiranku sontak membayangkan kartun-kartun motivasi yang bertebaran di lini masa media sosial. Cuma tinggal mengayunkan cangkulnya sekali, sudah ada bongkahan berlian di depannya –jika si bapak gendut berdasi itu tidak menyerah.

“Em, gitu,” aku manggut-manggut. “Seperti kamu to, Bay…. Cuma tinggal ketuk pintu sekali lagi di beranda rumahnya,  lalu bapaknya yang akan membukakan pintu, dan kamu tak perlu keduluan siapapun –jika saja kamu tidak mundur dan hengkang begitu saja. Mlipir dari pintu rumahnya. Belakangan hasilnya kamu cuma bisa datang ke pelaminan sebagai undangan.”

“Mengatur perasaan bukan perkara sederhana, Dinsa….”

“Kamu cuma takut ditolak, Bay.”

“Ya kamu sih perempuan.”

Aku nyengir dan ber-hehe pelan. “Iya sih…. Tapi, Bay, kalau kamu nggak trial and error kamu kan jadi nggak paham gimana rasanya menaklukkan rasa-takut-tertolakmu itu. Misal gini, Bay, aku selalu frustasi kalau deadline udah di depan mata, tapi aku belum kelar juga ngerjain revisian.” Dan sungguh hatiku beruhuk di kedalaman sana mengingat revisian skripsi yang tak membaik kabarnya.

“Atau pas lagi masak nih, Bay, aku ragu-ragu sama rasanya, sama prosesnya. Seringnya rasanya jadi gaje pas aku masak dalam kondisi ragu gitu.” Bayu memberengut mencerna perkataan Dinsa, tak jelas paham ihwal masak-memasak dan citarasa yang dihasilkannya.

“Sambal matahmu enak kok.” Dinsa nyengir berterima kasih. Sepiring sambal matah di depannya masih wangi dan berhasil menyita perhatiannya seharian ini.

Yowes, Bay. Seenggaknya kamu belajar. Siapa cepat dia dapat. Memang usahanya musti begitu.”

“Hm, kadang kita berpikir usaha kita udah begitu luar biasanya. Sampai capeknya nggak ketulungan, jadwal tidur berantakan, makan jadi enggak doyan, motor dipakai kemana-mana tapi jadi nggak keurus, duit juga terkuras, dan hati jadi sebegini lelah menghadapi nasib yang nggak segera baik… Tapi pas lagi diobrolin sama orang lain, yang udah ngelewati step kita, atau juga lagi nglakuin usaha serupa, eh ternyata effort-nya malah jauuh melebihi usaha kita. Ya, aslinya memang usaha itu yang musti kita lakukan. Seperti yang orang lain juga lakukan. Kalau nggak, ya kita nggak sampai tujuan.”

Daripada buat Bayu, ucapan barusan lebih tepat ditujukan padaku. Yang merasa usahaku sudah dikerjakan sedemikian hebat dan dahsyat, tapi hasil segini-gini aja. Padahal dibanding yang semestinya dilakukan, belum kulakukan secara maksimal.

“Jadi, Bay, kalau kamu mau dia yang jadi pasanganmu di pelaminan, ya datangi. Lamar. Sewaktu Mas Fajar mau lamaran aku kagum sama dia deh. Wah, ternyata kakakku berani. Haha. Padahal aku susah bayangin dia nikah.”

“Andai ya, ngejar jodoh itu kayak ngejar deadline tugas. Pasti lulusnya aja, haha. Yah, tapi mana bisa disamain kayak gitu.”

“Minta deadline aja sama orang tuamu kali, Bay,” heran juga aku dengan celetukannya, “tapi masa kamu tega jadiin dia deadline-mu.”

“Nggak papa. Deadline kan buat dikejar biar cepet kelar.”

Di situ obrolan kami berlanjut tentang apa saja. Teman, revisian skripsiku, pekerjaannya, si dia-nya yang keduluan dilamar orang, masa depan, dan sambal matahku yang agak keasinan.

***

Cerita ini hanyalah cerita fiksi yang muncul begitu saja. Padahal saya sedang memikirkan sambal matah saya hari ini, hehe. Karena sambal matah mengingatkan saya pada bumbu lokal orang Indonesia berupa bawang merah, cabai (bisa rawit atau campur sesuai selera), perasan air jeruk, garam dan gula pasir secukupnya yang disiram dengan sedikit minyak goreng panas dan tralaaa rasanya memang jadi kayak ngemil bumbu tumis atau oseng.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s