Utusan Maut

“Aku adalah sesuatu yang tak bisa dihalangi (datangnya), tidak takut pada raja-raja manapun, tidak bisa ditahan dengan benteng setinggi apapun, dan tidak bisa disuap dengan harta seberapapun.”

Pada saat itu Nabi Daud a.s. mengerti bahwa yang mendatanginya adalah Izrail, sang malaikat maut.

Ada sebuah syair Arab mengatakan bahwa orang yang jelek atau rendah adalah orang yang tidak mau menerima peringatan (naadhir) yang datang kepadanya. Lalu, ia berpura-pura tidak tahu atas peringatan itu.

Aku ingat betul sekitar dua bulan lalu, setelah Mbah Dah –ibu dari budhe- meninggal, aku dan ibu mendaftar ulang besan dari keluarga bapak yang masih utuh. Ada satu dan memang sudah sepuh yang terkadang sakit karena usia. Pada saat itu, nyaris kami sekeluarga terkena flu yang cukup parah apalagi didukung cuaca ekstrem Indonesia belakangan. Seminggu berselang, berita duka kembali datang dari sanak keluarga. Besan dari pihak bapak yang –sebelumnya- utuh itu telah berpulang pula. Besan di Solo juga tiada tak lama kemudian. Laa haula walaa quwwata illa billah.

Masih dalam jarak dua bulan ini ayah seorang kawan juga berpulang tanpa tanda-tanda sakit atau usia renta. Disusul tetangga samping rumah karena kanker yang diderita, lalu anak teman masa kecil karena pneumonia. Hatiku mencelos, setengah tak percaya, teringat keponakan yang berusia selisih satu bulan. Berita bertubi ini mau tak mau menggetarkan hati. Saudara-saudara yang kukenal, pedagang masa kecil yang sering bertegur sapa, anak kecil yang kemarin masih terlihat tawanya telah tiada. Kapankah giliranku tiba?

Kesibukan dunia rupanya telah membuatku lalai terhadap utusan malaikat maut. Datangnya sakit, memutihnya rambut, merabunnya penglihatan, dan berkurangnya pendengaran. Dan yang belakangan sangat sering kudengar, yaitu berita kematian keluarga, sanak-saudara, hingga tetangga dan teman. Padahal berita-berita tersebut tak lain adalah pengingat bahwa giliranku tak lama lagi akan tiba. Aku diminta bersiap atas maut yang datang tiba-tiba, setiap saat setiap waktu. Dan betapa akhir-akhir ini aku mengabaikan akhiratku.

Imam Malik pernah bercerita tentang para ulama’ di negerinya, dimana mereka ikut terlibat dengan urusan dunia, berdagang, dan membaur dengan manusia. Sampai pada usia 40 tahun, mereka berpisah dari manusia dan memperbanyak tinggal di rumah, menyiapkan bekal menuju kematian dan kehidupan abadi setelahnya.

Pada saat-saat seperti ini perlu dipertanyakan lagi seberapa besar iman tersimpan dalam hati. Iman tentang hari akhir seharusnya menyadarkan diri bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban, yang jika disadari benar-benar akan membuat seseorang akan senantiasa beramal untuk akhiratnya. Pikirannya akan jernih, sebab baik dan buruk bisa ia bedakan. Pikirannya sadar bahwa sewaktu-waktu maut akan datang. Saat ia berbuat baik, ia berharap mati dalam kebaikan. Saat hendak bertindak buruk, ia takut –sangat takut- mati dalam maksiat dan seburuk-buruk keadaan. Begitulah mawas diri seorang yang mematri iman tentang hari akhir. Sehingga memperhatikan benar adab dirinya, memperhitungkan betul amalan yang tidak mendatangkan manfaat bagi akhiratnya.

Advertisements