Menjaga Mata

Ibu, anakmu mulai nakal
Ia tidak lagi serius menjaga matanya. Baca sambil tiduran, menatap laptop berjam-jam, menonton TV terlalu dekat, meski jaraknya lebih dari tiga-puluh-senti seperti yang dianjurkan kala dia masih kanak-kanak.

Setiap kacamatanya dilepas, ia rasa minusnya bertambah saja. Apalagi silindernya, membuat huruf yang terbaca menjadi ganda. Semakin lama ia menatap layar, pandangannya akan perlahan membuyar.

Yang seperti itu membuatnya perlahan jadi ‘anti-sosial’. Bagaimana tidak? Dia tidak bisa menatap dengan jelas muka orang-orang di hadapannya yang berjarak lebih dari 10 meter di depan. Hanya dari bahasa tubuh yang ia kenal saja, ia akan tahu siapa yang ada di hadapannya. Bu, bukankah itu berbahaya kalau ternyata justru lelaki sebayanya (atau tidak sebaya) yang ada di hadapannya?

Justru, Bu, anakmu merasa aman karena dia jadi tidak tahu siapa saja lelaki di sekelilingnya. Dia tak hapal bahasa tubuh mereka. Dia cuma tahu mereka lelaki dari celana dan telanjang telapak kakinya. Kecuali pada satu dua yang kadang juga dihiraukannya dengan terlambat.

Tapi Ibu, anakmu belum terlalu nakal. Ia masih bisa membedakan warna putih, juga merah. Ini bulan Agustus bukan? ‘Kan tidak lucu andai mata yang mulai tak sehat itu tak bisa lagi bisa membedakan warna bendera negara kita. Salah-salah, bisa keliru ambil bendera. Juga kuning dan hijau, ia bisa membedakan. Sehingga ia tak sembarang menerobos lampu lalu lintas. Bisa-bisa matanya bisa membawa ia ke penjara.

Oh ya, Ibu…. Mata yang tak ia jaga membuatnya semakin susah membaca tanpa kacamata. Dilepas sedikit saja, maka tulisan di dekatnya harus semakin dibaca lamat-lamat. Jarak bacanya jadi makin dekat. Apakah kau tidak takut, Bu? Jika mata anakmu itu menyulitkan ia membaca anjuran-anjuran agama? Supaya matanya yang tak sehat itu tak serta merta membutakan mata batinnya pula. Pada saat sehat saja, tidak dibaca. Apalagi saat begitu, Bu?

Ah, Ibu…. Adakah kau tahu? Mata anakmu tak lagi terjaga pula dari hal-hal yang tak semestinya. Bisa jadi itu pula yang menjadikan matanya semakin kabur itu karena maksiat-maksiat yang ditontonnya. Apalagi maksiat yang nikmat-nikmat. Dari gelimang dosa di depannya yang dibiarkan saja. Seperti istri Nabi Luth dulu yang diazab bukan karena turut berbuat, namun karena menonton saja maksiat di hadapan matanya?

Oh Ibu, penjara dan neraka karena mata yang tak terjaga.

Advertisements

Ramadhan, Bulan Sekolah Pra-Nikah

Hayey!

Isu menikah dan isu Ramadhan kok masih sendiri terdengar makin nyaring di #RamadhanKaliIni –meniru tagar yang sedang hits di kalangan anak-anak LDK bahkan sampai dibawa ke iklan Indosat Ooredo yang baru. Apalagi di kalangan mahasiswa semester tua seperti saya. Ditambah sindrom usia 20++ yang kadang jenuh pada deadline dan rutinitas harian, hingga kadang berpikir menikah adalah solusi untuk lari dari masalah sehari-hari. Kami memang naif, Pak, Bu, sebab belum menikah dan belum merasai betapa oh betapanya para pasangan muda yang telah menikah.

Lebih-lebih untuk pemegang prinsip pantang pacaran sebelum dihalalkan, saya juga. Sampai sekarang saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menikah itu. Saya masih nyaman-nyaman saja hidup bersama kedua orang tercinta, dengan adik yang lebih mirip kembaran saya, dan masih asik masyuk main dan nggodain keponakan dengan daya anak kecil. Kadang berantem terus yaudah selesai begitu saja. Atau kadang ndremimil tentang kehidupan sehari-hari. Mulai dari artis, bumbu masakan, cara buka WhatsApp grup keluarga besar, ngecek tagihan listrik bulanan, atau celotehan tentang kabar baru tetangga bersama ibu. Sejak usia saya menginjak 20++, obrolan dengan ibu semakin meluas. Dan semakin cair.

Membayangkan menikah, sementara saya masih harus sering diteriaki untuk mengerjakan pekerjaan rumah, seperti nyapu, ngepel, isah-isah, jemur pakaian, meletakkan barang pada tempat semestinya, atau tidak terus-menerus menikmati hobi tiduran saya, membuat saya malu. Duh, meh tak apakne sukmben bojoku?  Continue reading “Ramadhan, Bulan Sekolah Pra-Nikah”

Rumah Idaman

This one is my true imajisasi. Ingatan saya langsung terbang ke Candi Sukuh. Ya itulah rumah impian saya. Kecil, berhalaman luas, hijau, posisinya agak tinggi, dan yang terpenting, atapnya bisa saya naiki. Belakangnya hutan lagi. Masa kecil saya kurang bahagia karena belum bisa lihat bintang ketika malam datang, apalagi melihat gerhana. Hiks, akhirnya cukup nonton sinetronnya saja yang ceritanya pun saya lupa-lupa ingat.

793a5662-21e4-4fed-ad7d-0287a6076c2d
Gambaran kasar rumah idaman

Nah, gambar di atas ada visualisasinya. Jadi rumah ini berbentuk trapesium. Dengan sisi kiri (sesuai orientasi waktu kalian baca) sudutnya 90 derajat. Sisi kanannya nggak saya presisi secara pas, ilmu arsitektur saya tidak rinci. ((Justru karena itulah saya merasa salah jurusan)) Apalagi model dan bentuknya, tidak ada hitung-hitungan konstruksinya. Cuma atap sengaja tidak didag datar karena (kata teman saya) akan jauh lebih aman dan nyaman bagi iklim tropis untuk punya atap miring. Continue reading “Rumah Idaman”