Sambal Matah

“‘Pram bilang hidup itu sejatinya sederhana. Yang luar biasa hanya tafsiran-tafsirannya.’ Jangan gusar berkepanjangan, Din, kan kegagalan itu sukses yang tertunda.” Mengingat nasihat Bayu, pikiranku sontak membayangkan kartun-kartun motivasi yang bertebaran di lini masa media sosial. Cuma tinggal mengayunkan cangkulnya sekali, sudah ada bongkahan berlian di depannya –jika si bapak gendut berdasi itu tidak menyerah.

“Em, gitu,” aku manggut-manggut. “Seperti kamu to, Bay…. Cuma tinggal ketuk pintu sekali lagi di beranda rumahnya,  lalu bapaknya yang akan membukakan pintu, dan kamu tak perlu keduluan siapapun –jika saja kamu tidak mundur dan hengkang begitu saja. Mlipir dari pintu rumahnya. Belakangan hasilnya kamu cuma bisa datang ke pelaminan sebagai undangan.”

“Mengatur perasaan bukan perkara sederhana, Dinsa….”

“Kamu cuma takut ditolak, Bay.”

“Ya kamu sih perempuan.” Continue reading “Sambal Matah”

Advertisements

Bertanya Berwacana

Kuliah siang ini adalah tentang discourse. Diskusi diskursus. Dipimpin Pak Atmir, dosen senior dari Pendidikan Pusat. Selain senior, sosok sepuhnya ini mengingatkanku pada (almarhum) Kakek. Sedikit bicara, sekalinya bicara, kena!

“Wacana sebagai sesuatu yang mengarahkan, membatasi, dan mengkonstruksi realitas ke dalam narasi yang dapat dipahami. Hal ini berkaitan dengan stuktur diskursif yakni bangunan besar, dan secara sistematis batas-batas itu berbentuk sebuah epistem. Melalui episteme sesuatu realitas dapat dipahami dan dimengerti dengan pernyataan dan pandangan tertentu, dan bukan yang lain.”

Secara keseluruhan pandangan bahwa realitas adalah konstruksi wacana bukan berarti mengingkari eksistensi dari sebuah realitas. Menurut Foucault bahwa apa yang signifikan dari sebuah realitas (objek) dan bagaimana menafsirkannya adalah pada strukstur diskursifnya.”

“Pak, bisa disebut juga tidak jika gosip itu adalah wacana, yang jika diulang bisa menjadi sebuah fakta?” Continue reading “Bertanya Berwacana”

Bayu : Hujan dalam Pendakian

Bertiga kali ini. Berjalan beriringan menuju puncak yang belum kita tahu seperti apa wujudnya. Aku belum pernah naik gunung, Bay.

“Kamu percaya saja denganku. Giri bersama kita di depan.” Maka, dengan sedikit gugup, kuturuti keduanya. Aku di tengah, Bayu di belakang, dan Giri yang memimpin jalan. Ini pengalaman pertamaku. Sedikit nekat, karena yang kupakai bukanlah sepatu gunung. Hanya sepatu trepes yang solnya mulai tipis karena polah tingkahku selama ini. Ceroboh, hanya itu yang terlintas di pikiranku. Ketika yang lain mendaki sore atau malam hari, kami mendaki siang hari.

Gunung itu terlihat biru ketika aku mulai bersiap mengepak bawaan di pos pertama.

“Ini pendakian pertama. Aku mau marah sama kamu karena sepatumu yang lucu itu. Kamu sengaja mau minta gendong ke aku?”

“Hah? Tidak!” Sergahku cepat-cepat. Tepat saat itu rona merah mulai turun di wajahku. Malu!

Nggak apa, Bay. Ini yang perdana. Gunung ini tidaklah tinggi, dia bisa selamat sampai atas dan akan tenang untuk turun lagi.” Giri yang tenang dan selalu saja mengagumkan. “Santai saja. Dan semoga kamu dapat bonusnya, Bay. Haha,” kata Giri sambil berpura-pura membawa gendongan. Sial, dia menggodaku. Dan tetap saja, mengagumkan.

Bayu hanya menyeringai, namun ada warna lain di wajahnya. Continue reading “Bayu : Hujan dalam Pendakian”