Berterima Kasih Pada Zona Tidak Nyaman

No growth in comfort zone

Zona nyaman terus menerus disebut jika kita sedang membicarakan cita-cita dan masa depan. Setiap manusia mempunyai kekhawatirannya sendiri mengenai hari esok atau bahkan beberapa jam ke depan yang belum pasti akan kita lewati.

Beberapa hari lalu saya terlibat pembicaraan dengan salah seorang teman. “Kamu udah terbiasa keluar zona nyaman sih, Sa.” Celetukannya membuat saya berpikir, zona nyaman yang dimaksudkan teman saya zona nyaman semacam apa sih? Apakah berada di Fakultas Teknik dan Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota telah membuat saya berada di zona tidak nyaman saya? Apakah dengan pernah Kerja Praktik di salah satu konsultan perencana di Semarang –yang notabenenya tidak ada bau-bau Islamnya- adalah zona tidak nyaman saya? Apakah terjun di kampung yang secara tradisi masih kental dan masih sudah untuk diinfiltrasi religiusitasnya, juga disebut zona tidak nyaman? Atau mungkin KKN dengan teman yang jauh lebih ‘senior’ dan gaul dibanding saya, itu tidak nyaman? Continue reading “Berterima Kasih Pada Zona Tidak Nyaman”

Advertisements