Catatan Seminar “Implikasi Supersemar bagi Peradaban Indonesia”

Sudah lama rasanya saya tidak berkendara menuju Kota Surakarta sepagi kemarin, Rabu (23/3). Jalanan menuju kota kelahiran telah penuh dengan sesak kendaraan meski waktu masih menunjukkan pukul 06.15 WIB. Seperti terasing di kota tempat saya dibesarkan. Seingat saya jalan menuju ke SMA saya dulu (SMAN 4 Surakarta) tidak sepadat kemarin meskipun saya harus tiba pukul 06.15 WIB di kelas untuk mengikuti jam ke-0 (jam tambahan menjelang Ujian Nasional bagi siswa kelas XII). Jadi tersadar sendiri, untuk apa sebenarnya manusia terburu-buru pergi sedari pagi? Kalau saya sih mau ke seminar.

Sesi pertama yang baru dimulai sekitar pukul 09.20 WIB itu kurang bisa saya tangkap dengan jelas. Selain karena cuma membawa pena di saku tanpa adanya kertas, saya juga “harus” mencarikan kursi kosong untuk para peserta yang datangnya belakangan. Nyinom di Auditorium sebelum lulusan, haha. Jadi semacam waitress tanpa mondar-mondar bawa makanan dan daftar menu. Pengisi pertama adalah Pak Mahfudz M.D. dan Pak Subiakto. Keduanya membahas tentang Supersemar, dari sudut pandang hukum dan dari sudut pandang pelaku kebijakan yang duduk di tataran pemerintahan kala itu di masa Orde Baru.

Dua hal cukup penting yang saya tangkap adalah, pertama, berbedanya HAM PBB dengan HAM yang tertera dalam penjelasan Pancasila. Semacam ada miss ideologi yang sedang terjadi di masyarakat Indonesia saat ini. Ketika paham kiri seolah terlahir kembali, kesaktian Pancasila yang masih eksis hingga sekarang setelah peristiwa G30S/PKI seolah dipertanyakan kembali. Bagi saya yang masih awam masalah ketatanegaraan atau kenegarawanan, muncul tanya. Continue reading “Catatan Seminar “Implikasi Supersemar bagi Peradaban Indonesia””

Advertisements